Acha Septriasa Soal Coblosan yang Kisruh di Sydney

15 Apr 2019 20:00 Selebriti

Artis Acha Septriasa menjadi salah satu selebriti yang menggunakan hak pilihnya di negeri orang. Seperti diketahui, Acha Septriasa sejak menikahi Vicky Kharisma, pada 11 Desember 2016, berdomisi di Sydney, Australia.

Acha Septriasa dan suami pamer kelingking tangan kanannya yang sudah bertinta, sebagai tanda dirinya sudah memberikan suara untuk memilih pemimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Acha Septriasa dan suami melakukan pencoblosan di TPS 10, 11, dan 12 di Marrickvile, Sydney, pada Sabtu 13 April 2019.

Pemilik nama asli Jelita Septriasa ini sangat menyayangkan kisruh WNI yang kehilangan suaranya akibat membludaknya calon pemilih. Acha Septriasa mengatakan Town Hall dan KJRI menjadi sasaran bagi WNI untuk mencoblos. Namun banyak yang tidak mengakses link terlebih dahulu untuk pendaftaran mencoblos di KJRI Sydney.

Namun, menurut Acha Septriasa, banyak pemilih yang tidak mengakses lagi daftar namanya di website KJRI untuk daftar ulang. Sehingga pemilih yang tadinya masuk dalam kategori daftar pemilih tetap (DPT) menjadi tidak terdaftar. (yas)

View this post on Instagram

Trudy Hasta Taftiana dan teman- teman yang ada di foto ini, mungkin mereka sedang merasa sedih krn sebagai WNI yang ber hak memilih dan sedang berada di luar Negeri , sebagai visitors, pendatang sementara, students, Permanent Resident baru, atau pun temporary resident , mereka BELUM menggunakan HAK PILIH nya. Dikarenakan Pintu di tutup jam 18.00 tepat, Menurut Informasi yang saya dapat, banyak dari mereka yang seharusnya sudah menjadi DPT tapi mungkin ketika di search di website KJRI resmi nama nya jadi Tidak bisa di temukan. Akhirnya mereka banyak yang pindah TPS. Turut menyayangkan bahwa banyak sekali teman- teman kita yang menunggu 5 tahun untuk memilih , bahkan mereka ada juga yang sudah memutuskan pilihan untuk TIDAK GOLPUT tp di batasi dengan JAM pemilih Khusus yang hanya 1 JAM sblm pencoblosan berakhir . Saya sendiri permanent resident di Sydney, Tp karena takut kehilangan hak pilih , saya datang jam 8 pagi ke Town Hall untuk mencoblos, masih blm terlalu crowded , ada 4 TPS panitia di sana juga dengan jelas mengInformasikan pd saya bahwa DPLNK ( khusus) yang telat mendaftar ulang ( pendaftaran berakhir 8 maret -13 maret 2019 )seperti saya boleh memilih dan datang lebih awal dr jam 17.00 supaya menghindari antrian yang membludak. Saya pindah TPS akhirnya ke Marrickville , disitu saya mencoblos di TPS 10, datang lebih awal jam 3.30 sore, traffic nya gak terlalu padat seperti di town hall dan KJRI , banyak pemilih Tetap yang entah mengapa terdaftar di panjang nya lists calon pemilih, tp NIHIL kedatangan nya di jam 3.30 sampe jam 5 sore. Guys, apapun itu.. tetap berpegang teguh pada Indonesia, yakin kalau keadaan ini pasti ada hikmah nya, dan jangan memperkeruh suasana dengan upaya2 prasangka. Mungkin Informasi yang kita akses sedemikian rupa dr Tim penyelenggara Pemilu Luar Negeri Sydney di website KJRI masih minim, namun Gak bisa di pungkiri Kejelasan sebagai peserta pemilih juga KURANG di Gaung kan ke seluruh masyarakat di Sydney dengan bebas di platform terbuka. Dan panitia seperti kewalahan menyambut pemilih yang datang dr segala penjuru NSW. Bagaimana @bawasluri @kpu_ri dan @kjrisydney menyikapi hal ini ?

A post shared by Acha Septriasa (@septriasaacha) on

Penulis : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini