Ilustrasi: Fa Vidi/Ngopibareng.id)

7 Keutamaan Puasa Ramadhan, Sungguh Menakjubkan

Islam Sehari-hari 21 April 2020 05:49 WIB

Sebelum menjalani hari-hari penuh berkah di bulan Ramadhan, ada baikya kita mengenal keutamaan puasa. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga semata.

Dalam buku Sukses Ibadah Ramadhan, disusun Ustadz Muhammad Ma'ruf Khozin, diterbitkan Aswaja NU Center Jawa Timur dan Pengurus Pusat Lembaga Ta'lif wa Nasyr (LTN) PBNU, memberikan gambaran tentang keindahan puasa.

Ada tujuh keutamaan puasa, berikut:

1. Puasa adalah jalan meraih takwa

Allah Swt berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

2. Puasa adalah penghalang dari siksa neraka

Dari Jabir bin ‘Abdillah Ra; Rasulullah Saw bersabda,”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka.”

3. Amalan puasa akan memberikan syafaat pada hari kiamat kelak

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr h; Rasulullah g bersabda, ”Puasa dan Al-Quran itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak. Puasa akan berkata, ’Wahai Rabbku, aku telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat. Karenanya, perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya.’ Al-Quran pun berkata, ’Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Beliau bersabda, ’Maka syafaat keduanya diperkenankan.’“

4. Orang yang berpuasa akan mendapatkan pengampunan dosa

Dari Abu Hurairah RA; Rasulullah Saw bersabda, ”Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya pada masa lalu akan diampuni.”
(HR. Bukhari, no. 38 dan Muslim, no. 760).

5. Puasa menjadi pengekang syahwat

Dari Ibnu Mas’ud RA; Rasulullah SAW bersabda, Wahai para pemuda, barang siapa yang memiliki baa-ah8 maka menikahlah, karena itu akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.”

*) Syabab (pemuda) menurut ulama Syafi’iyah adalah yang telah baligh namun belum melampaui usia 30 tahun. (Syarah Shahih Muslim,
9:154).

*) Imam Nawawi berkata, tentang makna baa-ah dalam hadits di atas terdapat dua pendapat di antara para ulama, namun intinya kembali kepada satu makna, yaitu sudah memiliki kemampuan finansial untuk menikah. Jadi, bukan hanya mampu ber-jima’ (bersetubuh), tapi hendaklah punya kemampuan finansial lalu menikah. Para ulama berkata, “Barang siapa yang tidak mampu ber-jima’ karena ketidakmampuannya untuk memberi nafkah finansial, maka hendaklah ia berpuasa untuk mengekang syahwatnya.” (HR. Bukhari, no. 5065 dan Muslim, no. 1400)

6. Pintu surga Ar-Rayyan bagi orang yang berpuasa

Dari Sahl bin Sa’ad dari Nabi Saw; beliau bersabda, "Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut ‹Ar-Rayyan›. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Orang yang berpuasa akan diseru, ‘Mana orang yang berpuasa?’
Lantas mereka pun berdiri; selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, pintu itu akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya.” (11 HR. Bukhari, no. 1896 dan Muslim, no. 1152)

Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Ar-Rayyan dengan mem-fathah-kan huruf ra’ dan men-tasydid huruf ya’, mengikuti wazan fi’il (kata kerja) dari kata ‘ar-riyy’ yang maksudnya adalah nama salah satu pintu di surga yang hanya dikhususkan untuk orang yang berpuasa. Dari sisi lafal dan makna ada kaitannya karena kata ar-rayyan adalah turunan dari kata ar-riyy yang artinya bersesuaian dengan keadaan orang yang berpuasa. Orang yang berpuasa kelak akan memasuki pintu tersebut dan tidak pernah merasakan haus lagi.” (Fathul Bari, 4:131)

7. Orang yang berpuasa memiliki waktu mustajab (terkabulnya doa)

Dari Abu Hurairah; Nabi Saw bersabda, “Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad, 2:305). Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya.

Demikian semoga bermanfaat. Amin.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

14 Aug 2020 09:58 WIB

Jangan Lupa, Sore Ini Pengumuman SBMPTN

Pendidikan

Peserta yang lolos SBMPTN diminta mencermati informasi perguruan tinggi.

14 Aug 2020 09:46 WIB

Ini Keistimewaan Sidang Tahunan MPR di Tengah Pandemi Covid-19

Nasional

Sidang tahunan MPR kali ini hanya diikuti separoh dari anggota MPR.

14 Aug 2020 09:18 WIB

Episode Terakhir The K2: Cloud Nine Diledakkan Sung Won

ngopiK-pop

Pertikaian Yoo Jin dan Sung Won berujung peledakan Cloud Nine.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...