3 Konteks Islam Agama Peradaban, Begini Penjelasan Haedar Nashir

13 May 2019 07:56 Oase

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengingatkan, warga Muhammadiyah mempunyai konteks sejarah ketika Islam dalam perjuangan Rasulullah menghasilkan din al-tanwir, dari masyarakat jahiliah menjadi masyarakat madinah al-munawwarah (kota peradaban yang tercerahkan), disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai takhrij min al-dzulumat ila al-nur (mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya).

“Dari jahiliah menjadi bangsa yang berperadaban, dari bangsa yang berniaga secara ribawi menjadi berniaga secara halalan thayyiban, dari masyarakat yang bercerai berai menjadi bangsa yang bersatu,” tutur Haedar Nashir, dalam keterangan diterima ngopibareng.id, Minggu 12 Mei 2019.

Tidak hanya itu, Nabi berhasil mengubah pandangan tentang status sosial, bahwa kemuliaan manusia ditentukan oleh faktor takwa, bukan karena alasan kesukuan. Dari sini muncul kemajuan peradaban Islam hingga berabad lamanya.

"Pencerahan di Barat lahir dari rasa terbelenggu menuju rasionalisme yang melahirkan gerakan humanisme sekuler. Lalu, agama dianggap sebagai masa lampau dan ditinggalkan, beralih ke ilmu pengetahuan secara ekstrem."

“Jadi sesungguhnya kita punya sejarah peradaban yang lengkap dan besar, agar tidak melahirkan pribadi yang miopik, yang mengerangkeng diri. Mentalitas ini penting agar kita menjadi khairu ummah yang bisa hidup di zaman baru,” ungkapnya, dalam Pengajian Ramadan 1440 H PP Muhammadiyah pada Kamis 9 Mei di Aula Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Haedar menyatakan, konteks pencerahan yang diusung Muhammadiyah berbeda dengan pencerahan yang berkembang di Barat. Eropa pernah mengalami masa kelam ketika gereja memasung kemajuan yang dinamakan era kegelapan, semangat perlawanan pada otoritas agama ini melahirkan aufklarung.

Pencerahan di Barat lahir dari rasa terbelenggu menuju rasionalisme yang melahirkan gerakan humanisme sekuler. Lalu, agama dianggap sebagai masa lampau dan ditinggalkan, beralih ke ilmu pengetahuan secara ekstrem.

Pencerahan yang terjadi di Barat masih menyisakan masalah dan meluruhkan aspek ketuhanan. Kiai Dahlan mengambil metode dari Barat, namun mengkontekstualisasikan dengan rujukan Al-Quran dan Sunnah.

Deliar Noer melihat gerakan Islam modern ini mengambil peran penting dalam pembaharuan pemikiran di Indonesia. Charles Kruzman sampai menyebut Kiai Dahlan sebagai pelopor Islam liberal.

Dalam perkembangan mutakhir menjelang reformasi, Haedar melihat gejala tumbuhnya neomodernisme dan neotradisionalisme. Peta dan arus gerakan pemikiran berubah, neotradisionalisme menguasai khazanah tradisi atau turas dan mulai berani berpikir maju yang melampaui kaum modernis. Sementara neomodernisme justru gagap membaca realita dan menjadi kaku, serta mengalami kemandekan dalam pemikiran.

Sisi lain, agenda pencerahan menjadi penting karena masyarakat hari ini mengalami euforia, semangat, dan kerinduan pada agama. Masyarakat haus akan nilai-nilai agama yang meneguhkan.

“Bisakah kita lebih maju lagi dalam menjawab kebutuhan umat yang kembali ke agama yang memberi keteduhan dan sekaligus memberi kepastian atau pencerahan dalam menghadapi masa depan. Dalam konteks ini, kita membutuhkan api pencerahan Kiai Dahlan,” kata Haedar Nashir (adi)

Reporter/Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini