3 Kelompok Islam Eksklusif Merebak di 8 PTN, Cenderung Radikal

23 May 2019 23:29 Oase

Kelompok Islam yang bergerak secara eksklusif berkembang pesat di delapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Dikhawatirkan pergerakan ini akan menumbuhkan radikalisme di kalangan mahasiswa.

Mereka terbagi dalam tiga kelompok Islam. Seperti Salafi, Tarbiyah dan Hizbut Tahrir. Kelompok Hizbut Tahrir itulah yang cenderung bergerak secara eksklusif.

"Ada kontradiksi, kampus harusnya mengembangkan pemikiran kritis, sedangkan Islam eksklusif cenderung doktriner, tertutup. Bagaimana bisa mereka berkembang di kampus?" kata Naeni Amanulloh, penelitu Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta, dalam diskusi 'Islam Eksklusif Transnasional Merebak di Kampus Negeri' di Aula FISIP UNS Surakarta, Kamis 23 Mei 2019.

Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta menyebutkan 8 PTN. Yakni, Universitas Negeri Surakarta (UNS), IAIN Surakarta, Undip Semarang, Unnes Semarang, UGM Yogyakarta, UNY Yogyakarta, Unsoed Purwokerto, IAIN Purwokerto.

Peneliti dari LPPM UNUSIA, Naeni Amanulloh menilai, pandangan tersebut tidak kompatibel dengan Pancasila yang telah disepakati menjadi dasar negara Indonesia. Kelompok itu dinilai bisa masuk ke ranah radikalisme ideologi.

"Mereka memiliki pandangan khilafah, syariatisasi kehidupan publik, sedikit tidak mau menerima perbedaan. Selama ini ada isu yang mengarah ke radikalisme, seperti saat HTI dibubarkan mereka bergerak, saat pelarangan bendera ISIS, mereka menunjukkan simpati," ujar dia.

Menurutnya, pejabat kampus seharusnya berani mengambil sikap dalam mengatur kehidupan keagamaan kampus. Jangan sampai kelompok tersebut semakin bebas berkembang.

"Harus ada pemimpin yang berani. Kampus harus dibangun dengan tradisi akademis yang lebih kuat. Tapi tetap tidak boleh melanggar kebebasan akademik. Pemimpin kampus harus memiliki wawasan scientist clear," tuturnya.

Sebelumnya, acara diskusi publik hasil kerja sama Prodi Ilmu Politik Unsoed dan LPPM Univeritas Nahdlatlul Ulama Indonesia (Unisia) di Hotel Aston Purwokerto, Selasa 21 Mei 2019, mengungkap hasil penelitian serupa. (adi)

Reporter/Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini