25 Tahun Geliat Jalur Pantai Selatan Jateng

30 Dec 2019 09:17 Feature

Asyik juga menyaksikan perubahan daerah dari tahun ke tahun. Ini yang saya alami dengan jalur pantai selatan Jawa Tengah. Jalur ini merupakan agenda rutin tahunan yang saya lewati setiap liburan Natal dan Tahun Baru atau libur Lebaran.
 
Kok bisa? Ya. Saya dan keluarga selalu rutin mengunjungi rumah mertua. Yang asli Purwokerto. Yang tinggal di jalan Ragasemangsang. Hanya beberapa depa dari Alun-Alun Purwokerto dan Pendapa Kabupaten Banyumas.
 
Ini rute perjalanan liburan yang ajeg setiap tahun: Surabaya-Jogjakarta-Purwokerto. Baliknya bisa kembali lewat Jogjakarta atau melalui Semarang-Rembang-Surabaya. Mulai dengan menggunakan mobil pinjaman sampai dengan mobil nyaman.
 
Ketika orang tua masih hidup semua, sebelum ke Purwokerto selalu mampir Blitar. Lalu mengikuti jalur pantai selatan Jatim sampai dengan Jawa Tengah. Surabaya-Blitar-Pacitan-Wonogiri-Jogjakarta-Purwokerto. Atau sebaliknya. Seperti trayek angkutan umum.
 
Saya selalu menikmati perjalanan liburan lebaran maupun akhir tahun. Selalu bersama dengan istri dan anak. Demikian juga ketika empat anak keluar dari rahim istri saya. Sejak bayi sampai dengan dewasa.
 
Dulu seringkali perjalanan menggunakan jasa sopir. Baik sopir pocokan atau sopir tetap. Namun, begitu anak-anak mulai bisa mengemudikan mobil, perjalanan liburan selalu dilakukan mandiri tanpa sopir. Bergantian pegang kemudi.
 
Mengapa tanpa sopir? Karena total keluarga yang mesti ikut perjalanan 6 orang. Saya, istri dan 4 anak. Ketika menginjak besar, Begitu mulai besar, mereka nggak mau berdesakan dengan ada satu kursi berisi 3 orang. Selalu ada pertengkaran kecil yang menyertainya. Sejak itu, sopir ''dipecat'' secara tidak permanen setiap liburan.
 
Asyik...
 
Di perjalanan itulah saya manfaatkan untuk menginternalisasi nilai-nilai kepada anak-anak. Kebetulan saya bukan tipe orang tua yang suka memerintah dan menasehati. Meskipun kepada anak. Saya cenderung memberikan contoh atau bercerita tentang hal-hal baik kepada mereka.
 
Selama perjalanan, perdebatan seringkali terjadi. Beberapa kali sampai dengan pertengkaran. Namun, di perjalanan itu, kelucuan-kelucuan juga mencuat ke permukaan. Sejak mereka kecil sampai dewasa.
 
Tema pembicaraan dalam mobil selama perjalanan terus berkembang. Ketika sudah mulai dewasa, perbincangan tak selalu tentang keluarga. Tapi mulai tentanv pengalaman mereka masing-masing. Juga soal politik, masalah sosial, dan hiburan. Apalagi setelah beberapa a sudah kuliah.
 
Kembali ke soal Pansela --demikian jalur pantai selatan biasa disingkat. Saya hampir setiap tahun menyusuri jalur itu mulai dengan suasana yang masih gelap dan sepi. Jalannya masih sempit dan bergelombang. Beberapa ruas masih belum diaspal.
 
Itulah jalur Pansela mulai dari perbatasan Jogjakarta-Purworejo sampai Kebumen. Melewati desa Ambal yang terkenal dengan sate ayam Ambalnya. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu masih banyak rumah kuno dan reot.
 
Sekarang malah ada jalur baru Pansela. Di Kebumen bisa leawt jalur baru di pinggir pantai, bisa melalui jalur alternatif lama lewat Ambal. Jalur baru maupun lama bisa sampai petanahan. Jalur baru itu kelak akan sampai Cilacap dan seterusnya.
 
Kini disepanjang jalur pansela tak lagi takut kehabisan bensin maupun kelaparan. Pertamini ada di setiap ruas jalan. Di sepanjang jalan bertumbuhan tempat makan baru. Mulai dari warung bakso dan mie yang bertebaran sampai tempat makan besar yang bisa menampung rombongan.
 
Betapa asyiknya jika Pansela sudah tembis dari ujung kulon Jawa Barat sampai Banyuwangi. Pasti tak hanya akan tumbuh ekonomi rakyat. Secara alamiah. Tanpa harus didorong-dorong untuk tumbuh. Begitu infrastruktur dibangun, di situ ekonomi menggeliat.
 
Jalur ritual mudik saya ke mertua contoh yang nyata. Sejak 25 tahun lalu, setiap tahun saya menyaksikan perkembangannya. Mulai dari rumah sepanjang jalan, sampai dengan warung yang bermunculan. (Arif Afandi)
Penulis : Arif Afandi


Bagikan artikel ini