Kiai Yasin Asymuni. (Foto: nu for ngopibareng.id)

2 Alasan Wahabi Anti-Ziarah Kubur, Ini Penjelasan Kiai Pesantren

Islam Sehari-hari 09 April 2019 03:30 WIB

Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Petuk, Kediri, KH Ahmad Yasin Asymuni mengungkapkan salah satu alasan kaum Wahabi memiliki pandangan anti-ziarah kubur.

Pertama, mereka gencar untuk menjauhkan amalan sunah Nabi ini dengan mempropaganda dengan berbagai cara dan selalu menanyakan dalil-dalil alasan menjalankan ibadah Ahlussunnah waljama'ah.

Menurut Kiai Yasin, hal ini dilakukan bukan karena motif atau masalah hukum semata. Namun ini merupakan strategi politik untuk menyebarkan paham mereka dan menghilangkan paham lainnya.

Kedua, ada motif politik.

"Ada sejarah yang membuktikan kalau ada motif siyasah (politik). Ketika terjadi konflik di Jabal Qubais, Wahabi tidak bisa mengalahkan para ulama Aswaja. Setelah diteliti ternyata ulama Aswaja sakti karena sering melakukan amaliah ziarah ke makam para orang shaleh," ungkapnya Kiai Asymuni pada Dialog Aswaja dalam rangka Harlah Ke-96 NU di Kantor NU Pringsewu, Lampung, Ahad 8 April 2019 malam.

Maka, menurutnya, tak heran jika sampai dengan sekarang, Wahabi sangat masif melakukan upaya untuk terus menanamkan keraguan dan menjauhkan warga NU dari amaliah Aswaja.

Dengan bebagai dalil dan cara, Wahabi menyebarkan paham seolah membela agama dan menjalankan syariat namun memiliki motif lain didalamnya. Jikapun dilakukan dialog tentang dalil yang mereka miliki maka sulit untuk meluruskannya karena yang dicari memang bukan kebenaran, tapi ingin untuk dibenarkan.

"Padahal belum ada paham yang bisa menggabungkan antara fikih, aqidah, dan tasawuf kecuali paham Ahlussunnah wal Jama'ah," tegas Mushohih LBM pondok pesantren se-Jawa dan Madura ini.

Oleh karenanya ia mengingatkan warga NU untuk senantiasa yakin dan tegus dalam meyakini dan mengamalkan amaliah Aswaja yang di Indonesia hanya dimiliki oleh NU. Saat ini menurutnya sudah ada yang mengaku Aswaja namun hanya merupakan kamuflase untuk menarik warga NU.

"Maka saya tidak setuju kalau Aswaja ditambahi dengan An-Nahdliyah. Karena satu-satunya Aswaja di Indonesia adalah NU. Kalau ditambahi menjadi Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah berarti mengakui kelompok yang mengaku Aswaja," katanya.

Kondisi dan situasi seperti ini harus diketahui dan dipahami oleh warga NU yang sejak dari awal berdirinya sudah berprinsip kepada Ahlussunnah wal Jama'ah. Warga NU harus kuat menghadapu kelompok-kelompok Islam transnasional yang merupakan warisan dari paham Mu'tazilah. (adi/nuo)

"Dengan bebagai dalil dan cara, Wahabi menyebarkan paham seolah membela agama dan menjalankan syariat namun memiliki motif lain didalamnya. Jikapun dilakukan dialog tentang dalil yang mereka miliki maka sulit untuk meluruskannya karena yang dicari memang bukan kebenaran, tapi ingin untuk dibenarkan."

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

26 Feb 2020 03:45 WIB

Empat Amalan Terindah Bulan Rajab, Anjuran Ulama Pesantren

Islam Sehari-hari

Amalan istighfar bisa mengangkat kesusahan

26 Feb 2020 03:11 WIB

Hamil Tanpa Setubuh, Mungkinkah? Ini Pesan Ulama Pesantren

Islam Sehari-hari

Penjelasan dari perspektif Fikih Klasik

25 Feb 2020 06:36 WIB

Dedengkot Wahabi Terkejut, Kisah Pertemuan dengan Ulama Pesantren

Khazanah

Gus Dur dan Bin Baz bertemu di Arab Saudi

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.