15 Desa di Boyolali Krisis Air Bersih

15 Aug 2018 18:35 Nasional

Sebanyak 15 dari 18 desa di Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah mengalami krisis air bersih pada kemarau saat ini sehingga warga mengajukan permintaan bantuan air bersih.
     
Sekretaris Camat Wonosegoro Sujiyo di Boyolali, Rabu 15 Agustus, mengatakan dari hasil pemetaan ada 15 dari 18 desa di Wonosegoro yang mengalami kekeringan setiap musim kemarau.
     
Dia mengatakan 15 desa itu yakni Garangan, Bojong,  Bengle, Bercak, Gosono, Gunungsari, Kalinanas, Dilirejo, Ketoyan, Bandung, Banyusari, Wonosegoro, Repaking, Kedung Pilang, dan Jatilawang.  
     
"15 desa ini, sudah mengajukan surat permintaan droping air bersih ke kantor kecamatan hingga saat ini," kata Sujiyo.
     
Ia mengatakan empat di antara 15 desa sebagai terparah krisis air bersih, yakni Garangan, Bojong, Bengle, dan Bercak. Pengiriman bantuan air bersih kepada masyarakat di empat desa itu masih berlangsung hingga sekarang.
     
Dia mengatakan bantuan air bersih datang dari berbagai instansi, antara lain BPBD Boyolali, PMI, polres, dan instansi lainnya, baik swasta maupun BUMD/BUMN.
     
Bahkan, katanya, bantuan air bersih untuk warga Desa Bojong diserahkan langsung oleh Kepala Polres Boyolali AKBP Aries Andhi kepada masyarakat beberapa waktu lalu.

Warga dengan membawa tempat tampungan air langsung melakukan antrean untuk mendapatkan air bersih.
     
"Bantuan droping air bersih yang sudah masuk ke Wonosegoro hingga sekarang sudah mencapai puluhan tangki isi 5.000 liter," katanya.  
     
Menyinggung soal upaya pemerintah daerah dalam mengantisipasi bencana kekeringan yang terjkadi setiap tahun, Sujiyo mengatakan sebelumnya telah dilakukan pengeboran sumur dalam di Desa Gunungsari, tetapi gagal karena belum ditemukan airnya.
     
Namun, kata dia, pembuatan lagi sumur dalam untuk mengatasi kelangkaan air bersih di daerah itu belum dilakukan.
     
Bahkan, sejumlah embung juga akan dibangun untuk menampung air hujan guna memenuhi kebutuhan warga atas air, saat musim kemarau.
     
Selain itu, kata dia, warga Wonosegoro yang mayoritas sebagai petani lahan tadah hujan hanya dapat mengerjakan ladangnya saat musim hujan.

Pada musim kemarau seperti saat ini, mereka membiarkan ladangnya mengering dan tidak ditanami apa-apa.
   
Ketika memasuki musim hujan, mereka mengolah ladangnya untuk ditanami palawija.( ar/hs)

Reporter/Penulis : M. Anis


Bagikan artikel ini