Merantau ke Palu, Ini Fakta Ratusan Warga Titik Lamongan

13 Oct 2018 19:40 Jawa Timur

Dari ribuan warga Lamongan yang terdampak gempa bumi dan tsunami di Palu, Sigi dan Donggola, Sulawesi Tengah (Sulteng) sebagian besar merupakan warga Desa Titik, Kecamatan Sekaran. Terdapat sekitar 907 orang warga Desa Titik yang merantau dan membuka usaha di sana.

"Lebih dari separuh warga Titik bekerja di Palu. Sudah puluhan tahun mereka mengadu keberuntungan di sana,"kata Kepala Desa (Kades) Titik Aang Wahyudi.

Tercatat dari sekitar 1200 jiwa jumlah warga sekitar 907 orang yang merantau ke Palu.

Mayoritas warga Desa Titik yang merantau di Palu membuka usaha kuliner. Dari soto, pecel lele hingga tempe penyet. Dari kelas rumah makan hingga warung lesehan.

Kota Palu seakan menjadi lumbung emas bagi warga Titik untuk meraup kesuksesan. Banyaknya warga yang hijrah ke Palu biasanya karena diajak kerabat atau teman yang sebelumnya sudah sukses merintis usaha di sana.

"Biasanya warga menyusul ke Palu sekedar bantu-bantu di warung. Lalu lambat laun setelah punya pengalaman membuka usaha sendiri. Begitu seterusnya," ungkap kades muda ini.

"Lebih dari separuh warga Titik bekerja di Palu. Sudah puluhan tahun mereka mengadu keberuntungan di sana,"kata Kepala Desa Titik Aang Wahyudi.
SISA Sisasisa rumah yang terkena bencana di Palu foto tokngopibarengid
SISA: Sisa-sisa rumah yang terkena bencana di Palu. (foto: tok/ngopibareng.id)

Karena mayoritas warga merantau ke Palu tidak heran jika suasana desa terlihat selalu lengang. Mereka yang berada di desa sebagian besar orang tua lanjut usia atau keluarga petani.

Selama bekerja di Palu banyak warga Titik yang sukses.Kesuksesan tersebut terlihat dari bangunan rumah yang dibangun tembok dan berlantai keramik.bahka tak sedikit yang dibangun berlantai dua.

Saat terjadi gempa dan tsunami di Palu seakan terjadi kiamat bagi warga titik. Keluarga di desa pada kebingungan mencari kabar dan nasib mereka yang berada di Palu.

"Sejak adanya kabar bencana di Palu satu desa langsung gempar karena mayoritas warga tinggal di sana. Sebelumnya tidak ada yang tahu bagaimana nasib korban di palu karena komunikasi terputus, " tambah Aang lagi.

Warga baru bisa mengetahui nasib keluarganya di Palu saat rombongan warga di palu mulai di pulangkan.

"Karena tidak tahu kondisi, keluarga maupun pihak desa tidak bisa menjemput warga dari Palu di Juanda, " tambah Sekretaris Desa (Sekdes) Titik Budi Winarko.

Dari hampir seribu warga Titik yang selamat empat diantaranya meninggal dunia. Mereka adalah Evi Rahmawati (23), Rudi Setiawan (23), Yuliati (35) dan Supatemi (56).

Menurut Sekdes Budi pihak keluarga korban yang meninggal telah mengadakan tahlil dan pengajian mendoakan korban.

Sementara Camat Sekaran Yuli Wahyono menambahkan selain ratusan warga Titik, juga terdapat puluhan warga di Kecamatan Sekaran yang terdampak bencana gempa dan tsunami di Sulteng.

"Puluhan warga lainnya asal dari beberapa desa yaitu Desa Sungegeneng, Latek, Trosono, Besur dan Kudikan," jelas Yuliwahyuono.

Pemkab Lamongan telah memfasilitasi warga yang kembali pulang kedesa.Banyaknya warga yang terdampak di karenakan Kecamatan Sekaran merupakan salah satu kantong warga perantauan di Kabupaten Lamongan.(tok)

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini