Mahasiswa ITS Rancang Beton Dari Limbah Sawit

11 Dec 2018 20:00 Teknologi & Inovasi

Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya merancang beton dengan tingkat fluiditas yang tinggi dan tidak memerlukan alat pemadat, atau dikenal beton Self Compacting Concrete (SCC) dengan memanfaatkan limbah kelapa sawit.

Tim bernama WcFlurry yang beranggotakan Cita Nanda Kusuma Negari, Agus Bastian dan David Gideon memilih Palm Oil Fuel Ash (POFA) sebagai pengganti semen.

Cita Nanda Kusuma, salah satu tim, menjelaskan pemilihan abu pembakaran dari limbah kelapa sawit atau Palm Oil Fuel Ash (POFA) sebagai material pengganti semen, karena selama ini pemanfaatan POFA masih minim dan belum terkelola dengan baik.

Selain itu, POFA menjadi masalah bagi industri kelapa sawit karena memerlukan lahan pembuangan yang luas dan jumlahnya yang terus meningkat. "Jadi, kami ingin mengangkat konsep berkelanjutan dari poin-poin tersebut," jelas mahasiswa Departemen Teknik Sipil ini.

Dalam proses pembuatannya, POFA terlebih dahulu harus disaring sampai lolos ayakan nomor 325. Tujuannya, agar ukuran partikel dapat terkontrol sesuai dengan ukuran semen sehingga bisa reaktif.

"Apabila ukuran partikelnya lebih besar dari ukuran semen, POFA ini hanya akan bekerja sebagai filler atau bahan pengisi, bukan sebagai binder atau pengikat," katanya.

Tim WcFlurry ketika mengolah limbah kelapa sawit menjadi beton SCC
Tim WcFlurry ketika mengolah limbah kelapa sawit menjadi beton SCC.

Lebih lanjut, Cita mengungkapkan jika POFA sebagai substitusi semen memiliki kandungan pozolanik seperti silika, alumina, dan besi yang tinggi. Kandungan tersebut berguna untuk membantu reaksi hidrasi sekunder yang dapat meningkatkan kekuatan beton.

"Pozolannya lebih dari 70 persen sehingga sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI)," ungkapnya.

Diketahui, Beton SCC buatan tim bimbingan Ir Faimun dan Prof Tavio ini juga telah melewati proses uji slump flow, L-Box, dan compressive strength. Uji slump flow dan L-Box ini berfungsi untuk mengetahui kelecakan (workability) dari campuran beton segar guna menentukkan tingkat kemampuan kerjanya. Sedangkan compressive strength atau uji tekan berfungsi untuk menguji kekuatan materialnya.

Dari hasil uji slump flow-nya menunjukkan nilai 685 milimeter, sehingga lolos standar The European Federation of Specialist Construction Chemicals and Concrete Systems (EFNARC) sebesar 500 milimeter. Sedangkan untuk compressive strength-nya mendapat nilai rata-rata 26 megapascal.

Dengan hasil inovasinya tersebut, tim ini pun telah berhasil menyabet juara ketiga dalam ajang International Concrete Competition (ICC) 2018 di Universitas Sebelas Maret (UNS), beberapa waktu lalu.

"Harapan ke depannya semoga lebih maksimal lagi pada kompetisi selanjutnya," pungkas Cita. (amm)

Reporter/Penulis : Amanah Nur Asiah
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini