Kisah dari Krucil Awalnya Mati Suri, Kini Punya 300 Ton Susu per Hari

19 Sep 2018 17:50 Feature

Dunia memang selalu bolak-balik. Seperti datang dan pergi. Seperti siang dan malam. Di Krucil, Probolinggo,peternak sapi perah mengalami seperti itu. Awalnya para peternak itu seperti mati suri, tapi kini panen puja dan puji karena mampu memnghasilkan 300 ton susu per hari.

____________

Lukisan itu jelas profil seekor sapi. Buesar dan benthung (baca: kekar, red). Lukisan sapi itu dipajang di ruang utama sebuah kantor. KUD Argopuro namanya. Berada di wilayah, Kabupaten Probolinggo.

Lukisan sapi benthung itu berada di sana tentu bukan tanpa sengaja. Melainkan memang sudah direncanakan (ada) di dalam ruangan tersebut.

Pecinta lukisan atau bukan, mengerti estetika lukisannya atau tidak, tak jadi masalah yang berarti. Sebab berada di ruang itu pasti tidak akan membicarakan lukisan. Tetapi membicarakan obyek lukis yang menjadi andalan bisnis KUD Argopuro. Yaitu sapi perah.

Pelambang sapi yang besar, gemuk, dan sehat itu sejatinya adalah harapan semua anggota KUD Argopura yang jumlahnya mencapi dua ribu orang petenak. Sejumlah 1700-an yang tercatat menjadi aggota aktif sedang sisanya adalah anggota pasif.

Anggota aktif adalah yang mempunyai hubungan transaksi tiap hari dengan KUD Argopuro. Sementara yang pasif sebenarnya merupakan calon anggota. Mereka berhubungan dengan KUD tapi tidak mentansaksikan susunya ke KUD.

Paling banter mereka hanya berhubungan soal pakan ternak, obat-obatan dan peralatan-peralatan lain untuk perawatan ternak.

Harapan ribuan peternak di Desa Krucil, Kecamatan Krucil, boleh dikata sundul langit. Alias ekspektasi tinggi. Bahkan Suloso–Manejer KUD Argopuro-menamainya sebagai republik mimpi.

Harapan dan mimpi itu adalah sapi-sapi perah di Krucil diproyeksikan menembus angka 300 ton susu segar per hari dalam lima tahun ke depan. Progres baik yang berhasil dilewati tahun-tahun belakangan ini membuat mereka optimis mampu melampauinya.

FotoKrucilblog
Foto:Krucilblog

Manajemen Gagal

Target besar memang ngotot dipasang. Menurut Suloso itu juga sudah menjadi bagian dari komitmen peternak bersama pengurus KUD.

“Kita ingin menunjukkan bahwa peternak kita mau maju. Memiliki progres yang bisa diandalkan. Juga tidak cepat puas dengan capaian-capaian yang sudah ada sekarang. Sebab, tantangan produksi susu ke depan tentu juga akan lebih sulit daripada yang ada sekarang,” terang Suloso.

Bahu membahu  antar anggota dan pengurus KUD itu memang memunculkan semangat tersendiri. Sebab mereka selalu ingat dulunya mereka adalah peternak yang gagal. Kegagalan masa lampau itulah yang membuat mereka akan menebusnya sampai kapan pun.

KUD Argopuro, terang Suloso, berdiri tahun 1981. Kala itu masih bernama BUUD dan seiiring dengan kebijakan lalu berganti nama menjadi KUD. Tahun itu digelontor fasilitas sapi perah oleh Pemerintahan Orde Baru. Namanya Banpres. Bantuan Presiden. Kecamatan Krucil mendapatkan 600 ekor sapi perah. Bantuan turun dalam tiga tahap. Masing-masing  200 ekor per tahapnya.

“Dalam perjalanannya,  bantuan sapi perah dari pemerintah yang sangat baik itu direspon dengan sangat baik oleh masyarakat. Namun, apa yang diinginkan pemerintah tidak semulus yang diharapkan. Sapi perah yang diprioritaskan untuk mengeluarkan susu banyak tidak tercapai dengan baik. Coba bayangkan, berapa duit yang dikeluarkan pemerintah yang sangat baik tadi untuk 600 ekor sapi. Tentu saat itu jumlah sudah bermiliar-miliar,” kata Suloso.

FotoIstimewa
Foto:Istimewa

Baru ketahuan, harapan pemerintah tidak tercapai lantaran kendala skill di tingkat peternak. Mereka belum memadai menjadi peternak sapi. Peternak di Krucil ternyata hanya terbiasa dengan sapi potong dan sapi karapan. Padahal sapi perah manajemen pemeliharaanya jauh berbeda dengan yang biasa mereka lakoni.

Dari 600 ekor sapi produksi yang dihasilkan paling tinggi hanya 1500 liter. Padahal idealnya harusnya muncul rata-rata 6000 liter per hari. Jadi, bantuan ini tidak berkembang. Malah boleh dikata sebagai penurunan.

Bantuan itu datang begitu saja. Sementara masyarakat belum dibekali skill memadai. Manjemen yang memadai juga belum. Sudah pasti produktivitas tidak berkembang. Jarak anak-beranak sampai 2 tahun lebih padahal idealnya 13 bulan sudah harus beranak.

“Lalu tahun 1993 mulai kita mencoba kembali evaluasi kenapa dengan potensi wilayah yang bagus seperti ini kok hasil tidak bagus. Lalu bertemulah  kita dengan para ahli reproduksi dan mitra yaitu raksasa susu: Nestle,” kenang Suloso.

Fotoidingopibarengid
Foto:idi/ngopibareng.id

Pimpinan Nestle di bidang agriservis saat itu mengatakan sangat eman-eman dengan kenyataan ini. Potensi alam sangat mendukung, lebih eman lagi kalau tidak dimaksimalkan. Lalu bersama-sama dievaluasi. Motivasi semua pihak, mitra kerja, pemerintah, peternak akhirnya dapat skill dari pengalaman gagal tersebut. Lalu mulai bangkit.

Masalah pertama ternyata calving interval, jarak beranak terlalu panjang. Yang kedua ternak kurang diberi makanan yang baik juga nutrisi yang baik. Yang tidak bisa beranak segera diperiksa ahli reproduksi. Kalau ada kelainan diobati. Dari sinilah mulai ada harapan dan harapan tersebut didukung oleh Nestle. Ini menjadi kepercayaan luar biasa dari anggota. Dengan percaya diri mulailah peternak, pengurus, karyawan termotivasi mengembangkan KUD.

Tahun 1993 mulai ada pertumbuhan. Tahun-ke tahun berikutnya meningkat terus. Tahun 1997 mulai dipercaya perbankan. BNI mengucurkan dana 887 juta rupiah. Padahal sebelumnya sapi yang jumlahnya 600 ekor itu hanya tertingal 90 ekor. Mati banyak.

Dengan batuan para ahli reproduksi sapi akhirnya sapi gampang berahi. Juga gampang bunting. Sapi yang sudah gemuk-gemuk akhirnya juga beranak. Dari tinggal 90 ekor beranak menjadi dua  kali lipatnya. Produksi susu pulih menjadi 1500 liter  per hari. Lalu naik menjadi 4000 liter.

Pada tahun 2005 produski mampu tembus 15 ribu liter dengan populasi sapi 1500 ekor. Sementara totalnya dengan sapi anakan sekitar 2000 ekor. Progres ini  membuat pengurus makin percaya diri untuk berpromosi.

Bahwa, sapi perah lebih menguntungkan daripada sapi potong yang notabene sapi Madura itu. Selain dapat susu, turunan jantan bisa jadi sapi pedaging.

“Kita membuat program revolusi putih di desa-desa. Masyarakat akhirnya mencoba mengganti sapinya. Kredit sapi dari KUD pun diberikan untuk mempermudah jalannya revolusi tersebut.”

Krucil Argopura kini ramai kini jadi bintang Foto Istimewa
Krucil Argopura, kini ramai, kini jadi bintang. (Foto: Istimewa)

Dengan 9 pos penampungan susu yang ada, volume uang yang berputar mencapai 3 miliar per bulan. Padahalnya sebelumnya cukup mengenaskan, dulu hanya mempunyai 3 pos penampungan. Jumlah pos tersebut sekarang cukup mumpuni walau masih perlu ditambah lagi. Sebab populasi sapi sudah berada di kisaran 4.600 ekor. Sementara untuk investasi membangun penampungan susu per unitnya mencapai 500 juta rupiah.

Core business KUD Argopuro adalah susu. Jadi perputaran susu itulah yang menjadi fokus. Sementara bisnis pakan ternaknya, meski sudah mampu membangun pabrik sendiri, adalah bisnis penunjang. Pabrik pakan yang dibangun sesuai dengan kebutuhan sapi tersebut cukup terealisai, yaitu 600 ton per bulan. Pabrik tersebut untuk kebutuhan anggota dan non anggota. Sementara volume penjualannya mencapai 1,6 miliar per bulan.

Penunjang lain untuk kebutuhan anggota adalah pengadaan beras. Tiap bulan beras yang terjual ke anggota mencapai 25 ton. Selain beras juga menyediakan sarana-sarana untuk perawatan sapi perah. Anggota tinggal mengambil kebutuhannya dan dibayar dengan susu. “Ambil saja, baru potong susu kemudian.”

Jumlah peternak yang besar membuat KUD Argopuro juga realistis. Banyak karyawan yang harus dipekerjakan. Saat ini tak kurang dari 55 karyawan untuk mengurus operasional KUD. Itu tidak termasuk 70 puluhan PPL yang dikaryakan secara swakarsa. PPL swakarsa tersebut bekerjanya adalah divisi pelayanan sapi perah, dokter sapi, petugas inseminasi buatan yang kerjanya tur dari kandang ke kandang.

Untuk simpan pinjam berjalan lancar meski harus menggunakan prinsip kehati-hatian. Simpan pinjam hanya melayani anggota saja dan sifatnya adalah bisnis penunjang.

“Volume perputarannya hanya 100 jutaan. Kecil saja, tapi selamat, karena ini sifatnya adalah penunjang. Ndak apa-apa kecil asal aman. Sebenarnya potensi simpan pinjam ini besar. Masyarakat di sini adalah beternak, petani dan pedagang. Yang petani adalah potensi besar. Tapi kita belum menggarapnya serius. Sebab kita masih ragu dengan fluktuasi harga panen yang tidak bisa jadi jaminan,” kata Suloso dengan kepemilikan 41 sapi perah. Dari jumlah itu perhari tak kurang 350 liter susu dihasilkan. widikamidi

Penulis : Widi Kamidi
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini