Mengenal Tokoh Sosiologi Auguste Comte, Jadi Jembatan Rasionalisme

Mengenal Tokoh Sosiologi Auguste Comte, Jadi Jembatan Rasionalisme

DITULIS USER

Suci Ramadhaningtyas
ngopiNEWS 14 Mar 2017 WIB

     Dijuluki sebagai Bapak Sosiologi, Auguste Comte yang memiliki nama panjang Isidore Marie Auguste François Xavier Comte; lahir di Montpellier, Perancis, 17 Januari 1798 – meninggal di Paris, Perancis, 5 September 1857 pada umur 59 tahun adalah seorang filsuf Perancis yang dikenal karena memperkenalkan bidang ilmu sosiologi serta aliran positivisme.
     Ia dikenal lewat pemikiran prinsip positivisme, Comte membangun dasar yang digunakan oleh akademisi saat ini yaitu pengaplikasian metode ilmiah dalam ilmu sosial sebagai sarana dalam memperoleh kebenaran. Comte lahir di Montpellier, sebuah kota kecil di bagian barat daya dari negara Perancis. Setelah bersekolah disana, ia melanjutkan pendidikannya di École Polytechnique di Paris. École Polytechnique saat itu terkenal dengan kesetiaannya kepada idealis republikanisme dan filosofi proses. Pada tahun 1816, politeknik tersebut ditutup untuk re-organisasi. Comte pun meninggalkan École dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran di Montpellier.
     Tak lama kemudian, ia melihat sebuah perbedaan yang mencolok antara agama Katolik yang ia anut dengan pemikiran keluarga monarki yang berkuasa sehingga ia terpaksa meninggalkan Paris. Kemudian pada bulan Agustus 1817 dia menjadi murid sekaligus sekretaris dari Claude Henri de Rouvroy, Comte de Saint-Simon, yang kemudian membawa Comte masuk ke dalam lingkungan intelek. Pada tahun 1824, Comte meninggalkan Saint-Simon karena lagi-lagi ia merasa ada ketidakcocokan dalam hubungannya.
     Saat itu, Comte mengetahui apa yang ia harus lakukan selanjutnya: meneliti tentang filosofi positivisme. Rencananya ini kemudian dipublikasikan dengan nama Plan de travaux scientifiques nécessaires pour réorganiser la société (1822) (Indonesia: Rencana studi ilmiah untuk pengaturan kembali masyarakat). Tetapi ia gagal mendapatkan posisi akademis sehingga menghambat penelitiannya. Kehidupan dan penelitiannya kemudian mulai bergantung pada sponsor dan bantuan finansial dari beberapa temannya.
     Ia kemudian menikahi seorang wanita bernama Caroline Massin. Comte dikenal arogan, kejam dan mudah marah sehingga pada tahun 1826 dia dibawa ke sebuah rumah sakit jiwa, tetapi ia kabur sebelum sembuh. Kemudian setelah kondisinya distabilkan oleh Massin, ia mengerjakan kembali apa yang dulu direncanakannya. Namun sayangnya, ia bercerai dengan Massin pada tahun 1842 karena alasan yang belum diketahui. Saat-saat di antara pengerjaan kembali rencananya sampai pada perceraiannya, ia mempublikasikan bukunya yang berjudul Le Cours de Philosophie Positivistic.
     Pada tahun 1844, Comte menjalin kasih dengan Clotilde de Vaux, dalam hubungan yang tetap platonis. Setelah Clotilde wafat, kisah cinta ini menjadi quasi-religius. Tak lama setelahnya, Comte menerbitkan bukunya yang berjudul Système de politique positive (1851 - 1854). Dia wafat di Paris pada tanggal 5 September 1857 dan dimakamkan di Cimetière du Père Lachaise.

Kontribusi Pemikiran Auguste Comte
     Auguste Comte dikenal juga dalam memperkenalkan pengetahuan filsafat ilmu yang baru yakni epistimologi baru yang menjembatani antara rasionalisme Descartes dan emperisme Paris Bacon (Wibisono, 1983). Ia pun mendirikan aliran filsafat yang di sebut sebagi aliran Positivisme yang artinya menepatkan akal atau rasio pada tempat yang sangat penting, dan itu membuatnya mendapat julukan Bapak Positivisme.
     Keterlibatan aktif di setiap pemikiran sosial, membuat Auguuste Comte dianugerahi sebagai bapak sosiologi modern, lewat perjuangannya dalam penelitiannya terhadap fenomena sosial, sehingga ilmu sosial berkembang sedemikian pesat, yaitu dengan menawarkan pendekatan yang lebih bercorak emosional dari pada rasional sebagi mana dipakai ilmu kealaman selama ini.
     Auguste Comte juga salah satu filosof yang berhasil mengembangkan filsafat ilmu yang di rintis oleh Bacon. Beliau juga termasuk kelompok kajian yag disebut ”Lingkaran Wina” (Vienna Circle). Selain itu ia juga turut mengembangkan dan mempunyai peran vital dalam pemikiran tentang kebudayaan dan penulisan, seperti contoh semboyan yang ditulisnya yaitu ”Sebagai Anak kita menjadi Teolog, Sebagai Remaja kita menjadi Ahli Metafisika dan Sebagai Manusia Dewasa kita menjadi Ahli Ilmu Alam”.

Suci Ramadhaningtyas

Penulis : Suci Ramadhaningtyas

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.