Pancasila dan Tahlilan

Pancasila dan Tahlilan

DITULIS USER

Saifullah Yusuf (Gus Ipul)
ngopiOPINI 20 Jan 2017 WIB

Adakah hubungan antara Pancasila dan Tahlilan? Ternyata ada. Amaliah warga NU yang sering dituduh bid'ah oleh kelompok Islam lain itu ternyata mencerminkan praktik ber-Pancasila.

Lho? Ya. Paling tidak itu menurut KH Harun Ismail yang pidatonya mirip dengan Bung Karno.

Memang, sebelum ditetapkan Pancasila ditetapkan sebagai ideologi dan dasar negara, bangsa ini dihadapkan pada dua pilihan: menjadi negara Islam atau negara sekuler. Baru setelah melalui perdebatan panjang, Bung Karno memutuskan negara Pancasila.

Ternyata praktik Pancasila yang digali oleh Bung Karno tersebut telah tercermin dalam amaliah tahlilan yang sampai sekarang dilaksanakan warga Nahdliyin.  Apa saja filosofi Pancasila yang tercermin dalam tahlilan? 

Satu, orang tahlil itu pasti baca surat Al-Ikhlas yg berbunyi Qulhu Allahu ahad Allahus shomad. Itulah Ketuhanan yg Maha Esa dan di dalam tahlil pasti baca itu. Yg artinya Tuhan itu satu.

Kedua, siapa pun orang boleh datang ke acara tahlilan. Tidak ada seleksi. Tidak ada pertanyaan kenapa seseorang datang ke tahlilan. Misalnya, ditanya: kamu bisa tahlil enggak? Kalau enggak bisa, disuruh keluar. Di NU tidak seperti itu.

Bahkan nonmuslim pun boleh masuk dan orang yg membid'ah-bid'ahkan pun dipersilakan ikut. Tentu kalau mereka mau. Tidak ada yg dibeda-bedakan. Itulah kemanusiaan yg adil dan beradab.

Dan kalau dilihat di kampung-kampung, orang tahlil itu duduknya bersila semua. Tidak dibedakan duduknya seorang pejabat, kiai, santri dan orang biasa. Semuanya sila, rata. Itulah persatuan Indonesia terdapat dalam sila ke tiga pancasila. Duduknya sila semua.

Setelah itu, menjelang dimulai, di sanalah mereka mencari pemimpin, mereka saling tuding menuding. Satunya bilang kami saja yg mimpin. Lainnya juga bilang Anda saja yang lebih pantas.

Di sanalah terjadi musyawarah kecil-kecilan mencari seorang pemimpin tahlil. Setelah kepilih satu yg memimpin tahlil. Itulah kerakyatan yg dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan.

Setelah tahlil selesai, berkat nya keluar. Semuanya mendapatkan berkat atau makanan sebagai oleh-oleh untuk yang di rumah. Jenisnya sama, tanpa ada berbedaan baik tampilan dan isinya semuanya sama. Itulah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Jadi, kalau ingin melihat nilai Pancasila diterapkan, lihatlah tahlilannya NU. 

Penulis : Saifullah Yusuf (Gus Ipul)

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.