Musim Hujan dan Kerusakan Jalan

Musim Hujan dan Kerusakan Jalan

DITULIS USER

Saifullah Yusuf (Gus Ipul)
ngopiOPINI 27 Jan 2017 WIB

Musim hujan tiba, dua persoalan akan  mengikutinya yaitu banjir dan kerusakan jalan raya. Kedua persoalan itu akan berdampak dan menimbulkan persoalan-persoalan lain seperti penampungan pengungsi, penyakit, gagal panen bagi tanaman, kemacetan lalu lintas dan sebagainya yang kesemuanya itu memerlukan penanganan serius dan berkelanjutan.

Musim hujan saat ini beberapa wilayah di Jawa Timur tergenang banjir, antara lain hari ini, Kamis 26 Januari 2017  di Jombang yang menyebabkan tanggul Kali Gunting Jebol sehingga ratusan rumah  di Kecamatan Mojoagung  tenggelam. Lima hari sebelumnya yaitu tanggal 20 Januari sebanyak 700 rumah di Kecamatan Beji Kabaupaten Pasuruan tenggelam. 

Pasuruan termasuk daerah langganan banjir. Dua pekan sebelummya tepatnya tanggal 5 Januari, Kali Sarak yang melintas di tepi Jalan Raya Lawang – Purwodadi meluap dahsyat hingga meluber ke jalan raya di sampingnya. Menurut cerita penduduk, sebelumnya tak pernah Kali Sarak meluap seperti ini.

Banjir yang datang akibat curah hujan tinggi juga menenggelamkan beberapa wilayah di Pamekasan, Sampang, Mojokerto, Malang, Tulungagung, Blitar, Trenggalek,  Kediri, Jember, Bojonegoro, Lamongan dan Tuban. Disamping menenggelamkan puluhan bahkan ratusan rumah  penduduk, banjir juga menghancurkan tanaman di sawah yang siap panen.

Bojonegoro yang dilewati Bengawan Solo juga termasuk daerah langganan banjir. Musim hujan sekarang, banjir terparah di Bojonegoro terjadi awal Desember lalu, yang diperkirakan mengakibatkan kerugian material sekitar Rp 30 milyar. Berdasarkan perhitungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, besarnya nilai kerugian  disebabkan rusaknya  tanaman padi dan sejumlah permukiman warga. 

Menurut Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, berdasarkan catatan BPBD Provinsi Jawa Timur, sepanjang tahun 2016 saja tercatat 213 bencana banjir dan 273 tanah longsor di wilayah Jatim. “Ini belum termasuk banjir yang terjadi pada tahun 2017. Masih ada potensi banjir lagi karena kita lihat curah hujan masih cukup tinggi yang  diperkirakan hingga bulan April nanti,” kata Gus Ipul.

Ditambahkan, banjir 2016 lebih besar dampaknya dibanding tahun sebelumnya akibat perubahan cuaca yang terjadi 2016. “Secara umum daerah banjir berada di dua daerah aliran sungai (DAS) besar yang melintas  di Jawa Timur, yaitu Bengawan Solo dan Brantas. Sebanyak  50 banjir terjadi di wilayah Bengawan Solo, dan 97 banjir lainnya berada di wilayah DAS Brantas,” kata Wagub.

Banjir tidak saja menenggelamkan rumah penduduk dan areal persawahan, tetapi juga menenggelamkan dan menggerus jalan raya. Akibatnya banyak aspal jalan terkelupas, jalanan jadi berlubang. Apabila jalan tidak segera diperbaiki maka lubang akan makin lebar dan melebar yang mengakibatkan biaya perbaikan semakin mahal.

“Selama bulan Januari ini saja saya sudah melakukan pemeriksaan di empat lokasi jalan raya yang rusak. Untuk sementara yang menjadi  perhatian saya masih Jalan Raya Pantura, karena jalan ini amat penting bagi perekonomian,” kata Gus Ipul.

Wagub didampingi  perwakilan Balai Besar Jalan Nasional (BBJN) dan jajaran lainnya dalam waktu yang tidak bersamaan melihat langsung kerusakan jalan yang ada di jalur Pantura, seperti jalur  Pasuruan – Probolinggo, Sidoarjo – Pasuruan, Gresik – Lamongan dan Surabaya Gresik. sepanjang jalan penghubung Pasuruan - Probolinggo ini. Di Pasuruan dan Gresik bahkan Wagub ikut meratakan aspal yang sudah dituangkanke permukaan jalan.

“Kerusakan jalan disebabkan beberapa faktor, antara lain banjir dan genangan air serta  kelebihan  tonase kendaraan. Jalanan yang sering tergenang banjir akan rusak atau berlubang, dan lubang-lubang itulah yang sering dikeluhkan masyarakat karena selain mengurangi kenyamanan berkendara juga bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan.  Keluhan inilah yang perlu kita respon,” katanya.

Menurut Wagub, rusaknya jalan raya  ini sebenarnya merupakan kewenangan Balai Besar Jalan Nasional. Namun, ia mengaku bahwa pemerintah daerah tidak boleh tinggal diam dan harus tanggap mengatasi hal ini. "Saya akan membantu untuk mengusulkan ke pusat. Setidaknya, meskipun  tidak ada pembangunan jalan baru tetapi ada upaya yang cepat untuk mengatasi jalan berlubang ini. Jangan sampai menunggu korban lain berjatuhan," katanya.

Berdasarkan data, Panjang jalan di Provinsi Jawa Timur  2361,23 Kilometer. Dari panjang jalan itu, jalan nasional yang rusak berat mencapai 85,43 kilometer, dan rusak ringan 492 kilometer. Sementara jalan provinsi yang rusak berat 16 kilometer dan rusak ringan 141 kilometer. 

Tahun 2017 ini Pemprov Jatim sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1 triliun untuk melakukan pembenahan jalan mulai pelebaran, pemeliharaan, perbaikan sampai pemantapan. Sedang  anggaran Balai Besar Pekaksanaan Jalan Nasional – VIII untuk perbaikan dan perawatan jalan nasional di Jatim mencapai Rp1,5 triliun. (***)

Penulis : Saifullah Yusuf (Gus Ipul)

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.