Koran Peduli Tetangga

Koran Peduli Tetangga

DITULIS USER

Saifullah Yusuf (Gus Ipul)
ngopiOPINI 17 Jan 2017 WIB

          Senjakala industri surat kabar. Hal ini yang banyak diyakini orang sekarang. Industri ini dinilai akan segera masuk ke kegelapan, tersuruk, tergusur dan tersungkur oleh media online dan media sosial yang tumbuh subur di era internet.

          Anggapan itu ada benarnya dan ada salahnya. Benar karena media online dan media sosial memang tumbuh melampaui kecepatan tumbuhnya jamur di musim hujan. Kapan saja bisa ada media online baru. 

           Setiap detik pelaku media sosial beranak-pinak dalam jumlah besar. Dibanding media konvensional seperti koran cetak Kompas, media online punya empat keunggulan yang tak bisa dilawan oleh industri media konvensial.

         Pertama, sangat personal. Setiap orang mengakses media online sebagai pilihan sangat personal: Ada dalam gengaman dan sentuhan setiap orang (smartphone, telpon genggam biasa, tablet, komputer jinjing atau komputer rumah/kantor) serta tanpa interupsi apalagi direksi dari pihak lain. Media konvensional tak bisa berlaku seperti itu.

        Kedua, setiap orang juga secara serta merta bisa menjadi sumber berita, pembuat berita sekaligus penerbit atau pemublikasi, melalui media sosial. Media sosial bisa dibilang sebagai monumen personalisasi yang paling dahsyat dalam industri informasi, komunikasi dan interaksi di zaman sekarang. Media konvensional tak mungkin menjejeri keunggulan ini.

         Ketiga, publikasi super cepat. Lalu lintas informasi diubah secara revolusioner oleh media online dan terutama media sosial. Jika koran beredar setiap hari atau maksimal dua kali dalam sehari, media online beredar setiap sepersekian detik. Media sosial lebih dahsyat lagi; kecepatan edarnya bahkan sulit dibikin rata-ratanya karena volumenya amat sangat besar dan kekerapannya amat sangat intens.

         Keempat, bersifat interaktif. Media online bukan hanya personal dan cepat tetapi juga interaktif. Media sosial apalagi. Model interaksinya tak mengalami jeda waktu melainkan berlangsung sepanjang saat. Media konvensional mustahil melakukan hal yang serupa.

 

KOPTET

         Dengan empat keunggulan itu, maka media konvensional seperti koran cetak memang potensial tergusur dan tergeser oleh media online dan media sosial sebagaimana anggapan yang saya kutip di awal. 

        Namun, anggapan ini bisa juga keliru. Mengapa? Sebab nyatanya media konvensional pun saat ini sudah berikhtiar menyesuaikan diri dengan era internet. Kompas, misalnya, sudah dikenali bukan lagi hanya sebagai "koran cetak" tetapi sebagai sebuah industri media yang komprehensif yang mengintegrasikan koran Kompas dengan Kompas.com (media online) dan Kompasiana (microbloging berbasis jurnalisme dan opini warga) serta terhubung ke semua media sosial utama (Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain).

        Yang terjadi ternyata bukan penggusuran media konvensial tetapi pengembangan dan pembaharuan industri media, informasi, komunikasi dan interaksi. Dan ini membuat industri ini tetap punya masa depan.

         Persoalannya kemudian bagaimana industri koran terus bisa bertahan ditengah perkembangan teknologi informasi yang begitu dahsyat? Ada beberapa langkah yang mungkin bisa disarankan.

          Untuk memiliki masa depan sekaligus ikut membentuk masa depan, selayaknya industri media menimbang untuk mulai membangun secara serius "Koran Peduli Tetangga".

         Koran cetak sebagai media konvensional memang tak bisa mengalami personalisasi serta tidak bisa beredar dengan super cepat sebagaimana media online dan media sosial. Interaksi serta merta juga tak bisa dibangun oleh koran cetak. 

        Artinya, koran cetak tetap ada di satu ujung spektrum industri nedia sementara media online dan media sosial ada di ujung lainnya. "Koran Peduli Tetangga" --sementara, untuk sekadar menyingkat, saya sebut saja dulu sebagau "koptet"--mengambil posisi di tengah di antara dua ujung dalam spektrum tadi.

        Koptet tak menyasar individu alias personal tetapi satu level di atasnya, yaitu komunitas terkecil. Komunitas terkecil ini, dalam konteks masyarakat kita, adalah Rukun Tetangga. Koptet memberikan porsi signifikan pada berita dan opini komunitas, bukan hanya berita dan isu-isu besar yang elitis.

        Koptet tak bisa dibangun dengan efektif secara nasional lewat media berbasis ibukota Jakarta. Justru koptet relevan dibentuk dan dikelola oleh biro-biro di daerah yang berhadapan dengan komunitas pembaca berskala lebih terbatas. 

      Koptet mengangkat isu suram pertetanggaan seperti menyurutnya kepedulian antartetangga yang mendatangkan banyak masalah seperti pengembangan jaringan terorisme dan narkoba. Pada saat yang sama, Koptet juga mengangkap contoh-contoh terbaik dari aktivitas pertetanggaan, seperti pengelolaan sampah yang ramah lingkungan berbasis komunitas.

        Dengan demikian, Koptet menjadi alarm yang mengingatkan adanya bahaya bersumber pada masalah dalam komunitas terkecil. Pada saat yang sama menjadi pemicu perbaikan dan kemajuan dalam hubungan pertetanggaan.

 

MASA DEPAN

        Lantas bagaimana mengimplementasikan koptet dalam konten media? Setidaknya ada dua muatan pokok. 

         Berita dan opini pembangunan yang sedang berusaha untuk menjemput masa depan lebih baik melalui berbagai agenda pembangunan. Yakni, memperbaiki kualitas sumber daya manusia dan meningkatkan layanan-layanan dasar bagi warga di bidang pedidikan dan kesehatan. 

       Juga memacu pembangunan infrastruktur sebagai bagian dari upaya percepatan kemajuan ekonomi dan sosial daerah, mengatasi masalah kesenjangan dan kemiskinan, melakukan pemberantasan korupsi dan reformasi birokrasi untuk memperkuat good governance, dan mengarusutamakan lingkungan hidup dalam semua kebijakan dan langkah pembangunan.

       Berita dan opini berbasis komunitas untuk meningkatkan kepedulian warga pada persoalan di lingkungan mereka yang terdekat, sekaligus memfasilitasi warga untuk proaktif bergerak menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing.

       Rasanya dengan menjadi koran yang berbasis komunitas terkecil seperti Rukun Tetangga dengan memperhatikan agenda masa depan mereka, akan menjadikan industri informasi ini tetap juga punya masa depannya. 

 

*) Saifullah Yusuf adalah Wakil Gubernur Jawa Timur. 

 

Penulis : Saifullah Yusuf (Gus Ipul)

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.