Harmonisasi Fikir dan Zikir

Harmonisasi Fikir dan Zikir

DITULIS USER

Saifullah Yusuf (Gus Ipul)
ngopiOPINI 17 Dec 2016 WIB

Hampir setiap tahun saya mendapat kesempatan bertemu dengan para pengurus Muhammadiyah. Setiap bulan puasa, para pimpinan Persyarikatan se Jawa Timur ini berkumpul di Universitas Muhammadiyah Malang dalam sebuah forum kajian. Kajian itu selalu dihadiri para tokoh dari pimpinan pusat. 

 

       Kehadiran saya setiap tahun sejak tujuh tahun itu melengkapi pergaulan saya dengan sejumlah tokoh ormas Islam yang didirikan KH Ahmad Dahlan tersebut. Lantas apa kesimpulan dari hasil pergaulan panjang dengan organisasi yang berdiri jauh hari sebelum kemerdakaan RI ini?

 

       Sulit membayangkan Indonesia tanpa Persyarikatan Muhammadiyah. Persyarikatan ini ikut menyemaikan bibit pergerakan nasional yang kemudian melahirkan kemerdekaan.

 

      Tak hanya sampai di situ. Sebagai persyarikatan modern, Muhammadiyah berada di garis depan dan berada di tengah pusat pusaran pembangunan Indonesia merdeka sebagai bangsa yang modern, beradab dan bermartabat.

 

      Hingga kini Muhammadiyah melanjutkan peranan yang luar biasa dalam ikut membentuk Indonesia yang kita citakan dan Jawa Timur yang kita dambakan.

 

      Jika kita rumuskan secara sederhana, kontribusi terpokok Muhammadiyah bagi Indonesia dan Jawa Timur adalah menyiapkan generasi yang diistilahkan dalam Al Qur'an sebagai Ulil Albab, yakni orang-orang yang tercerahkan.

 

     Secara sederhana, Al Qur'an mendefinisikan Ulil Albab sebagai mereka yang bisa menjumpai dan belajar dari ayat-ayat Allah bukan hanya yang tersurat atau tekstual. Tetapi juga yang tersurat melalui fenomena penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam (QS Ali Imran 3: 190).

 

     Lebih lanjut Al Qur'an merincikan ciri-cirinya sebagai berikut:  "Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi..." (QS Ali Imran 3: 191).

 

     Orang-orang yang tercerahkan atau Ulil Albab itu tentu tak jatuh dari langit. Mereka tak tersedia begitu saja. Mereka harus dibentuk dan diperkuat terus-menerus melalui gerakan yang persisten. Sebuah Gerakan Pencerahan.

 

       Sejak awal berdiri Persyarikatan Muhammadiyah bukanlah sekadar "organisasi" (organization) melainkan sebuah "gerakan" (movement). Kesimpulan ini bahkan diperkuat melalui hasil riset salah seorang peletak dasar Ilmu Politik di Indonesia, yakni Alm. Dr Alfian, melalui disertasinya.

 

      Sebagai sebuah gerakan, Persyarikatan Muhammadiyah memainkan peranan dan memberikan kontribusinya yang tak main-main dalam Gerakan Pencerahan di Indonesia untuk membangun orang-orang yang tercerahkan atau Ulil Albab itu.

 

      Muhammadiyah melakukannya lewat aktivitas pendidikan dan pengajaran, pelayanan kesehatan, pemberdayaan perempuan, penyejahteraan ibu dan anak serta pembinaan generasi muda. Untuk melakukan itu, Muhammadiyah memiliki berbagai institusi atau lembaga pendukung yang luar biasa dilihat dari jumlah, sebarannya di Indonesia serta cakupan masyarakat yang terlayani. Kita mengenalnya secara singkat sebagai "amal-amal Muhammadiyah".

 

      Salah satu tujuan yang senantiasa terpelihara di balik penyelenggaraan berbagai amal persyarikatan ini adalah terbangunnya harmoni di antara fikir dan zikir, menyatunya identitas kesalihan ritual dengan sosial, terbangunnya kecerdasan intelektual, sosial dan emosional dengan kecerdasan spiritual.

 

      Jika kita gambarkan melalui khasanah Al Qur'an (QS An Nahl 16: 11-15), maka harmonisasi fikir dan zikir yang senantiasa diikhtiarkan Muhammadiyah itu dapat digambarkan sebagai terbentuknya sejumlah kualitas berikut: Kemampuan memikirkan (tafakkarun); Kemampuan memahami (takqilun); Kemampuan mengambil pelajaran (Tadzakkarun); Kemampuan bersyukur (tasykurun); Kemampuan untuk mencari dan mendapatkan petunjuk (tahfadun).

 

       Indonesia dan Jawa Timur membutuhkan orang-orang yang tercerahkan yang memiliki kualitas-kualitas tersebut di atas. Sejarawan besar dari Inggris, Arnold Toynbee, dalam salah satu teorinya menyebut orang seperti itu sebagai "minoritas kreatif", yang jumlahnya bisa jadi sedikit tetapi kemudian melakukan gerakan pencerahan sehingga semakin lama semakin besar. Dengan cara itulah, kata Toynbee, peradaban-peradaban besar di dunia terbangun sepanjang sejarah manusia modern.

 

       Orang-orang yang tercerahkan atau minoritas kreatif itu adalah orang-orang yang menempatkan dirinya sebagai pelaku ketika orang-orang di sekeliling mereka secara keliru memosisikan diri sebagai penonton. Mereka tetap bisa memelihara optimisme dan harapan mereka di tengah orang-orang yang salah kaprah dengan berlomba-lomba pesimis dan cepat berputus asa. Mereka terus berikhtiar tanpa lelah dan tanpa henti sementara di sekitar mereka orang-orang sudah putus asa dan berhenti berusaha.

 

      Orang-orang yang tercerahkan dan pemilik kualitas minoritas kreatif adalah mereka yang berhasil mengharmonisasi fikir dan zikir mereka. Orang-orang seperti inilah yang akan membuat Indonesia berjaya menjemput masa depannya yang gemilang. 

 

     Indonesia harus berterima kasih kepada Muhammadiyah karena tanpa lelah sejak zaman sebelum kemerdekaan terus mengkontribusikan persyarikatannya untuk membentuk kualitas manusia Indonesia yang tercerahkan atau Ulil Albab itu.

 

     Saya sendiri saat ini sesang menggalang sebuah gerakan bernama Gerakan Peduli Tetangga. Saya ingin kita sama-sama bergerak di level yang terbawah, dalam komunitas paling kecil dan bertumpukan orang per orang yang tidak tergantung pada dan menunggu peranan orang lain. Saya ingin mengajak masyarakat Jawa Timur untuk aktif menjadi pencari jalan keluar dari masalah-masalah kecil dan sederhana dalam lingkungan terdekat dan terkecil mereka.

 

     Gerakan Peduli Tetangga ini jelas membutuhkan minoritas kreatif, Ulil Albab atau orang-orang yang tercerahkan yang antara lain terus diupayakan pembentukannya oleh Muhammadiyah. Karena itu, bagi saya dan Muhammadiyah sinergi bukan hanya kebutuhan tetapi kenisacayaan. Kerja sama di antara kita bukan cuma sebuah "kemungkinan yang terbuka" tetapi "keharusan dan amanat zaman yang harus kita ikhtiarkan".

 

Oleh Saifullah Yusuf

 

*) Saifullah Yusuf adalah Wakil Gubernur Jawa Timur dan Ketua PBNU.

Penulis : Saifullah Yusuf (Gus Ipul)

Bagikan artikel ini

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang ditulis oleh user. Tanggung jawab isi sepenuhnya pada user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini. Namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.