Mitigasi Literatif Komunal Terhadap Ancaman Bencana Sosial

10 Sep 2019 11:21   ngopiOPINI
Mitigasi Literatif Komunal Terhadap Ancaman Bencana Sosial
Hoax dan Disrupsi Informasi (Kartun Karya Javad Takjoo - Iran) sumber: irancartoon.com

Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-74 dinodai dengan tindakan brutal penyerangan anggota kepolisian di Polsek Wonokromo Surabaya (17/8/2019). Kekerasan atas aksi tindakan penyerangan di Surabaya dilandasi sebagai tindakan amaliyah oleh pelaku IM. Berpura-pura melapor dan spontan menyerang polisi petugas piket dengan senjata tajam. Sebagai pelaku lone wolf atau penyerangan teror perseorangan, IM telah menjadi ancaman secara self recruited melalui pembelajaran dari dunia maya melalui aksi yang berskala kecil dan sporadis. Tindakan brutal IM dalam penyerangan Polsek Wonokromo tidak terjadi secara tiba-tiba. Aksi Teror, Fa’i dan Amaliyah merupakan bagian dari literalis yang memahami jihad dengan kekerasan dan literalis dalam konsep muamalah.

Ancaman terorisme di Indonesia terasa nyata dengan berbagai dinamika pola aksi yang selalu berubah. Inilah bukti disrupsi informasi dengan kemudahan akses lintas batas ruang dan waktu yang mengarah pada tindakan ekstrimisme. Merujuk pada Manulang (2001) bahwa teror adalah suatu cara untuk merebut kekuasaan dari kelompok lain, dipicu oleh banyak hal, seperti pertentangan (pemahaman agama), ideologi dan etnis, kesenjangan ekonomi, serta tersumbatnya komunikasi masyarakat dengan pemerintah, atau karena adanya paham separatisme dan ideologi fanatisme. 
Era keterbukaan yang didukung dengan penggunaan internet pada berbagai sektor turut mempercepat penyebaran paham radikal.

Pola penyebaran paham yang berpotensi merongrong Pancasila terjadi juga dalam kehidupan di kampus. Terjadi hal yang paradoks terkait kehidupan di kampus. Sebagai lembaga pendidikan kampus merepresentasikan sistem belajar mengajar yang kritis. Di sisi lain Perguruan tinggi menjadi salah satu tempat tumbuhnya bibit potensi radikalisme dan terorisme.
Seperti halnya kasus dugaan bergabungnya salah satu mahasiwa kedokteran dari universitas ternama yang terindikasi sebagai anggota ISIS pada tahun 2016.

 

Kehidupan generasi muda mengalami dinamika pada banyak aspek. Berkurangnya generasi muda yang mau untuk hidup di desa menjadikan semangat individualistik menjadi hal yang tidak terelakkan. Kehidupan di kota yang kurang intim dan cenderung tertutup membentuk jiwa menjadi lebih mementingkan kepentingan pribadi dan hal ini dapat mengikis jiwa gotong royong, guyup dan kebersamaan.


Mengapa kiprah mahasiswa masih kurang dalam masyarakat? Beberapa permasalahan dalam perguruan tinggi yang terkait dengan pengembangan proses belajar mengajar dan literasi di kampus. Pertama, tidak sebandingnya produktivitas produk akademik yang dihasilkan dengan jumlah akademisi dan mahasiswa. Produk ilmiah tidak hanya berhubungan dengan penelitian atau penulisan dosen. Perlu adanya kolaboratif antara dosen, mahasiswa dan pakar dalam semangat gotong royong menjadi agen pencerah bagi masyarakat. 

Kedua, kurang difasilitasinya akses pada buku-buku tertentu non perpustakaan. Buku bacaan yang seharusnya dapat mengembangkan semangat literasi mahasiswa hanya sebatas pajangan di kantor jurusan. 


Ketiga, target kelembagaan yang dapat melupakan marwah tujuan akademik terkait tridharma perguruan tinggi, baik dari segi penelitian maupun pengabdian masyarakat. Kegiatan keluar yang hanya didasarkan pada proyek dan tidak ada tindak lanjut untuk pemberdayaan kepada masyarakat. Hambatan secara birokratis dalam bentuk penyusunan laporan detail pengeluaran, bukan pada pemantauan dampak dan kegiatan berkelanjutan. Keempat, pola hubungan akademis yang patron klien dan kurang menghargai serta menerima kebebasan berpikir. 

Mengenai keberagaman di kampus ada beberapa permasalahan yang patut menjadi perhatian, mengingat potensi konflik dapat menjadi ancaman. Kehidupan kampus mengalami segmentasi yang berbasis SARA. Adanya pengelompokan mahasiswa yang terbagi berdasarkan etnis, seks, gender, dan etnisitas. Terkait dengan ancaman radikalisme di lingkungan pendidikan kita harus melihat bagaimana pelajaran pendidikan agama yang diterapkan dalam kampus.
Mata kuliah pendidikan agama belum menyentuh ranah toleransi yang integratif. Pada umumnya hanya berkutat pada hal-hal yang legal-formal dan terlalu fokus pada urusan ritual, belum sampai pada upaya penanaman nilai-nilai spiritual yang merupakan esensi agama itu sendiri. 


Dalam kehidupan kampus banyaknya isu-isu dan ketakutan adanya gerakan-gerakan radikal yang mulai masuk kedalam wilayah pendidikan, hal ini salah satu faktornya kurang adanya pengawasan terhadap organisasi yang dengan bebas berdiri dan juga berkembang bebas di dalam kampus.

Saya melihat kurangnya bahkan tidak adanya penguatan ideologi tentang kenegaraan dalam kehidupan kampus mulai awal program pengenalan kehidupan kampus sampai saat menyelesaikan perkuliahan, tidak adanya kegiatan yang mengakrabkan mahasiswa khususnya dari dalam lingkup jurusan sendiri juga menjadi salah satu faktor.
Untuk itu perlunya merevitalisasi ruang publik dalam dunia akademik yang berbasis pada semangat gotong royong yang menjadi modal sosial adiluhung budaya bangsa.

Ancaman Bencana Sosial Era Siber

UU No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, terdapat tiga jenis bencana yaitu alam, non alam dan sosial. Bencana Sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror. Era digital dan cyberspace menyebabkan terjadinya pola baru dalam penyebaran paham radikal yang mengarah pada terorisme siber (cyber terrorism). 

Media sosial dianggap menjadi penyebaran paham sampai dunia maya sempat dihebohkan karena terdapat tutorial pembuatan bom. Terorism, ekstrimis dan para aktivisnya menjadikan internet sebagai perangkat penolong dan memberikan transformasi baru dalam dinamika kelompok.
Paradok era siber sebagai fenonema globalisasi atas teknologi informasi di sisi lain mempercepat akses informasi juga berpotensi membentuk radikalisme daring, teroris siber dan penyebaran hoax.

Internet beserta media elektronik, media daring dan melalui media sosial ditengarai telah menggantikan proses pemaparan radikalisme melalui lembaga pendidikan, selebaran dan buku bacaan. Itulah pentingnya dilakukan langkah berbasis komunitas kampus. Penguatan komunitas-komunitas dalam dunia pendidikan dalam upaya memperkenalkan dan membiasakan wacana pluralism
e dan multikulturalisme, mengkritisi narasi-narasi radikal dan intoleransi.

Penanganan terorisme kurang efektif jika hanya mengandalkan langkah represif yang justru menyuburkan jaringan atas dasar balas dendam. Perlu langkah preventif melalui pendekatan pemahaman dan pengetahuan. Untuk itu diperlukan beberapa strategi mitigasi dalam upaya membendung penyebaran radikalisme yang mengarah pada tindak kekerasan berbasi
s literasi komunal.

Siskamling Dialogis

Sebuah komunitas sebagai satu kesatuan masyarakat mempunyai cara ntuk penyampaian pesan kepada khalayak. Komunikasi dalam suatu komunitas disebarkan melalui berbagai media. Menurut Moore (1988) terdiri atas iklan surat kabar, radio dan televisi; publisitas pers, radio dan televisi; publikasi perusahaan; gelanggang terbuka dan wisata pabrik; pidato umum; pertemuan dengan pemuka pendapat; kunjungan ke lembaga-lembaga komunitas; film; pameran dan peragaan; laporan tahunan dan literatur kelembangaan. Termasuk acara berkumpul yang reflektif. Berbagai sarana komunikasi di atas, secara politis dapat digunakan sebagai sarana propaganda, sarana penggerak masyarakat yang
mengedepankan semangat gotong royong. Perlunya digalakan forum diskusi yang melibatkan elemen akademik dengan masyarakat.

 

Masyarakat desa di Jawa mempunyai faktor struktural yang secara turun terumun dapat mengakomodasi pengawasan dan pencegahan potensi konflik. Reaktualisasi peran jagabaya sebagai jabatan kepala keamanan pada lingkungan komunitas. 
Semangat gotong royong pada masyarakat Jawa dituangkan dalam slogan saiyeg sekopraya, gotong royong yang secara kultural dan historis dipengaruhi oleh beberapa faktor pengikat seperti sejarah, tradisi dan religi.
Dalam mencegah ancaman bencana sosial perlu dilakukan langkah sebagai berikut:

Pertama, membangun narasi positif tentang pemahaman keagamaan yang luas dan toleran. Pendidikan dan bacaan tanpa menyuarakan kebencian. Tindakan kekerasan berbasis amaliyah terindikasi dipengaruhi oleh faktor fanatis berlebihan, pemahaman agama yang sempit dan terbatas dan kurang maksimalnya penangangan aliran yang dianggap menyimpang. Perlunya pendidikan berbasus inklusif dan penyadaran untuk memoderasi paham-paham dan ideologi radikal yang dilakukan oleh pendidik atau tokoh keagamaan. Seyogianya penganggulangan terorisme secara literatif adalah counterterrorism yang diikuti dengan counterargument. Pemahaman jihad berdasarkan pada ayat-ayat dalam konteks yang lebih mengacu pada kepekaan sosial. Memerangi kemiskinan pada lingkungan sosial dengan usaha pemberdayaan komunitas
menjadi salah satu solusi

Kedua, Patroli siber dan sistem peringatan dini sebagai cara menangkis propaganda media daring. Sejak tahun 2010 hingga 2011 Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menghapus situs-situs yang terindikasi radikal sebanyak 200-300 situs. Pertumbuhan situs radikal bersifat masif dan untuk menghindari blokir pengguna memanfaatkan layanan VPN dalam mengakses. Kementrian Komunikasi dan Informatika perlu bersinergi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam upaya pencegahan, perlindungan, deradikalisasi, penindakan dan penyiapan kesiapsiagaan nasional. 

Ketiga, Peran keluarga dan masyarakat. Penanggulangan terorisme, radikalisme dan ekstrimisme tidak hanya bagian pekerjaan aparat negara semata. Peran serta aktif masyarakat sangat dibutuhkan dengan menggunakan modal dan kohesi sosial. Perlunya menggalakan siskamling, diskusi rutin warga yang aspiratif dan pengadaan mitra polisi.
Tak lupa melibatkan mahasiswa termasuk mahasiswa penghuni asrama kampus.



Keempat, Ruang publik dan literasi positif. Banyak pemberitaan yang menyatakan pelaku tindak terorisme adalah pribadi yang tertutup dan kerap menarik diri dari pergaulan di lingkungan sosial. Momen malam tirakatan menjelang peringatan HUT Kemerdekaan merupakan bentuk nyata ruang publik yang menyatukan masyarakat tanpa memandang latar belakang anggota masyarakat. Bersatu padu menikmati rangkaian acara dan aktif dalam segala kegiatan dengan antusias. Spirit seperti ini seharusnya dapat dilaksanakan secara berkesinambungan sebagai acara dalam ruang publik yang dapat memperkuat kohesi sosial. Ketika kohesi sosial menguat pengawasan dan tepo selira diantara anggota masyarakat berjalan secara dialogis. Pentingnya penggabungan ruang publik dengan literasi melalui pengadaan kelompok atau rumah baca dengan pilihan bacaan yang menyejukkan. Merujuk pada Viona (2015) narasi anti-terorisme yang berbasis nilai toleransi, keberagaman, penghormatan dan resiprokalitas menjadi hal yang penting dan mendesak untuk memberikan jawaban, sanggahan, bantahan, dan alternatif yang menunjukan bahwa terorisme bertentangan dengan kemajemukan dan perdamaian. 

Falsafah adilihung Jawa mengajarkan karakteristik dari kebudayaan Jawa adalah religius, non doktriner, toleran, akomodatif dan optimistik. Dalam sebuah pertentangan yang didasari perbedaan pandangan selalu menekankan pada aspek akomodatif melalui ungkapan asih ing sesami. Sebuah kesadaran universal yang bersumber pada kesadaran yang paling dalam dari hati nurani manusia.

Kesadaran untuk saling menghargai ini diwujudkan dalam sikap hidup orang Jawa yang rilo, narimo, temen, sabar, dan budi luhur. Menjaga keselarasan secara konsisten dan komitmen tinggi dapat menjadi salah satu cara untuk meredam gejolak dalam masyarakat. Gotong royong seakan menjadi ciri khas masyarakat Jawa terutama pada masyarakat yang tinggal di pedesaan. Sebuah kegiatan yang penuh kebersamaan tanpa pamrih merupakan inti dari keberadaan gotong royong. 


Kampus sebagai ruang akademis yang menaungi peserta didik dari semua etnis dalam semangat kebersamaan dan selalu mengedepankan dialog. Untuk itu perlunya mewujudkan lingkungan kampus yang menjunjung tinggi nilai solidaritas sosial, semangat gotong royong dan keadilan sosial. Gotong royong dapat memupuk ketenangan batin dan meningkatkan kesejahteraan, menurut Herusatoto (2008: 70) mempunyai prinsip klasik yang berbunyi: hapanjang-hapunjung hapasirwukir loh jinawi, tata tentrem kertaraharja. Kalangan muda perlu diberi kesadaran untuk menjadi anggota mawas diri terutama dalam pelibatan diri mereka pada konteks konflik sosial dan wacana jihad. Terlebih pada era cyberculture seperti saat ini penggunaan internet yang masif menjadi tempat mencari informasi dan belajar berbagai hal dari lokal sampai global. Menghidupkan kembali semangat gotong royong yang mulai pudar. Diperlukan dukungan dari segala pihak untuk keberhasilan pelaksanaan uri-uri budaya Jawa, baik dari pemegang kebijakan sampai dukungan yang optimal dari lintas generasi. Jika kita tidak peduli dengan lingkungan sendiri lantas siapa lagi.