Anak Dan Literasi Pendidikan Politik 

09 Aug 2019 10:24   ngopiOPINI
Anak Dan Literasi Pendidikan Politik 
courtesy of pexels.com

Pemilu 1997 sebagai pemilihan umum terakhir era orde baru. Saat itu saya masih duduk di kelas 9 (dulu kelas 3 SMP). Pada tembok laboratorium elektro, saat praktik membuat radio saya melihat foto terbaru presiden terpilih Soeharto. Saat menunggu giliran menyolder komponen saya mengamati dengan detail foto presiden yang terasa ada sesuatu yang berbeda. 

Mei 1998 menjadi era Pak Harto dengan segala kedigdayaannya berhasil dilengserkan. Saat kerusuhan Mei sekolah diliburkan. Upaya preventif mengatasi kekuatiran orang tua sekaligus solusi atas kerawanan sosial yang dikuatirkan menyebar. Padahal saat itu beberapa saat menjelang pelasanaan UNAS -dulu disebut EBTANAS- jika situasi tidak kondusif lantas bagaimana nasib para siswa kelas tiga.

Mei 1998 membuat saya kuatir sekaligus bersyukur mendapat pengetahuan dan pengalaman baru melihat perpolitikan Indonesia dari kacamata anak beranjak gedhe (ABG). Pendidikan politik baru berhasil didapat dan lebih variatif tanpa campur tangan Departemen Penerangan. Era kebebasan pers dan penerbitan telah dimulai dan masa peralihan menuju iklim demokrasi yang bersahaja. 

Tabloid Oposisi menjadi bacaan langganan saya dengan usia yang seharusnya masih menikmati majalah remaja. Rasa ingin tahu dan upaya variasi literasi yang menggerakkan saya untuk membeli tabloid baru yang terbit beberapa saat setelah reformasi digulirkan. Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah organisasi yang berlogo bintang dan gerigi. Partai Rakyat Demokratik menjadi hal baru dalam pemahaman saya bahwa kaum muda pun bebas dan aktif berpolitik. Satu foto yang ikonik saat itu adalah foto
Budiman Sujatmiko -saat itu dijebloskan ke penjara- yang berdiri dengan tangan membentang merentangkan sesuatu. Sebuah pengetahuan bahwa perjuangan dapat dilakulan dimanapun walaupun dari ruang tahanan sampai mimbar jalanan. 

Hari ini banyak yang mengira bahwa PRD telah bubar. Para perintis kehidupan demokrasi telah melanjutkan petualangan dan panggilan politiknya dalam berbagai sektor kehidupan. Dari yang mempertahankan idealis sampai  memilih pragmatis mengikuti dinamika zaman. Sebuah bagian dari demokrasi yang  paradoks. 

Sejak 2010 PRD sepakat menetapkan dan berupaya menerapkan azaz pancasila. Membumikan azas pancasila, bahwa pancasila harus menang di bumi pancasila. Visi dan misi ini belum tentu dianggap relevan. PRD telah beregenerasi hingga berusia 23 tahun. Hambatan masih harus dihadapi seperti pada senin malam (22/7/2019) di Surabaya gagal menggelar syukuran HUT ke-23. Tidak adanya izin polisi serta desakan dari organisasi masyarakat (ormas). 

Euforia dari tiga warna menjadi warna warni terjadi pada Mei 1998. Terlampau jauh rentang waktu hingga Juli 2019. Anak-anak yang haus informasi disajikan pendidikan politik hari ini tidak melalui media tabloid Oposisi. Namun era dunia maya membuat anak menjelajah tanpa batas wacana dan berita politik secara cepat. Pendidikan politik memanfaatkan media daring tanpa proses memilah dan memilih menjadikan anak turut menjadi target konten negatif. Berita bohong, ujaran kebencian dan pengetahuan yang kurang berimbang tentang politik praktis. Dalam pendidikan politik perlunya sekolah dan orang tua memberikan pembekalan dan pengembangan intelektual dan moral sebagai warga negara yang baik. 

Pemerintah berupaya memberikan pendidikan politik  melalui program Parlemen Remaja yang diselenggarakan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI.  Sebuah program pelatihan dan pendidikan demokrasi untuk Siswa/i SMA/SMK/MA se-Indonesia yang diselenggarakan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI.  Peserta terpilih akan mendapatkan pembekalan materi dari Anggota DPR RI dan para pakar, pelatihan Simulasi Sidang-Sidang  DPR RI, dan Kunjungan Kerja ke kementerian/lembaga mitra DPR RI.

Seharusnya program ini tidak hanya sekadar mengenalkan seluk beluk kegiatan wakil rakyat. Yang lebih penting adalah  sejak dini mengimplementasikan kehidupan berpolitik yang beretika, tidak egosektoral, tanpa kesenjangan sosial, dan harmoni dalam keberagaman. Hal ini dapat dimulai dalam kehidupan berorganisasi di lingkungan sekolah dari kelas sampai organisasi siswa intrasekolah.  Belajar adalah sebuah proses sosial yang dilakukan seorang anak dari mengamati dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. 

Konsumsi literasi digalakkan dengan pembenahan perpustakaan menjadi tempat mampir siswa saat bel istirahat berbunyi dan pelarian saat jam kosong. Buku sosial diseimbangkan dengan buku saintek. Pengenalan tokoh politik inspiratif disandingkan bersebelahan dengan potret pahlawan nasional. Pemutaran dan diskusi film dokumenter secara intensif diadakan di sekolah dengan harapan melatih daya analitis, keberanian mengemukakan pendapat dan mengembangkan kepekaan sosial. 

Saat beranjak remaja 21 tahun yang lalu saya tidak pernah tahu mana yang golongan kanan dan mana yang kiri. Saat membuka tabloid Oposisi dan melihat pimpinan PRD yang berdiri dengan tangan membentang memberi arti tentang perjuangan. Yang saya tahu hanya sebuah integritas dari sikap dan pilihan politik penuh totalitas. Saya percaya semua pengorbanan itu demi kepentingan pembenahan dan kemajuan negeri.