Wamendiktisaintek Tegaskan Kampus Harus Merakyat dan Peduli Kepentingan Masyarakat
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan menghadiri acara pengukuhan guru besar di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Dalam kesempatan tersebut, Prof. Jebul Suroso resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Keperawatan.
Dalam pidatonya, Wamen Fauzan menyoroti pentingnya relevansi dan inovasi dalam pendidikan tinggi di Indonesia. Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi semua perguruan tinggi saat ini adalah kemampuan untuk tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
“Tidak banyak perguruan tinggi yang melakukan inovasi untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut,” ujar Fauzan.
Transformasi Mindset di Bidang Keperawatan
Prof. Jebul Suroso dalam pidatonya sebagai guru besar menegaskan pentingnya transformasi mindset dalam dunia keperawatan. Menurutnya, Indonesia harus bergeser dari pola pikir "mengobati orang sakit" ke arah "membiasakan hidup sehat."
“Misi kita adalah untuk mengubah bangsa Indonesia: dari mindset mengobati orang sakit, bergeser menjadi mindset membiasakan hidup sehat,” katanya.
Sebagai bentuk kontribusi terhadap kemajuan dunia keperawatan di Indonesia, Prof. Jebul juga mengusulkan beberapa inisiatif strategis, seperti pembentukan Center of Excellence dan penataan regulasi yang mendukung nurse-preneurship.
Program Kampus Berdampak untuk Peningkatan Relevansi
Wamen Fauzan menambahkan, untuk menjawab tantangan skala nasional, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terus mendorong program-program inovatif, salah satunya adalah Program Kampus Berdampak. Tujuannya adalah agar kampus tidak lagi terisolasi di menara gading, tetapi benar-benar hadir dan berperan di tengah masyarakat.
“Produk-produk akademik dan sosial dari kampus harus diaplikasikan langsung untuk masyarakat. Inilah kunci agar perguruan tinggi tetap relevan,” tegasnya.
Fauzan juga berharap agar pengukuhan Prof. Jebul Suroso dapat membawa semangat baru untuk UMP dan berkontribusi dalam pembangunan daerah, khususnya di Purwokerto.
“Jangan melangkah di jalan yang ramai, karena Anda tidak akan terlihat. Carilah jalan yang sepi untuk dapat melahirkan sesuatu yang luar biasa,” tambahnya.
Haedar Nashir: PTMA Dilarang Beri Gelar Profesor Kehormatan
Dalam acara yang sama, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan kebijakan penting bagi seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA). Ia melarang pemberian gelar profesor kehormatan, karena menurutnya gelar tersebut merupakan jabatan yang harus diperoleh melalui proses akademik resmi.
“PTMA jangan ikut-ikutan kasih gelar profesor kehormatan karena profesor itu melekat dengan profesi dan institusinya,” tegas Haedar.
Meskipun belum dalam bentuk surat keputusan resmi, Haedar berharap arahannya dianggap sebagai perintah langsung demi menjaga marwah dan kredibilitas akademik PTMA.
Perkembangan Jumlah Guru Besar dan Fakultas Kedokteran PTMA
Haedar juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini PTMA telah memiliki 431 guru besar aktif, yang diharapkan berkontribusi nyata dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi di lingkungan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah.
Selain itu, saat ini terdapat 20 PTMA yang memiliki fakultas kedokteran, dengan 14 di antaranya telah terakreditasi unggul. Meskipun beberapa kampus di luar Jawa belum memiliki akreditasi unggul, mereka masih diizinkan untuk membuka fakultas kedokteran dalam upaya pemerataan akses pendidikan medis.
“Keunggulan institusi harus sejalan dengan kualitas dalam pelaksanaan Catur Dharma Perguruan Tinggi,” tutup Haedar.