Tak Hanya Siswa, Program MBG di Sidoarjo Kini Menjangkau Guru
Ada hal baru dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo. Kini program MBG juga diberikan kepada para guru. Kebijakan tersebut mulai diterapkan sejak awal tahun ajaran 2026/2027 di SMA Negeri 1 Wonoayu. Sehingga tenaga pendidik menerima menu yang sama dengan peserta didik.
Pelaksanaan program tersebut mendapat perhatian saat Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), melakukan supervisi dan monitoring di sekolah tersebut, Selasa, 28 Juli 2026. Selain meninjau distribusi makanan, kunjungan itu juga menjadi bagian dari evaluasi implementasi MBG di lingkungan sekolah.
Kepala SMA Negeri 1 Wonoayu, Ririn, mengatakan, pemberian MBG kepada guru menjadi langkah positif karena seluruh warga sekolah kini memperoleh asupan gizi yang sama tanpa perbedaan.
"Sejak pertengahan Juli atau awal tahun ajaran baru, bapak dan ibu guru juga menerima MBG. Menunya sama seperti yang diterima siswa, terdiri atas sayur dan lauk yang memenuhi kebutuhan gizi. Alhamdulillah, tidak ada perbedaan antara guru dan peserta didik," ujar Ririn.
Menurutnya, kehadiran MBG tidak hanya meningkatkan kualitas konsumsi makanan di sekolah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi siswa. Sebelum program berjalan, sebagian besar siswa hanya mengandalkan uang saku sekitar Rp10 ribu untuk membeli makanan di luar sekolah.
Dengan nominal tersebut, pilihan makanan bergizi dinilai terbatas sehingga kebutuhan nutrisi harian belum sepenuhnya terpenuhi. Kini, siswa memperoleh menu bergizi setiap hari sekaligus dapat menyimpan sebagian uang sakunya untuk kebutuhan lain.
Ririn menambahkan, perubahan tersebut turut berpengaruh terhadap semangat belajar siswa. Mereka tetap memiliki energi hingga kegiatan belajar mengajar berakhir pada siang hari.
Sementara itu, Bambang Haryo Soekartono menilai perluasan penerima manfaat MBG hingga tenaga pendidik menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan sekolah yang lebih sehat dan produktif.
Menurut BHS, sebelum adanya MBG, banyak siswa memilih makanan instan atau makanan cepat saji karena keterbatasan uang saku. Kondisi itu dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan gizi seimbang bagi pelajar.
"Anak-anak sekarang mendapatkan makanan bergizi yang lebih baik sehingga lebih semangat mengikuti pelajaran sampai siang. Guru-guru juga kini menerima MBG sehingga memiliki energi yang lebih baik dalam menjalankan proses belajar mengajar. Program ini harus terus dilanjutkan karena merupakan investasi untuk menyiapkan generasi unggul menghadapi bonus demografi dan persaingan global," kata BHS.
Ia berharap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis terus disempurnakan agar manfaatnya semakin luas. Selain meningkatkan kualitas gizi peserta didik, program tersebut juga diharapkan mampu mendukung terciptanya proses belajar mengajar yang lebih optimal dengan kondisi kesehatan warga sekolah yang semakin baik.