Sumber Daya Terbatas, Kemenag Berpotensi Kekurangan Guru Agama Budha
Sebanyak 117 aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama (Kemenag) bakal pensiun serentak. Ironisnya posisinya adalah guru agama. Di sisi lain formasi ASN baru untuk posisi yang sama tidak sebanding. Akibatnya Kemenag berpotensi mengalami kekurangan guru.
Kondisi tersebut terjadi di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Budha Kemenag. Dirjen Bimas Buddha Kemenag Supriyadi, mengatakan, salah satu pekerjaan rumah besar yang harus diakui secara terbuka adalah keterbatasan sumber daya.
"Baik dari sisi anggaran maupun formasi SDM," kata Supriyadi dalam keterangannya, Minggu, 19 Oktober 2025.
Dia menjelaskan, meskipun menunjukkan prestasi dalam pengelolaan, pagu anggaran yang relatif kecil menjadi kendala dalam memenuhi seluruh aspirasi dan kebutuhan umat yang terus berkembang.
"Dampak nyata dari keterbatasan SDM ini terilustrasi dengan jelas pada sektor pendidikan. Di mana 117 guru agama Budha akan memasuki masa pensiun," ujar Supriyadi.
Sementara itu formasi pengganti belum memadai. Supriyadi mengatakan kondisi itu berisiko menciptakan kekosongan tenaga pendidik. Dampak lanjutannya berpotensi menurunkan kualitas pembinaan generasi muda.
Tantangan lain di Ditjen Bimas Budha Kemenag juga terjadi di sektor pendidikan tinggi. Yaitu terkait dengan jumlah dosen agama Budha yang bergelar guru besar atau profesor.
Supriyadi mengatakan sampai sekarang hanya ada satu dosen agama Budha yang bergelar profesor. Informasi tersebut dia sampaikan di sela peringatan hari ulang tahun Ditjen Bimas Buddha ke-20 di Jakarta.
Sampai sekarang hanya ada satu guru besar bidang agama Budha di Indonesia, yaitu Prof. Hesti Sadtyadi. Kemenag akan melakukan percepatan, dengan mendorong dosen yang memenuhi syarat menjadi Guru Besar (Gubes)
Komitmen menambah jumlah Gubes di bidang agama Budha itu disampaikan Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Kemenag Supriyadi.
“Ada tantangan kelangkaan guru besar. Masih ada satu guru besar dari 12 kampus agama Buddha di Indonesia," kata Supriyadi.
Supriyadi menegaskan, salah satu prioritas pemerintah sekarang adalah peningkatan kualitas SDM. Upaya ini perlu didukung dengan dosen-dosen yang berkualitas. Salah satunya adalah keberadaan dosen dengan gelar Profesor atau Gubes.
Supriyadi mengakui bahwa kualitas pengajar di kampus keagamaan Budha masih belum semaju di Islam. Pasalnya untuk di kampus keagamaan Islam, jumlah Gubes keagamaan Islam sudah sangat banyak. Termasuk juga Gubes di agama lain, seperti Kristen atau Katolik.
Dia menegaskan program akselerasi mencetak gubes keagamaan Budha yang barusan harus dilaksanakan. Dosen-dosen yang secara kepangkatan sudah memenuhi syarat sebagai Gubes, didorong untuk segera meraih gelar Gubes. Khususnya para dosen yang sudah berpangkat Lektor Kepala.
Tantangan untuk mendapatkan gelar Gubes adalah karya atau publikasi ilmiah yang terindeks Scopus. Untuk itu kepada kampus-kampus keagamaan Budha, diminta lebih aktif melakukan penelitian dan publikasi. Sehingga bisa jadi tangga untuk memperbanyak jumlah gubes keagamaan Buddha.
Advertisement