Setiap 4 Menit Satu Nyawa Melayang, Ancaman Tuberkulosis kian Serius
Setiap menit empat nyawa melayang akibat penyakit tuberkulosis atau TB. Untuk itu pemerintah Indonesia menegaskan percepatan eliminasi tuberkulosis (TB) sebagai langkah darurat nasional. Indonesia sendiri menyumbang sekitar 10% dari total kasus TB global.
Hal tersebut mengemuka saat kegiatan Temu Media Hari Tuberkulosis Sedunia 2026, Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin P. Octavianus. Tingginya tingkat penularan dan kematian akibat penyakit tersebut di Tanah Air menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa angka kasus TB masih sangat mengkhawatirkan. “Setiap menit dua orang terinfeksi TB dan setiap empat menit satu orang meninggal dunia di Indonesia,” ujar Wamenkes.
Untuk itu kondisi epidemi TB di Indonesia memerlukan tindakan agresif dan terarah. “Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan faktor sosial, ekonomi, gizi, dan lingkungan,” tambahnya Wamenkes.
Menurut data, Indonesia mencatat lebih dari satu juta kasus TB setiap tahunnya. Angka ini menempatkan Indonesia dalam kategori beban TB tertinggi di dunia. Besarnya jumlah kasus kemudian mendorong pemerintah mempercepat deteksi dan pengobatan. Hal ini sebagai upaya masif yang menyasar seluruh lapisan masyarakat.
Deteksi Dini Masif dan Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah kemudian mengambil langkah percepatan dengan menggenjot deteksi dini secara luas. Program Cek Kesehatan Gratis menjadi salah satu strategi utama dengan target 130 juta orang pada 2026. Tidak hanya fokus pada skrining, program ini juga mengarah pada penemuan kasus laten dan memastikan penderita memperoleh penanganan medis secara tepat.
Selain itu, pelacakan kontak erat terus diperkuat untuk memutus mata rantai penularan. Pemerintah juga memperluas terapi pencegahan TB bagi kelompok rentan serta meningkatkan kapasitas kader kesehatan di lapangan. “Tidak ada waktu untuk menunda. Setiap kasus yang ditemukan dan diobati adalah langkah menyelamatkan nyawa,” tegas dr. Benjamin.
Upaya ini adalah sebagai langkah strategis untuk menutup celah penularan yang selama ini banyak terjadi di tingkat keluarga dan komunitas. Pemerintah meyakini bahwa penanganan yang cepat dan tepat dapat menekan angka penularan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Dukungan global terhadap upaya Indonesia juga menguat. Perwakilan WHO Indonesia, dr. Setiawan Jati Laksono menjelaskan Indonesia menyumbang sekitar 10% dari total kasus TB global. Data WHO menunjukkan, pada 2024 terdapat sekitar 118.000 kematian akibat TB pada orang tanpa HIV dan 8.100 kematian pada orang dengan HIV. “TB masih menjadi ancaman global. Ada kemajuan, tetapi belum cukup cepat. Komitmen politik dan pendanaan nasional sangat menentukan,” ujarnya dalam forum yang sama.
WHO juga menyoroti sejumlah tantangan lain seperti kasus TB yang belum terdiagnosis. Selain itu juga meningkatnya TB resistan obat. Kemudian juga faktor risiko yang menghambat proses penyembuhan, seperti malnutrisi, diabetes, dan kebiasaan merokok. Namun pada sisi lain WHO optimistis dengan perkembangan inovasi medis. Saat ini terdapat lebih dari 100 alat diagnostik, 29 obat TB, dan 18 kandidat vaksin yang sedang dalam proses pengembangan. “Ini saatnya bertindak sekarang,” tegasnya.
Peran Pemerintah Daerah Dipacu lewat Desa Siaga TB
Pemerintah juga menekankan peran krusial pemerintah daerah dalam mempercepat eliminasi TB. Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, menyampaikan bahwa koordinasi lintas sektor tidak akan efektif tanpa penggerak utama di tingkat daerah. “Pemerintah daerah menjadi penggerak utama dalam mengoordinasikan penanggulangan TB hingga ke tingkat desa dan kelurahan,” ujarnya.
Hingga kini, dari total 84.276 desa di Indonesia, baru sekitar 5.711 desa yang membentuk Desa/Kelurahan Siaga TB, tersebar di 22 provinsi dan 108 kabupaten/kota. Pemerintah juga menetapkan 11 provinsi prioritas, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta, sebagai wilayah percepatan penanganan.
Melalui program Desa/Kelurahan Siaga TB, pemerintah berharap proses menemukan kasus aktif, meningkatkan edukasi, dan memastikan pendampingan pasien hingga tuntas berobat dapat berjalan lebih optimal. “Desa dan kelurahan menjadi ujung tombak dalam menemukan kasus, mendampingi pasien, dan menggerakkan masyarakat untuk bersama melawan TB,” uranya.
Pemerintah sendiri telah memastikan bahwa layanan bagi orang terduga TB kini menjadi bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang wajib dipenuhi seluruh pemerintah daerah. Dengan penguatan peran desa dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia menargetkan eliminasi TB dapat tercapai lebih cepat dan menyeluruh.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement