Sama-sama Peraih Nobel, Malala Kritik Sikap Suu Kyi
AKTIVIS pendidikan asal Pakistan dan peraih Hadiah Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai mengkritik sikap bungkam pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi soal tindakan junta militer terhadap minoritas Rohingya di Myanmar.
Lewat Twitter ia mengkritik Aung San Suu Kyi yang juga sama seperti dirinya sebagai peraih Nobel Perdamaian.
"Selama beberapa tahun terakhir ini, saya sudah berulang kali mengutuk perlakuan tragis dan memalukan ini. Saya masih menunggu rekan saya sesama peraih Nobel Aung San Suu Kyi untuk berbuat yang sama. Dunia menunggu dan muslim Rohingya juga menunggu," kata Malala, sebagaimana dikutip Antara, Selasa (5/9).
Hingga kini sebanyak 73.000 warga Rohingya menyeberang ke Bangladesh dari Myanmar sejak operasi militer besar-besaran Myanmar menyusul serangan terkoordinasi Rohingya ke pos-pos keamanan 25 Agustus lalu.
Perlakuan brutal terhadap Rohingya sudah lama terjadi di Myanmar, hingga disebutkan etnis ini adalah minoritas paling menderita di Bumi.
Tahun lalu, Malala turut menandatangani sebuah surat bersama para peraih Nobel lainnya yang menyerukan pada komunitas internasional untuk berbicara lebih lantang karena tragedi kemanusiaan yang memuncak menjadi pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan tengah terjadi di Myanmar.
Saat itu, para peraih Nobel menulis sebuah surat terbuka kepada Dewan Keamanan PBB yang berisi peringatan atas tragedi "pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan” di Rakhine, sembari menyebutnya sebagai potensi aksi genosida.
Bulan April lalu, dalam wawancara, Aung San Suu Kyi menampik dan meyakini tidak ada aksi genosida atau pembersihan etnis Rohingya di Myanmar. Ia mengatakan istilah pembersihan etnis terlalu kuat untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi di Rakhine, wilayah dengan mayoritas penduduknya Muslim.
“Saya tidak berpikir ada pembersihan etnis yang terjadi,” kata Suu Kyi kepada BBC, Rabu (5/4) waktu setempat. “Saya pikir pembersihan etnis terlalu kuat dipakai sebagai ekspresi untuk (menggambarkan) apa yang terjadi," tambahnya
Aung San Suu Kyi mengatakan ia tengah menuju rekonsiliasi di daerah bermasalah tersebut. Namun, dalam komentar yang mungkin dapat memancing kritik lebih lanjut, ia menolak untuk menerima fakta bahwa agresi sedang dilanggengkan oleh tentara Myanmar di sana.
“Saya pikir ada banyak permusuhan di sana,” kata Suu Kyi. (ant/frd)