SDN Banjarsengon 02 Jember Terapkan Kelas Digital, Siswa Belajar dengan Antusias Lewat Chromebook
Suasana belajar di SDN Banjarsengon 02, Kecamatan Patrang, Jember, kini tampak berbeda. Siswa-siswa terlihat bersemangat membuka Chromebook di ruang kelas digital.
Tak hanya itu, mereka juga diberikan ruang memotret tumbuhan di halaman sekolah, lalu mencocokkan hasilnya dengan informasi dari Google Lens.
Di kelas digital ini, mereka tidak hanya membaca buku, tetapi juga aktif mencari, meneliti, dan berdiskusi secara daring dengan sekolah lain maupun orang tua siswa.
Kepala SDN Banjarsengon 02, Guntur Bayu Wibisono, mengungkapkan bahwa program kelas digital berawal dari tumpukan Chromebook yang lama tersimpan di lemari sekolah, pada tahun 2024. Chromebook bantuan pemerintah itu hanya dipakai saat Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), satu tahun sekali.
“Saat pertama saya masuk tahun 2024, perangkat itu hanya dipakai saat Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Sayang sekali kalau dibiarkan, karena lama-kelamaan bisa rusak. Dari situlah kami mulai menggagas kelas digital agar Chromebook benar-benar digunakan setiap hari,” jelasnya, Kamis, 02 Oktober 2025.
Sejak saat itu, Chromebook mulai ditanam di kelas, yang kini disebut kelas digital. Kelas digital bukan hanya soal pemanfaatan perangkat, tetapi juga konsep pembelajaran yang lebih luas.
Proses pembelajaran tak hanya dapat dipantau oleh guru, tetapi juga oleh orang tua siswa. Orang tua siswa bisa membantu melalui aplikasi google meet selama 30 menit.
“Kami ingin anak-anak memiliki portofolio digital, belajar mandiri, dan guru bisa memantau perkembangan mereka lewat Learning Management System (LMS). Orang tua pun ikut terhubung melalui komunikasi online,” ujarnya.
Lewat LMS, siswa dapat mengakses materi, tugas, hingga batas waktu pengerjaan. Orang tua juga bisa memantau progres anak. Tak hanya saat siswa belajar di sekolah, orang tua juga mendapatkan akses untuk mengetahui kehadiran di sekolah melalui presensi QR Code yang langsung terlapor ke ponsel mereka.
“Dengan sistem ini, orang tua tahu jam berapa anak berangkat dan pulang. Ini membuat mereka lebih tenang, apalagi banyak anak di sini yang sebelumnya suka bermain di sungai atau pergi tanpa izin,” tambahnya.
Selain itu, kelas digital di SDN Banjarsengon 02 juga membuka ruang kolaborasi antar sekolah. Siswa dapat berdiskusi secara daring dengan sekolah lain. SDN Banjarsengon 02 pernah melakukan pembelajaran kolaboratif secara daring dengan SD di Situbondo dan Pasuruan. Dalam sesi hybrid learning, siswa berdiskusi 30 menit mengenai topik tertentu secara online.
Lebih jauh Guntur menjelaskan, meski masih menghadapi kendala jaringan internet, pihak sekolah terus berupaya menambah akses poin agar pembelajaran daring semakin lancar. Saat ini, perangkat yang digunakan adalah 15 unit Chromebook, tujuh PC sekolah, serta laptop atau ponsel milik siswa.
Di tengah keterbatasan itu, antusiasme siswa terbukti meningkat. Saat pelajaran sains, misalnya, siswa diminta mengamati akar tumbuhan. Mereka langsung keluar kelas membawa laptop dan ponsel, mengambil foto, lalu membandingkan hasilnya dengan referensi digital.
“Motivasi belajar anak-anak naik luar biasa. Mereka tidak sekadar mendengar penjelasan guru, tapi benar-benar terlibat aktif,” ungkapnya.
Ke depan, sekolah berencana memperluas program ini dengan memperkuat jaringan internet, memperbanyak kolaborasi antar sekolah di seluruh Indonesia, serta menghadirkan inovasi sistem pembayaran jajanan sehat menggunakan QR Code yang bisa dipantau orang tua.
“Harapan kami, anak-anak tidak hanya cerdas secara digital, tapi juga terbentuk kebiasaan sehat sesuai program pemerintah,” pungkasnya.
Advertisement