Sampah Penuh, DPRD Soroti Proyek Hanggar di TPA Probolinggo
Kondisi sampah hampir mememuhi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bestari, Kota Probolinggo. Sementara proyek hanggar sampah di lokasi tersebut belum juga selesai. DPRD Kota Probolinggo pun mendesak proyek hanggar yang dikerjakan CV Ika Mulza Mandiri senilai sekitar Rp1,99 miliar itu segera selesai tepat waktu.
Progres proyek di Jalan Angrek, Kota Probolinggo yang diberi tenggat waktu (deadline) 26 November 2025 itu dinilai lamban. Hal itu diungkapkan sejumlah anggota DPRD Kota Probolinggo yang melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi proyek hanggar di TPA Bestari, Kamis, 13 November 2025.
Proyek itu sebagai penunjang pengolahan sampah menjadi bahan bakar pengganti batu bara (Refused Derived Fuel). RDF atau yang biasa disebut “keripik sampah” itu digunakan sebagai bahan bakar untuk pabrik semen.
Proyek di Jalan Anggrek, Kota Probolinggo dinilai lamban. Dengan deadline tanggal 26 November 2025, praktis waktu penyelesaian proyek tersebut tinggal dua pekan lagi.
“Saya menilai proyek hanggar di TPA itu terancam molor dari jadwal. Atau kemungkinan kecil bisa selesai tepat waktu,” ujar anggota Komisi III DPRD, Robet Riyanto.
Robet mengaku khawatir jika proyek itu molor akan menggangu penanganan sampah di Kota Probolinggo. Sebab dengan poduksi sampah total sekitar 70 ton per hari, TPA dengan system sanitary landfill (system timbun di dalam tanah) itu segera penuh.
Sementara Ketua Komisi III DPRD, Muchlas Kurniawan mengatakan, sidak kali ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan DPRD pekan lalu. Dikatakan DPRD akan terus mengawal agar proyek tak terhenti di tengah jalan.
“Batas waktunya tinggal 10 hari. DLH (Dinas Lingkungan Hidup) bilang bisa selesai, tapi kami ingin bukti nyata. Material harus sudah siap, jangan hanya janji,” kata politisi Partai Golkar itu.
Kepala DLH Kota Probolinggo, Retno Wandansari, mengaku optimistik proyek hanggar di TPA bisa selesai tepat waktu. Alasannya, sebagian besar anggaran sudah terserap pada pekerjaan pengecoran yang kini sedang dikebut.
“Hanggar ini akan digunakan untuk menempatkan mesin RDF, yang mengubah sampah jadi bahan bakar untuk pabrik semen,” katanya.
Retno mengaku, pekerjaan sempat lambat di awal, tetapi kemudian dikebut seusai saran dari Komisi III DPRD.
Terkait penanganan sampah, Pemkot Probolinggo memang dipusingkan dengan “gunung sampah” yang nyaris memenuhi TPA Bestari. Untuk mengatasi menggunungnya sampah diperlukan mesih yang dengan cepat dapat mengolah sampah.
Belakangan Pemkot Probolinggo menggandeng PT Reciki Solusi Indonesia, perusahaan pengelolaan sampah yang menjanjikan mengurangi tumpukan sampah di TPA dengan cepat.
Walikota Probolinggo, dr. Aminuddin pun tertarik dengan tawaran PT Reciki, yang siap mengurangi sampah hingga 90 persen. Hal itu diungkapkan Presdir PT Reciki, Bhima Aries Diyanto saat bertemu walikota di Probolinggo, 10 Maret 2025, lalu.
Memang walikota mengingatkan agar PT Reciki merekrut tenaga kerja dari warga sekitar saat mengolah sampah. Termasuk 35 pemulung yang setiap hari mencari sampah di TPA.
"Kami membutuhkan sebanyak 54 tenaga kerja untuk memilah sampah, nanti para pemulung dan warga sekitar yang akan kami libatkan," kata Bhima.
Advertisement