Persib Bandung Resmi Lepas Sergio Castel, Begini Rekam Jejak Sang Bomber Spanyol
Kebersamaan Persib Bandung dengan striker asing asal Spanyol, Sergio Castel, resmi berakhir. Manajemen Maung Bandung memutuskan untuk melepas sang penyerang setelah kontrak jangka pendeknya selesai pada Senin (22/6).
Sergio Castel menyusul dua pilar asing lainnya, Layvin Kurzawa dan Federico Barba, yang juga dipastikan angkat kaki dari skuad setelah berhasil mengantarkan Persib merengkuh trofi juara BRI Super League 2025/26.
Statistik Sergio Castel Selama di Persib Bandung
Sejak didatangkan pada pertengahan musim, striker berusia 31 tahun ini sebenarnya diproyeksikan untuk menjaga kedalaman lini serang Pangeran Biru, terutama saat dua juru gedor utama, Andrew Jung dan Ramon Tanque, dihantam cedera.
Namun, ekspektasi tinggi Bobotoh belum sepenuhnya terjawab. Castel tercatat tampil dalam 6 pertandingan domestik serta 2 laga di kompetisi Asia tanpa mencetak satu gol pun. Walau minim kontribusi di papan skor, manajemen PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) tetap memberikan apresiasi tinggi terhadap profesionalisme sang pemain.
“Kami menghormati dan mengapresiasi kontribusi yang telah diberikan Sergio Castel selama menjadi bagian dari Persib. Setelah berdiskusi dengan tim pelatih dan pihak Sergio, kedua belah pihak sepakat untuk tidak melanjutkan kerja sama pada musim berikutnya,” terang Adhitia Putra Herawan, Deputy CEO PT PBB.
Keputusan melepas striker bertinggi 188 cm ini merupakan hasil evaluasi matang antara manajemen dan pelatih anyar Persib, Igor Tolic. Dengan slot asing yang lowong, Maung Bandung dipastikan bakal berburu amunisi baru di bursa transfer musim panas demi mempersiapkan diri menghadapi babak play-off AFC Champions League Two (ACL 2) 2026/27.
Rekam Jejak Sergio Castel: Klub Mana Saja Sebelum ke Persib?
Sebelum mengadu nasib ke kompetisi sepak bola Indonesia, penyerang kelahiran Las Rozas, Spanyol ini memiliki modal pengalaman yang cukup panjang di Eropa dan Asia.
Tepat sebelum merapat ke Bandung pada awal tahun 2026, klub terakhir yang dibela Sergio Castel adalah Apollon Limassol di kasta tertinggi Liga Siprus (Cypriot First Division). Selama paruh pertama musim 2025/26 di sana, ia mengemas 15 penampilan dan membukukan 3 gol.
Berikut adalah deretan klub profesional utama yang pernah dibela Sergio Castel sebelum berlabuh ke Indonesia:
Apollon Limassol (Siprus — 2025/2026)
Marbella FC (Spanyol — 2025)
Málaga CF (Spanyol, LaLiga2 — 2024/2025)
Anorthosis Famagusta (Siprus — 2023/2024)
Burgos CF (Spanyol, LaLiga2 — 2023)
UD Ibiza (Spanyol, LaLiga2 & Segunda B — 2020–2023)
Jamshedpur FC (India, ISL — 2019/2020)
Atlético Madrid B (Spanyol — 2019)
Apakah Prestasinya Mengkilat di Klub Lama?
Jika melihat performanya secara keseluruhan sebelum mendarat di Indonesia, performa Sergio Castel bisa dibilang naik-turun, namun ia sempat memiliki periode yang sangat tajam di beberapa klub.
1. Puncak Ketajaman di Anorthosis Famagusta (2023/2024)
Periode paling mengkilat Castel terjadi saat ia membela klub Siprus, Anorthosis Famagusta. Pada musim tersebut, ia tampil sangat subur dengan mencetak 16 gol dari 29 laga di semua kompetisi domestik. Performa impresif inilah yang sempat melambungkan namanya kembali ke radar klub-klub mapan.
2. Andalan Lini Depan UD Ibiza (2020–2022)
Castel juga mengukir kisah sukses bersama UD Ibiza. Ia menjadi salah satu pilar kunci yang membawa klub tersebut mencetak sejarah promosi untuk pertama kalinya ke kasta kedua Liga Spanyol (LaLiga2). Selama masa baktinya di Ibiza, ia total mengoleksi 19 gol.
3. Petualangan di India dan Penurunan di Málaga
Castel juga sempat mencicipi sepak bola Asia bersama Jamshedpur FC di Liga Super India (2019/2020) dengan catatan cukup apik, yakni 7 gol dari 11 laga. Sayangnya, ketika kembali ke Spanyol untuk membela tim legendaris Málaga CF di LaLiga2 pada musim 2024/25, performanya meredup dan ia hanya mampu mencetak 1 gol sebelum akhirnya dilepas.
Kesimpulan: Sergio Castel bukanlah striker yang minim prestasi. Ia punya sejarah sebagai penyerang tajam di kompetisi Eropa (Siprus dan Spanyol). Hanya saja, adaptasi kilat di pertengahan musim serta peran yang lebih banyak berangkat dari bangku cadangan membuat sinarnya di Persib Bandung tidak segemerlap saat ia berada di masa keemasannya bersama Anorthosis atau Ibiza.