Penghuni Lapas Kediri Diduga Dilecehkan dan Disuruh Makan Cacing dan Staples
Sejumlah pengacara terlihat mendatangi Lapas Kelas 2 A Kediri Sabtu 30 Agustus 2025. Tujuan kedatangan para pengacara tersebut datang ke Lapas untuk memberikan perlindungan hukum kepada kliennya yang diduga mengalami kekerasan dan pelecehan seksual. Pelakunya diduga sesama napi penghuni tahanan.
Setelah berada di dalam lapas menemui korban, kuasa hukum Mohammad Rofian memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan.
"Klien kami AGS itu disiksa dan juga diperlakukan tidak manusiawi. AGS dilecehkan seksual oleh salah satu tahan di sini. Inisialnya RM," terangnya
Tidak hanya mendapat perlakukan pelecehan seksual, AGS juga menerima tekanan secara psikologis sesama penghuni sel. Dia dipaksa untuk makan cacing dan isi staples.
"Klien kami baru berusia 19 tahun tapi sudah diplonco disuruh dipaksa makan cacing oleh RM yang kedua makan staples. Itulah bentuk bentuk tindakan yang tidak manusiawi. Jadi hal itu harus kita sikapi dengan tegas. Bahwa nanti dari pihak kami akan segera melapor ke pihak Kepolisian," bebernya.
Lebih lanjut Mohammad Rofian menyesalkan peristiwa ini bisa menimpa kliennya. Menurutnya hal seperti ini harus segera ditindak tegas.
"Kejadiannya pada hari Selasa 26 Agustus 2025 kemarin pukul 01.00 WIB. Itu tindakan biadab dan tidak manusiawi. Peristiwa ini baru diketahui pada hari Rabu 27 Agustus 2025 saat korban merasakan sakit tidak berdaya akhirnya dibawah ke Rumah Sakit," ujarnya.
Di satu sisi ia merasa cukup lega karena kejadian ini langsung direspons oleh pihak lapas Kelas 2A Kediri.
"Dari pihak lapas dia sudah menindak si para pelaku di sel khusus. Isolasi dilakukan setelah diketahui ada klien kami yang sakit kemudian diusut. Dengan korban berani speak up kita apresiasi karena apa? Rata-rata di lapas itu overload karena apabila terjadi gesekan dikhawatirkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," kata Rofian didampingi rekan sejawatnya Muhammad Ridwan.
2 Pelaku Narapidana Jalani Hukuman Ditempatkan di Sel Khusus
Sementara itu keterangan dari Kalapas Kelas 2A Kediri Solichin turut menjelaskan bahwa memang benar telah terjadi peristiwa tersebut namun soal dugaan korban mengalami kekerasan seksual (sodomi) pihaknya masih belum bisa memastikan hal itu.
"Jadi begini itu istilahnya cupang gitu ya memang sudah terjadi. Korban dicupang bagian leher. Tapi kalau disodominya masih kami dalami karena menurut pelakunya juga belum mengakui, terus kemudian tadi dari tenaga medis saya lakukan cros cek anusnya tidak ada pendarahan mau pun lecet. Namun kalau perlakuan disuruh makan isi staples kemudian air dari kloset itu sudah dibenarkan pelaku iya," papar Solichin dihubungi melalui ponselnya
"Saya juga telah crosscheck narapidana lain yang satu kamar juga tapi tidak ada yang mengetahui untuk disodominya. Tapi kalau disuruh makan itu kata dari korban memang benar," kata dia.
Terkait pelanggaran yang sudah dilakukan oleh pera pelaku pihak Kalapas langsung bergerak cepat menghukum keduanya dengan menempatkan mereka ke sel khusus (sel tikus) dan dicatat dalam buku pelanggaran.
"Selain itu demi keamanan korban kami usulkan yang bersangkutan untuk dipindah. Agar jangan sampai keluar dari sel mencari cari korban. 2 pelaku sudah kami strap sel," katanya.
Advertisement