Pengguna Jasa Penyeberangan Merasa Dirugikan Terkait Kemacetan Kendaraan Menuju Pelabuhan Ketapang
Antrean kendaraan masih terjadi di jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Pantauan dari peta digital, antrean mencapai kurang lebih 14 km. Kondisi ini sudah terjadi selama beberapa hari terakhir. Kemacetan ini membuat pengguna jasa penyeberangan mengeluh. Mulai bertambahnya biaya operasional hingga resiko rusaknya barang atau kerugian akibat keterlambatan sampai tujuan.
Pedagang sayur dan buah asal Banyuwangi, Katijo, 52 tahun, warga Purwoharjo, Banyuwangi, mengatakan, setiap hari dirinya berdagang berbagai macam sayuran, cabai, dan buah-buahan di Pasar Cokro, Denpasar, Bali. Beberapa hari terakhir dirinya mengaku smepat terjebak macet saat hendak menyeberang ke Bali.
"Kemarin sempat terjebak macet dua jam, kalau hari ini, tidak terlalu lama. Tapi pernah kena macet sampai 5 jam," jelasnya, Rabu, 1 April 2026.
Dia mengaku selalu merasa was-was saat terjadi kemacetan di sekitar pelabuhan Ketapang. Sebab dia harus tiba di pasar tujuan sekitar pukul 21.00 WIB agar dagangannya bisa segera dijual. Jika terlambat, barang dagangannya bisa rusak atau tidak laku.
Dengan kemacetan yang terjadi, paling cepat dia tiba di tujua pukul 24.00 WIB. Bahkan dirinya pernah baru tiba di pasar tujuannya sekitar pukul 04.00 WIB. Sehingga barang dagangannya banyak yang tidak laku dan harus menelan kerugian.
"Ruginya jutaan," kata pria yang telah berdagang di Bali sejak tahun 2000 ini.
Gaung, rekan Katijo, menambahkan, kemacetan memang selalu terjadi setiap lebaran dan libur panjang. Namun tahun ini menurutnya adalah kemacetan paling parah.
"Bahkan di Gilimanuk juga sempat macet karena kapal dari sini (Pelabuhan Ketapang) tidak mengangkut kendaraan dari sana (Pelabuhan Gilimanuk)," ungkapnya.
Seorang sopir truk, Samsul, mengaku terjebak macet selama kurang lebih 8 jam. Tak Dia keluar dari hutan Baluran menuju Pelabuhan Ketapang sekitar pukul 09.00 WIB. Selanjutnya dia terjebak kemacetan dan baru tiba di Pelabuhan Ketapang sekitar pukul 17.00 WIB.
Warga Tabanan ini biasa melintasi penyeberangan Selat Bali setidaknya dua kali dalam seminggu. Dengan adanya kemacetan, dirinya harus mengeluarkan biasa tambahan. Mulai uang rokok, makan hingga solar. Setidaknya dia harus merogoh kocek tambahan sebesar Rp200 ribu.
"Semestinya bisa diberikan pada istri dan anak malah habis duluan," ungkapnya.
Pria yang sudah memanfaatkan angkutan penyeberangan sejak 2013 ini mengatakan, jumlah kapal di lintasan Ketapang-Gilimanuk ini sudah cukup banyak. Oleh karena itu, menurutnya, yang perlu dilakukan adalah penambahan dermaga.
"Kalau kapal sudah banyak, saya kira dermaganya yang kurang. Kita berharap dermaganya ditambah," ujarnya.
Hal yang sama juga dikeluhkan Ucok, seorang sopir bus jurusan Bandung-Denpasar. Dia mengaku terjebak macet sekitar pukul 12.00 WIB di sekitar Watudodol. Sekitar pukul 17.00 WIB dia baru bisa masuk pelabuhan Ketapang. Dia mengaku heran mengapa masih terjadi kemacetan padahal arus balik lebaran sudah selesai. Sehingga dirinya harus lebih lama di jalan.
"Kalau hari normal jam 11 siang itu sudah di Pelabuhan, penumpang juga mengeluh," ujarnya.
Dia menyebut, setiap musim liburan selalu terjadi kemacetan. Diapu berharap ada solusi agar ke depan tidak lagi terjadi kemacetan. Agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan lancar.
"Setiap liburan panjang memang macet tapi ini, termasuk yang terparah," ungkapnya.
Tidak hanya pengemudi kendaraan logistik dan bus yang mengeluhkan kemacetan. Pengendara kendaraan pribadi juga merasakan ketidaknyamanan dengan kemacetan ini.
Salah satunya Walid. Perempuan ini bersama suami dan anaknya hendak kembali ke Bali. Mereka terjebak kemacetan lebih dari 6 jam. Walid mengaku anaknya yang masih balita sempat rewel karena kemacetan.
"Anak saya empat rewel, jam 10.00 WIB keluar dari hutan (Baluran) ini jam 17.30 WIB baru masuk pelabuhan," ujarnya.
Advertisement