DPR RI Soroti Izin Kerusakan Penambangan Nikel di Raja Ampat
Polemik Raja Ampat menjadi trending topik di berbagai media sosial. Banyak hastag #SaveRajaAmpat bermunculan di berbagai platform. Aktivitas penambangan nikel di kawasan tersebut dinilai merusak keindahan salah satu destinasi wisata yang menjadi surga dunia.
Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS) menyoroti kerusakan parah yang terjadi di kawasan Raja Ampat akibat penambangan nikel yang telah berlangsung sejak awal 2000-an.
Anggota Komisi VII DPR RI, yang menaungi tentang pariwisata itu menyatakan izin operasi disebut-sebut telah diberikan sejak era Orde Baru.
Kerusakan lingkungan akibat aktivitas penambangan nikel di kawasan Raja Ampat, Papua Barat, menjadi sorotan. BHS mengungkap bahwa tambang nikel di wilayah tersebut mulai aktif sekitar tahun 2003, meskipun perizinan awalnya telah diberikan sejak masa pemerintahan Presiden Soeharto.
“Nikel di Raja Ampat ini sudah mulai ditambang dan dirusak sejak 2003. Bahkan perancangannya sudah dari zaman-zaman Soeharto. Izin sudah diberikan pada waktu itu,” ungkap BHS saat berkunjung ke Sidoarjo, Sabtu 7 Juni 2025.
Menurutnya, terdapat sekitar dua puluh perusahaan yang memperoleh izin beroperasi pada awal 2000-an. Dampak dari aktivitas tersebut sangat merusak lingkungan Raja Ampat, yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata paling indah di dunia.
“Kerusakannya sangat parah. Ini tidak boleh terjadi karena Raja Ampat adalah destinasi wisata yang sangat dibanggakan, bukan hanya oleh masyarakat Indonesia, tapi juga masyarakat dunia,” lanjutnya.
Ia menambahkan, kerusakan terparah terjadi sekitar tahun 2015 hingga 2018. BHS menyayangkan sikap sejumlah pejabat yang dianggap tidak transparan dalam menyikapi masalah ini.
“Kadang-kadang kita tidak mengerti, apakah mereka tidak paham, atau bagaimana,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa potensi pariwisata seperti di Raja Ampat jauh lebih berkelanjutan daripada eksploitasi tambang.
“Pariwisata itu tidak akan pernah habis. Devisa dari pariwisata bisa terus meningkat sepanjang masa. Beda dengan tambang, kalau tanah dan nikel bisa habis ditambang, maka selesai sudah,” pungkasnya.
Advertisement