Para Penari Festival Gandrung Sewu Giat Berlatih Untuk Tampilkan Yang Terbaik
Ribuan penari yang akan tampil dalam Festival Gandrung Sewu melakukan latihan secara rutin demi memberikan pertunjukan yang maksimal. Mereka berlatih dengan penuh semangat. Lebih dari seribu penari peserta Gandrung Sewu berlatih di Stadion Diponegoro.
Tahun ini ada ratusan penari dari luar Banyuwangi yang turut serta dalam Festival Gandrung Sewu. Termasuk diaspora yang tinggal di Amerika Serikat. Ribuan penari yang berlatih, usianya mulai 4 tahun hingga SMA. Ada juga Gandrung senior. Festival Gandrung Sewu akan digelar Sabtu, 25 Oktober 2025.
“Terima kasih kepada anak-anakku semua yang sudah giat berlatih, semangat terus dan semoga kalian terus diberi kesehatan dan bisa menampilkan yang terbaik pada 25 Oktober nanti,” kata Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, Minggu, 19 Oktober 2025.
Ipuk juga berterima kasih para orang tua peserta. Mereka telah mendampingi dan memberikan support kepada putra-putrinya mulai tahapan seleksi hingga proses latihan.
Ipuk menyebut, tahun ini Gandrung Sewu terasa istimewa karena melibatkan peserta dari berbagai daerah dan juga para kepala desa di Banyuwangi. Sedikitnya ada 200 penari dari sepuluh kabupaten dan kota lain, termasuk Malang, Kediri, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Probolinggo, Bali, dan Situbondo.
Bahkan menurutnya, beberapa diaspora asal Banyuwangi dari Sorong Papua, Sumatera Selatan, dan penari dari Amerika juga ikut menari bersama ribuan Gandrung lainnya.
“Tahun ini spesial. Ada teman-teman dari luar daerah, dari Papua, bahkan dari Amerika. Juga ada 50 kepala desa yang ikut menari,” ungkapnya.
Ia berpesan, seluruh penari bisa memanfaatkan waktu latihan dengan maksimal agar mampu memberikan kemampuan terbaik saat pementasan nanti. Sebab, para peserta sudah dipilih dari sekian banyak yang ikut seleksi.
"Latihlah dengan giat dan niat yang tulus agar tampil maksimal. Ini bukan hanya untuk Banyuwangi, tapi juga untuk Indonesia,” katanya.
Salah satu penari yang mencuri perhatian adalah Dian Novita, penari tradisional asal Tegaldlimo, Banyuwangi, yang telah menetap di Milwaukee, Wisconsin sejak 2016. Dia mengaku datang khusus bersama sang suami untuk ikut Gandrung Sewu.
“Saya sangat antusias. Ini pertama kalinya saya ikut Gandrung Sewu di Banyuwangi. Meski menempuh 18 jam perjalanan dari Amerika, saya tetap semangat,” katanya.
Ia mengaku kagum dengan keguyuban masyarakat dan makna budaya Gandrung Sewu yang telah dikenal hingga mancanegara.
“Ini event yang sangat prestisius dan membanggakan,” ujarnya.
Advertisement