Pagar Nusa Mojokerto Laporkan Narator Trans7 ke Polisi, Protes Narasi Diduga Lecehkan Santri
Pagar Nusa Mojokerto, memprotes sekaligus melaporkan salah satu episode program “Xpose Uncensored” yang tayang di Trans7 ke Polres Mojokerto.
Lembaga bela diri di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU), menilai tayangan Trans7 itu merendahkan martabat pesantren dan santri.
Falam.laporannya, Pagar Nusa Mojokerto ini langsung menyasar personil yang diduga terlibat langsung dalam.episode program tersebut. Yakni. Diera Fajriah Larasati, disebut sebagai narator atau pengisi suara dalam tayangan tersebut.
Program itu diketahui ditayangkan pada Senin, 13 Oktober 2025, pukul 17.15 hingga 18.00 WIB.
“Dalam narasi siaran itu, ada kalimat yang menyebut ‘para santri rela jalan jongkok demi seteguk susu’. Bahkan sistem pendidikan pesantren digambarkan seperti feodalisme masa penjajahan,” ungkap Ketua LBH Pagar Nusa Mojokerto, Mujiono, kepada sejumlah jurnalis. Senin (20/10/2025).
Menurutnya, penyampaian narasi dan visual yang ditampilkan telah memberi kesan buruk terhadap dunia pesantren yang selama ini berperan besar dalam pembentukan karakter generasi muda.
“Itu bukan sekadar lelucon atau gaya bahasa televisi. Kami anggap itu sudah masuk pada wilayah penghinaan dan fitnah terhadap lembaga pendidikan Islam. Santri dijadikan bahan ejekan,” tegasnya.
Pagar Nusa menilai tayangan tersebut berpotensi melanggar Pasal 310 dan 311 KUHP tentang pencemaran nama baik, serta Pasal 28 ayat 1 UU ITE terkait penyebaran informasi menyesatkan yang menimbulkan kebencian.
Selain naratornya, mereka juga mendesak kepolisian agar meneruskan perkara ini ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
“Pihak stasiun televisinya juga harus ikut bertanggung jawab. Konten seperti itu sangat sensitif terhadap nilai agama dan budaya pesantren. Kami minta KPI menjatuhkan sanksi administratif,” tambah Mujiono.
Ia menyebut sejumlah tokoh NU turut merasa keberatan l. Karena tayangan itu juga menampilkan sosok kiai yang dikenal publik tanpa seizin yang bersangkutan.
“Ini bukan sekadar persoalan perasaan santri tersinggung. Yang dipertaruhkan adalah martabat pesantren sebagai institusi pendidikan Islam. Kami akan kawal sampai tuntas,” pungkasnya.
Advertisement