Nelayan Kenjeran Dibikin Resah Survei SUTET untuk Pembangunan OERR?
Tiga orang tak dikenal mendatangi salah satu Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan di Kenjeran, Senin siang 7 Juli 2025. Dua dia antaranya memakai seragam militer. Sedangkan satu orang lainnya memakai baju bebas. Salah satu dari yang dua orang memakai seragam militer itu memperkenalkan diri sebagai anggota TNI AL.
Dalam perkenalannya, orang yang berbaju seragam itu bilang dapat perintah dari panglima untuk mengawal pembangunan tower Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi atau sering disebut sebagai SUTET.
Mereka juga bilang pembangunan SUTET ini bagian dari rencana pembangunan Outer East Ring Road (OERR). Mereka kemudian minta diantar dengan menggunakan perahu nelayan ke area pembangunan SUTET.
"Tanpa prasangka buruk, warga kemudian mengantar dua orang itu ke area yang dimaksud ke area Kejawan Putih. Atau arah sedimen pasir pasir-pasir kerang, melihat-lihat lokasi," kata Heru Budiarto, Koordinator Forum Masyarakat Madani Maritim, Senin 7 Juli 2025.
Survei yang mereka lakukan tak berlangsung lama. Hanya berjalan sekitar 30 menit saja. Mereka kemudian kembali.
"Terimakasih saja, tanpa memberikan uang pengganti bahan bakar buat perahu nelayan yang ngantar," kata Heru.
Warga Belum Terima Sosialisasi Soal Proyek OERR
Awalnya, warga bisa saja. Tapi kemudian mereka baru ngeh jika rencana jika bisa mengganggu penghasilan mereka. Apalagi sepengetahuan warga, area SUTET itu berbahaya yang harus dijauhi. Lalu, nelayan laut dangkal akan mencari ikan di mana? Tambah lagi, warga mengklaim belum menerima sosialisasi soal rencana proyek OERR ini.
Walikota Surabaya, Eri Cahyadi sebelumnya diketahui memang pernah menyampaikan akan mengubah jalur OERR ini. Saat itu, Eri Cahyadi menyebut akan ubah rute OERR ini dari rencana awal yang melewati Jalan Middle East Ring Road (MERR), digeser ke sisi luar di Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya). Alasannya, kalau digeser ke sisi luar Pantai Timur Surabaya, diklaim bisa menekan anggaran pembebasan lahan.
Proyek ini kata Eri Cahyadi menelan anggaran sekitar Rp. 7 Triliun. Namun apabila digeser ke sisi luar Pantai Timur Surabaya bisa hemat sekitar 30 persen untuk pembebasan lahannya.
"JLLT itu digeser ya, bukan lewat yang perencanaan awal. Ini akan kita sampaikan kepada kementerian. Jadi, JLLT akan melintasi daerah-daerah pantai, tidak lagi ke tengah kota yang menuju Jalan MERR," ujar Walikota Eri, Senin 26 Agustus 2024 yang lalu.
Outer East Ring Road ini rencananya akan memiliki panjang sekitar 16,8 kilometer akan melintasi enam kecamatan di Kota Surabaya. Mulai dari Kecamatan Kenjeran, Bulak, Mulyorejo, Sukolilo, Rungkut dan Gunung Anyar.
Sementara itu, General Manager PLN Unit Induk Distribus (UID) Jawa Timur, Ahmad Mustaqir belum bisa memastikan apakah benar PLN sedang melakukan survei untuk pembangunan SUTET di sekitar Kenjeran. "Saya coba tanyakan ke tim dan teman-teman UIP dan UIT ya Pak," dalam pesan singkatnya.
Warga Juga Cemas Soal SWL
Selain Outer East Ring Road ini warga Kenjeran dan Pantai Timur Surabaya sebenarnya juga sedang resah soal Proyek Strategis Nasional (PSN) Surabaya Waterfront Land. Proyek Surabaya Waterfront Land ini dikelola oleh PT Granting Jaya. Perkiraannya akan menelan biaya sekitar mencapai Rp 72 triliun.
Warga menolak proyek ini akan mereklamasi laut yang dikhawatirkan akan merusak keseimbangan ekosistem pesisir, termasuk hutan mangrove dan kehidupan biota laut di kawasan tersebut. Dampaknya juga dirasakan langsung oleh nelayan tradisional yang menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan laut.
Advertisement