Lonjakan Proposal Penelitian Dosen Capai 104.546 di 2026, Anggaran Jadi Kendala
Minat dosen di perguruan tinggi untuk mendapatkan hibah penelitian dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terus meningkat. Namun, alokasi dana penelitian masih terbatas sehingga perlu terobosan untuk mendukung pendanaan riset para dosen di kampus.
Tingginya minat terlihat dari 104.000 proposal yang masuk, namun hanya 18.215 proposal yang berhasil didanai, dengan tingkat keberhasilan sekitar 17,4 persen. Untuk kategori penelitian murni, tingkat kelolosan bahkan turun menjadi sekitar 13 persen. “Sekarang hampir sepuluh orang baru satu dapat dana,” ujar Fauzan menggambarkan ketatnya kompetisi.
Meski demikian, Kemdiktisaintek menilai tingginya partisipasi tersebut sebagai indikator positif bagi perkembangan riset di Indonesia, dan berkomitmen terus mengoptimalkan pendanaan serta membuka ruang komunikasi dengan para peneliti.
”Alokasi dana penelitian dari APBN di Kemendiktisaintek tidak turun. Alokasi dana Rp 1,7 triliun untuk hibah penelitian ini baru yang diumumkan pada 9 April. Dana ini juga bukan total seluruh anggaran riset di Kemendiktisaintek,” kata Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Fauzan Adziman saat Penandatanganan Kontrak Program Pendanaan Riset dan Pengembangan 2026 di Jakarta, Selasa 21 April 2026.
Menurut Fauzan, alokasi dana Rp 1,7 triliun tersebut untuk alokasi riset sebanyak 18.215 proposal. Pengajuan proposal yang masuk tahun ini mencapai 104.546 penelitian sehingga tingkat kesuksesan berkisar 17,4 persen. Di tahun lalu kesuksesan bisa 32 persen.
Fauzan mengklarifikasi, alokasi dana penelitian sebesar Rp1,7 triliun yang baru-baru ini diumumkan bukan merupakan total keseluruhan anggaran penelitian nasional untuk perguruan tinggi pada tahun 2026.
Angka Rp1,7 triliun tersebut hanya mencakup sembilan program pendanaan dari APBN yang telah dibuka skemanya.
“Jadi kalau kita gabungkan dana abadi penelitian dan perguruan tinggi dengan tadi dana penelitian kita dari APBN plus lagi dana di BRIN itu totalnya sekitar Rp8 triliun,” kata Fauzan.
Ia menegaskan bahwa total anggaran riset nasional yang dapat diakses perguruan tinggi jauh lebih besar, yakni sekitar Rp8 triliun, yang berasal dari berbagai sumber seperti APBN Kemdiktisaintek, dana abadi LPDP, serta program riset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Fauzan juga memastikan bahwa tidak terjadi penurunan anggaran riset pada tahun ini. Sejumlah program lain, termasuk hilirisasi riset prioritas, masih dalam proses dan akan diumumkan secara bertahap.
Menurutnya, tahap awal pendanaan difokuskan pada pemerataan akses agar lebih banyak kampus dan peneliti muda dapat terlibat dalam ekosistem riset nasional.
Advertisement