Mengingatkan Kasus Munir: 21 Tahun Pembunuhan Aktivis HAM Belum Terungkap
Tanggal 7 September 2025 menandai 21 tahun wafatnya Munir Said Thalib, aktivis hak asasi manusia (HAM) yang tewas diracun arsenik dalam penerbangan menuju Belanda pada 7 September 2004. Hingga kini, kasus pembunuhan Munir masih menyisakan tanda tanya besar karena aktor intelektual di balik tragedi itu tak pernah terungkap.
Aksi Solidaritas 21 Tahun Munir
Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (KASUM) bersama Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menggelar aksi peringatan di depan kantor Komnas HAM RI, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu 7 September 2025.
Dalam aksi tersebut, massa menuntut negara untuk:
Mengusut tuntas kasus pembunuhan Munir,
Memastikan akuntabilitas hukum,
Menjamin perlindungan hak asasi manusia agar kejadian serupa tidak terulang.
Dari laman KontraS, disebutkan, bahwa kasus Munir merupakan tindak pidana luar biasa (extra ordinary crimes) atau pelanggaran HAM yang berat (gross violations of human rights) atau bahkan dinilai sebagai kejahatan yang amat serius (the most serious crimes) seperti kejahatan melawan kemanusiaan (crimes against humanity) yang direncanakan melalui operasi rahasia.
Petinggi intelijen tak hanya menyalahgunakan badan intelijen, tapi juga maskapai penerbangan milik negara, dengan demikian semakin jelas bahwa peristiwa meninggalnya Munir Said Thalib merupakan suatu peristiwa pelanggaran HAM berat.
Sikap Komnas HAM
Ketua Komnas HAM Anis Hidayah menegaskan bahwa penyelidikan proyustisia terkait dugaan pelanggaran HAM berat dalam kasus Munir masih menghadapi hambatan serius.
“Saat ini, Tim Penyelidik masih dihadapkan pada sejumlah tantangan dalam proses menghadirkan para saksi untuk dimintai keterangannya,” ujar Anis dalam keterangan resmi, Senin 8 September 2025.
Sejak dibentuk melalui SK Ketua Komnas HAM Nomor 11 Tahun 2023 tertanggal 2 Januari 2025 dan diperpanjang dengan SK Nomor 17 Tahun 2025 pada 5 Maret 2025, tim ad hoc telah melakukan sejumlah langkah, namun penyelidikan belum juga menemukan titik terang.
Munir, Nafas Perlawanan
Munir lahir di Malang, Jawa Timur, pada 8 Desember 1965. Meski usianya tak panjang, dedikasi dan perjuangannya membela korban pelanggaran HAM membuatnya dijuluki “Panglima HAM Indonesia.”
Ia meninggal pada usia 38 tahun, namun semangatnya masih terus hidup dalam perjuangan masyarakat sipil, aktivis, dan korban ketidakadilan. Setiap tahun, berbagai elemen masyarakat mengingatkan negara agar tidak melupakan kasus ini.
Momentum 7 September
Sejak 7 September 2004 hingga 7 September 2025, peringatan wafatnya Munir selalu menjadi simbol perjuangan menegakkan HAM di Indonesia. Kasus ini menjadi ujian serius bagi negara dalam menunjukkan komitmennya terhadap keadilan dan perlindungan hak asasi manusia.
Advertisement