Mbah Tinah 120 Tahun, Baru Sekarang Merasa Ada yang Peduli
UMUR panjang memang anugerah. Tapi kalau umur terlalu panjang juga semakin panjang pula ujian yang diberikan Tuhan, untuk mengukur kadar rasa syukur umatnya.
Begitulah hal yang dialami seorang nenek berumur 120 tahun, Mbah Tinah, begitu biasa ia dipanggil masyarakat Desa Rejomulyo, Karang Jati, Ngawi, Jawa Timur.
Sehari-harinya ia hidup sebatangkara, tanpak sanak, tanpa saudara, di sebuah gubuk berukuran 3x3 meter berdinding gedek berlantai sak karung plastik basah karena kehujanan. Kondisi bangunan reot bahkan nyaris rubuh bila tertepa angin.
Hidup keseharian ditopang oleh tetangga yang berbelas kasih ala kadarnya. Kondisi fisiknya tak bisa dibilang sehat, tak bisa dibilang sakit, berjalan ia masih sanggup, namun tergopoh dan harus dibantu tongkat.
Dengan kondisi renta, teman dan keluarga yang seusianya sudah hilang dimakan usia. Namun, sebenarnya ia mengaku masih punya satu saudara yang kini tinggal di Madiun. Tapi saudaranya itu tega tak mau merawat dan meninggalkan Mbah Tinah hidup sendirian.
"Saya itu tidak ada yang rawat, punya saudara satu saja tinggal di Madiun nggak pernah ke sini kok ya kebangeten," keluhnya.
Ia mengaku saudaranaya itu begitu tega padanya. Tinah muda, adalah seorang buruh, ia harus menjalani profesi itu untuk merawat dan menghidupi saudaranya saat masih kecil.
"Saat kecil saudaraku itu saya yang rawat, tapi kok ya tega sekarang," kata Mbah Tinah.
Dengan usianya yang semakin renta, Mbah Tinah ternyata berdoa agar tuhan segera mencabut nyawanya. Ia tak menyerah pada ujian hidupnya, tapi ia mengaku memasrahkan segalanya termasuk hidupnya pada Sang Kuasa.
Kini Mbah Tinah bisa sedikit bernafas lega. Gubuknya itu awal Juli 2017 lalu direnofasi oleh aktivis kemanusiaan ICN Peduli. Bukan soal gubuknya kini lebih layak huni dibanding sebelumnya, tapi ternyata ada orang yang peduli. (frd)