Maestro Mengajar: Upaya Banyuwangi Lestarikan Tari Gandrung, Libatkan 3 Maestro Legendaris
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), kembali menggelar program “Maestro Mengajar”. Program ini sempat vakum beberapa tahun. Maestro Mengajar kini dilengkapi dengan Kelas Kreatif.
Pada pelaksanaan kali ini, Maestro Mengajar menggandeng Banyuwangi Youth Creative Network (BYCN), sebuah wadah bagi 17 sub-sektor ekonomi kreatif. Kegiatan ini menghadirkan tiga maestro legenda Tari Gandrung, yakni Temu, Sudartik, dan Sunasih. Mereka telah puluhan tahun berpengalaman menari Gandrung, bahkan pernah tampil di luar negeri.
Analisis Kebijakan Ahli Muda Bidang Ekonomi Kreatif Disbudpar Banyuwangi, Dwi Susanti, mengapresiasi kembali digelarnya program ini.
"Kegiatan ini dulu pernah digagas oleh teman-teman BYCN pada tahun 2021, sempat vakum beberapa tahun, pada tahun 2025 ini, kembali digelar di Banyuwangi Creative Hub yang dikemas dalam kelas kreatif," katanya, Minggu, 13 September 2025.
Program Maestro Mengajar ini, menurutnya, untuk mengembangkan sub-sektor seni pertunjukan sekaligus memastikan generasi muda Banyuwangi mampu melestarikan budaya mereka. Puluhan anak muda dari berbagai kalangan, termasuk siswa SMKN 1 Banyuwangi, SMA Taruna Budaya Rogojampi, dan umum, menunjukkan antusiasme tinggi. Informasi mengenai kegiatan ini mereka dapatkan dari akun resmi Instagram @bwi.ch.
Para peserta tidak hanya belajar gerak dasar tari, tetapi juga mendalami filosofi di baliknya. Tari Gandrung merupakan tarian khas Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Selain itu, mereka juga mendapat kesempatan langka untuk belajar teknik dasar sinden Osing Banyuwangi langsung dari para ahlinya.
Dengan kolaborasi pemerintah daerah dengan komunitas kreatif, dan para maestro, program Maestro Mengajar ini akan menjadi jembatan antara generasi tua dan muda. Program ini tidak hanya melestarikan Tari Gandrung sebagai warisan budaya, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta dan bangga pada identitas lokal di kalangan anak muda.
Kembalinya program ini menandai komitmen Pemkab Banyuwangi untuk terus mendukung dan mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif. Program-program seperti ini sangat penting untuk memastikan kekayaan budaya tetap hidup, beregenerasi, dan menjadi inspirasi bagi kemajuan daerah di masa depan.
Kelas kreatif ini juga diikuti seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Kota Palu, Sulawesi Tengah, Novie. Kebetulan dia sedang menjalani program magang di Banyuwangi. Ia merasa terkesan karena seni tari tradisional ini berhasil dilestarikan dan diturunkan kepada generasi muda.
"Kegiatan ini sangat keren, saya yang jauh dari Kota Palu jadi tahu siapa para maestro Gandrung yang sudah sampai melanglangbuana," ungkapnya.
Pengalaman ini memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya ketekunan dan kesabaran dalam menguasai seni tradisional. Novie juga mendapatkan pelajaran berharga dari kegiatan ini.
"Satu hal yang paling mengena, dalam proses belajar itu harus butuh waktu lama untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal," ujarnya.
Advertisement