Lipstick Effect Lagi Viral: Saat Ekonomi Sulit, Orang Justru Ramai Ngopi, Healing dan Beli Skincare
Fenomena lipstick effect kembali ramai diperbincangkan di banyak negara, termasuk Indonesia. Di tengah ekonomi yang terasa makin berat, muncul anomali perilaku masyarakat: pembelian barang mewah besar turun, tetapi konsumsi “kemewahan kecil” justru meningkat.
Orang mulai menahan diri membeli mobil baru, apartemen, tas mahal, atau liburan ke luar negeri. Namun di sisi lain, mereka tetap rela mengeluarkan uang untuk parfum murah, skincare, kopi premium, konser musik, thrifting, hingga aktivitas healing.
Pengamat sosial-politik dari Lab45, Haryadi, menyebut fenomena itu bukan lagi sekadar urusan gaya hidup. Menurutnya, lipstick effect kini berkaitan erat dengan tekanan ekonomi, psikologi masyarakat, hingga budaya media sosial.
“Barang kecil itu bukan lagi sekadar produk konsumsi. Tapi menjadi simbol kepuasan emosional, status sosial, dan cara bertahan secara psikologis di tengah tekanan ekonomi,” tulis Haryadi dalam kajiannya, Kamis 28 Mei 2026.
Istilah lipstick effect sendiri sebenarnya sudah muncul sejak era Depresi Besar di Amerika Serikat pada 1930-an. Saat banyak industri bangkrut dan ekonomi terpuruk, penjualan kosmetik justru melonjak tajam.
Kala itu, kosmetik menjadi cara paling murah bagi perempuan untuk tetap merasa percaya diri dan berharga di tengah situasi sulit.
Fenomena serupa juga muncul pasca Perang Dunia II. Rumah mode dunia seperti Dior, Chanel, Hermes hingga Louis Vuitton mulai menjual parfum dan lipstick sebagai “pintu masuk murah” agar masyarakat tetap bisa merasakan gaya hidup kelas atas.
Tren itu kembali terlihat setelah tragedi 9/11 pada 2001. Saat ekonomi dunia terguncang, penjualan lipstick Estee Lauder justru naik hingga 11 persen. Dari situlah kemudian muncul istilah lipstick index.
Namun di era digital sekarang, bentuknya makin berkembang. Bukan hanya lipstick, tetapi meluas menjadi skincare, kopi kekinian, konser musik, blind box, kuliner viral, hingga window shopping.
Mimpi Besar yang Mulai Terasa Mustahil
Haryadi melihat ada beberapa penyebab utama mengapa fenomena ini kembali menguat.
Pertama adalah “macetnya mimpi besar”.
Generasi muda, terutama Gen Y dan Gen Z, mulai merasa memiliki rumah, apartemen, atau mobil baru menjadi sesuatu yang terlalu jauh dari jangkauan pendapatan mereka.
Karena mimpi besar terasa sulit dicapai, banyak orang akhirnya memilih membangun “kebahagiaan kecil” yang bisa dibeli hari ini.
“Ngopi, main padel, beli skincare, nonton konser atau sekadar self reward menjadi pelarian yang terasa lebih realistis,” jelasnya.
Penyebab kedua adalah munculnya budaya self-reward. Di tengah tekanan kerja dan ketidakpastian ekonomi, banyak orang tidak lagi melihat pengeluaran kecil sebagai pemborosan.
Sebaliknya, itu dianggap sebagai cara menjaga kesehatan mental dan kewarasan hidup.
Media Sosial Memperbesar Fenomena
Faktor lain yang mempercepat lipstick effect adalah media sosial.
TikTok, Instagram, dan YouTube dinilai menciptakan budaya pencitraan permanen. Orang merasa harus tetap terlihat “baik-baik saja” di ruang digital, meski kondisi ekonomi sedang sulit.
Akibatnya, konsumsi berubah fungsi. Bukan hanya memenuhi kebutuhan, tetapi juga menjaga eksistensi sosial.
“Beli kopi mahal atau menonton konser menjadi cara termurah agar tetap terlihat berada dalam lingkar sosial digital,” kata Haryadi.
Fenomena ini juga diperparah oleh menurunnya mobilitas sosial. Ketika masyarakat merasa makin sulit naik kelas dan masa depan terasa tidak pasti, maka konsumsi kecil menjadi kompensasi psikologis.
Sinyal Bahaya untuk Kelas Menengah
Meski terlihat seperti tren gaya hidup biasa, Haryadi menilai lipstick effect justru bisa menjadi sinyal bahaya ekonomi.
Menurutnya, meningkatnya konsumsi mikro bukan berarti kondisi masyarakat sedang baik-baik saja. Sebaliknya, itu menunjukkan kelas menengah mulai kehilangan rasa percaya diri terhadap masa depan ekonomi.
“Masyarakat sedang masuk ke mode emotional survival,” ujarnya.
Jika kondisi ini berlangsung lama, dampaknya bisa serius. Tabungan rumah tangga menurun, daya tahan ekonomi keluarga melemah, dan sektor riil seperti otomotif, properti, hingga manufaktur berpotensi stagnan.
Karena itu, negara diminta tidak hanya melihat fenomena ini sebagai tren konsumsi biasa.
Pemerintah dinilai perlu mengatasi akar persoalan struktural yang membuat masyarakat stres secara ekonomi.
Meski demikian, Haryadi menilai konsumsi mikro tetap memiliki sisi positif karena membantu menggerakkan ekonomi kreatif dan UMKM.
“Yang perlu diperbaiki bukan kebiasaan ngopinya, tapi sumber kecemasan ekonominya,” tulisnya.
Pada akhirnya, lipstick effect dianggap menjadi gambaran bahwa krisis modern hari ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga krisis psikologis, simbolik, dan identitas sosial.
Di balik ramainya tren healing, kopi kekinian, skincare, hingga konser musik, tersimpan kegelisahan kelas menengah yang sedang lelah menghadapi realitas ekonomi yang makin berat.
Advertisement