Kritik Sosial yang Manis ala Reza
RWilis
Sejak film ini belum resmi dirilis, Pangku sudah menjadi buah bibir. Film debut Reza Rahardian sebagai sutradara dan penulis skenario bersama Felix Nessi ini menembus festival bergengsi seperti Busan International Film Festival serta membawa pulang empat penghargaan. Juga mendapat tujuh nominasi Festival Film Indonesia.
Lini masa tentang film ini pun ramai. Bukan itu saja, yang penasaran kisahnya dalam dunia nyata pun berburu hal ihwal yang menjadi judul film ini.
Reza tidak perlu memainkan konflik yang keras, scene demi scene telah mewakili pergulatan manusia. Tidak perlu nyinyir menampilkan wajah kemiskinan, gambarlah yang bicara. Tidak perlu nasihat berbusa-busa atau sindiran yang sarkas — permainan tokoh yang pas memainkan sandiwara yang getir dan berhasil membuat mata mengambang, mrebes mili.
Gambar Berbicara
Reza tetaplah Reza yang detil dan teliti dengan properti film yang berlatar di tahun-tahun krisis moneter, 1998. Bukan hanya gambar penuh kesedihan, ruang makan atau lebih tepat disebut angkringan berlatar laut utara menjadi tidak mengerikan meski berada di pinggiran pantai yang penuh rongsokan.
Reza juga berhasil meramu gambar yang cukup menghibur. Memangnya orang miskin tidak boleh piknik?
Kemudian ada ibu peri, Christine Hakim, yang selalu total tanpa tanding. Simbok yang rambutnya lepek, kulitnya berminyak, dan cara duduknya memang harus begitu — tak perlu banyak cakap untuk menjadi roh film ini. Pemain karakter yang paripurna sekali, seng ada lawan.
Reza banyak bicara simbol. Christine selalu berhasil menerjemahkan simbol dalam mimik, gerak-gerik tubuh. Potongan gambar mengalir dalam alur yang mulus. Bila penonton jeli, cukuplah dua adegan Simbok menjemur kasur dan mengangkatnya.
Bilik kecil di warung reyot itu bukan hanya tempat merebahkan diri pemilik warung, tapi sekaligus tempat pelanggan yang butuh “ngamar”. Reza menyajikan kawasan remang-remang tanpa perlu membuat penonton alergi atau berdebar. Ini bukan film tentang itu — tetapi lebih dari itu.
Konflik Datar
Bila ada kritik dari film ini yang mengganggu adalah Reza kurang menggarap konflik saat adegan Bayu mau sekolah. Sepanjang film boleh dibilang tanpa konflik dengan kurva tajam, landai saja, sedikit naik turun. Padahal scene ini bisa menjadi titik kekuatan Sartika memperjuangkan anaknya bisa sekolah, karena pendidikan adalah hak setiap anak bangsa.
Apakah karena Tika mesti menunggu dewa penolong? Solusinya jadi klise, terasa terburu-buru. Mungkinkah karena mengejar tenggat festival?
Saya membayangkan pengalaman netizen yang saya baca di Mojok.co, yang mempunyai ibu seperti Sartika — menyajikan kopi di warungnya dan menyediakan jasa pangku. Anak itu kerap dibully. Saat dia mempertanyakan pekerjaan ibunya, hanya mendapat jawaban, “Anak kecil ngerti apa?”
Pada akhirnya, si anak menyadari bahwa dengan bekerja seperti itu, ibunya bisa menghidupi keluarga dan anaknya bisa sekolah. Pada proses selanjutnya, si ibu tetap membuka warung kopi tapi tidak lagi melayani jasa pangkon.
Seperti Sartika. Perjalanannya naik turun, seperti banyak perempuan yang menjadi bread winner seorang diri untuk anak dan keluarganya.
Tika yang hamil besar, putus asa, dan butuh pekerjaan. Bertemu ibu peri yang dipanggil Simbok. Hidup numpang dan menjalani pelayan warung plus-plus, lalu dipertemukan dengan sosok yang mau jadi Ayah Bayu. Jadi Bayu bisa punya akta kelahiran. Bayu bisa sekolah. Sim salabim, ya.
Apakah demikian mudahnya? Baiklah, lupakan keruwetan, karena masih banyak keruwetan lain — ciri khas daerah yang tak pernah tuntas dan tak kunjung lepas dari kemiskinan.
Dalam kondisi hamil anak kedua, ternyata Tika kembali bernasib sama. Harus kembali meluncur dalam dunia malam yang toh justru menghidupinya.
Satu lagi, sangat sedikit terdengar bahasa lokal. Hanya ada satu yang bisa jadi diperankan artis lokal.
Kabar baiknya, sekali lagi, gambar lebih berbicara. Reza memang tuan yang sempurna, perfectionist. Untunglah.
Penonton pasti lega, akhirnya Sartika Puspita menjadi perempuan berdaya, meski sempat menjadi korban kedua kali dibohongi laki-laki. Keberpihakan Reza adalah menjadikan laki-laki pembohong itulah yang sebenarnya menjadi penolong. Di sini terasa agak membagongkan.
Merasakan kemiskinan struktural yang membelit orang-orang terpinggirkan seperti Tika, Simbok, dan tetangga mereka. Mengapa tidak ada cinta yang benar untuk mereka? Yang datang dan pergi hanya laki-laki pembawa nafsu dan recehan. Dunia memang kejam sekali.
Epilog yang Menyentuh
Reza menutup film ini dengan manis namun menyentuh. Sofa buluk singgasana ibu peri, teronggok merana. Warung yang pernah menjadi simbol perjuangan ibu dan Simboknya beralih menjadi kawasan industri.
Bayu telah tumbuh menjadi penerus ibunya yang pemberani. Mie ayam menjadi ladang kehidupan mereka.
Bisa jadi ini seperti cerita anak di tulisan Mojok.co pada alinea sebelum ini — mengubah nasib itu memang proses panjang.
Manusia akan dipertemukan pada titik kesadaran setelah proses pencarian yang berliku dan menyakitkan. Semua harus dijalani. Mau tidak mau. Pantura dan kehidupan di sana hanya satu titik pengingat itu.
Lagu Ibu karya Iwan Fals menjadi epilog yang mengingatkan bahwa apa pun keadaannya, ada makhluk bernama Ibu yang tidak akan menyerah membela manusia-manusia yang dititipkan padanya.
Sartika Puspita adalah perempuan pejuang, pahlawan keluarga yang hanya tahu membela anak-anaknya demi kehidupan yang dihadiahkan padanya.
Apakah dia tahu bahwa itu juga adalah membela kemanusiaan? Jadi Pangku sebenarnya tentang itu.
Advertisement