Jalan Lintas Utara Lamongan Dibuka Lagi, Uji Coba Sebulan
Jalan lintas utara (JLU Lamongan kembali dioperasionalkan. Sekalipun, sifatnya juga baru sebatas uji coba, menyusul selesainya pemasangan kekurangan alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL).
Menurut Pejabat Pembuat Komitmen Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (PPK BBPJN) Jatim-Bali, Arvian Zanuardi, uji coba akan berlangsung selama sebulan ke depan.
Itupun, saat pembukaan operasional , sementara baru diberlakukan bagi kendaraan dari arah barat. Sedang dari arah timur sedang dipersiapkan.
Uji coba berlaku untuk semua jenis kendaraan bermotor. Mulai kendaraan bermotor roda dua, empat atau lebih.
“Memang ini menjadi harapan masyarakat. Kemarin sempat dibuka dan ditutup kembali, karena ada hal-hal yang harus dilengkapi dulu fasilitas keselamatan,” ujar Arvian, Kamis 6 November 2025.
Setelah sebulan, lanjut Arvian, uji coba ini akan menjadi bahan evaluasi sebagai dasar kesiapan untuk membuka JLU tersebut secara resmi.
Adapun sistem evaluasinya, BBPJN akan menerapkan pola evaluasi di pertengahan dan akhir periode. Jika hasil evaluasi ternyata dinilai masih belum memungkinkan untuk dibuka secara resmi, uji coba akan diperpanjang.
“Jika diperlukan, akan kami perpanjang uji coba operasionalnya, sampai nanti resmi dibuka,” terangnya.
Sekedar informasi, JLU Lamongan dibangun dengan dana APBN. Sepanjang sepanjang 7,15 kilometer, melintas beberapa desa tiga kecamatan.
Dari arah timur (Surabaya), pintu masuk JLU lewat Desa Rejosari, Kecamatan Deket melintasi desa di Kecamatan Yuro dan menuju pintu keluar berada di Desa Plosowahyu. Kecamatan Lamongan. Demikian sebaliknya dari arah barat (Babat).
Jalan lintas utara (JLU) Lamongan ini diresmikan bertepatan pada HUT RI ke-80, 17 Agustus 2025 oleh Bupati Yuhronur Efendi. Tetapi, status operasional bersifat uji coba.
Sebulan kemudian, uji coba terpaksa harus dihentikan, karena sering terjadi kecelakaan lalu-lintas hingga memakan korban.meninggal dunia.
Bahkan, sempat diunjukrasa warga Desa Balun, Kecamatan Turi. Kebetulan di wilayahnya terdapat persimpangan, yang kerap terjadi kecelakaan.
Tuntutannya saat itu agar pemerintah menutup kembali JLU sebelum pemasangan APILL di beberapa titik persimpangan lengkap, termasuk penerangan jalan.
Pembangunan JLU Lamongan ini sudah terencana 15 tahun lebih. Bahkan, saat itu sudah tersedia lahan, hanya kurang sebagian yang belum dilakukan pembebasan lahan.
Pembangunan baru terwujud setelah dilanjutkan Bupati Yuhronur Efendi, yang berisiniatif segera melakukan pembebasan tanah lewat sebagian anggaran dari APBD Lamongan.
Solusi Kemacetan Jalur Lamongan -Surabaya
Operasional JLU diharapkan mampu mengurai kemacetan lalu lintas jalan raya jurusan Babat (Lamongan) - Surabaya atau sebaliknya, yang selama ini sering macet.
Apalagi di musim penghujan, jalur Lamongan - Surabaya dipastikan macet, karena harus melintasi dua jalur rel kereta api, yang posisinya melintang jalan raya.
Yakni, jika dari arah timur akan melintasi alur rel kereta api di dekat Stadion Surajaya Lamongan dan akan melintas lagi rel kereta api di barat Terminal Lamongan.
Saat melintas rel, kendaraan dipastikan melambat hingga akan memperlambat laju kendaraan di belakang yang mengakibatkan kemacetan. Belum lagi jika ada perbaikan rel.