Imam Abu Hanifah, Ulama Tinggi Ilmu dan Akhlaknya
Penulis: Nurul Huda
Imam Abu Hanifah terkenal sebagai ulama yang warak suka membantu sesama. Selain ketinggian ilmunya, banyak ulama lain memuji keutamaan akhlak beliau. Suatu ketika, Jubarah bin al-Mughallis bercerita bahwa pernah mendengar Qais bin ar-Rabi’ memuji Abu Hanifah.
“Abu Hanifah adalah seorang amat warak (soleh) dan benar-benar taat beragama, ia juga gemar menebar kebaikan kepada sesama,” ucap Qais. Sementara itu dalam kitab kitab Tadzkirah al-Auliya, Fariruddin Attar menyebut bahwa Imam Abu Hanifah tiap malam melakukan solat malam sebanyak 300 rakaat.
Ada sebuah kisah tentang solat malamnya ini. Ketekunannya dalam beribadah solat malam ini konon karena sebuah peristiwa. Pada suatu masa, Imam Abu Hanifah mendatangi kampung kaum untuk melakukan dakwah. Dalam sebuah majelis ilmu ada yang berkomentar tentang dirinya. "Orang yang kalian lihat itu tidak pernah tidur malam dan yang jelas beribadah sepanjang malam"
Mendengar kata-kata itu, Imam Abu Hanifah tertegun. Beliau kemudian terbayang atas apa yang dilakukannya sepanjang malam. "Dugaan rang terhadapku ternyata berbeda dengan apa yang saya kerjakan di sisi Allah Subhanahu wa Taa’ala. Demi Allah, jangan pernah orang-orang mengatakan sesuatu yang tidak saya lakukan. Maka mulai saat ini saya tak akan tidur di atas bantal sejak hari ini hingga bertemu dengan Allah Taa’la.”
Solat Malam
Maka semenjak saat itu Imam Abu Abu Hanifah membiasakan seluruh malamnya untuk melakukan solat. Setiap kali malam datang dan kegelapan mulai menyelimuti alam, ketika yang lainnya merebahkan diri untuk tidur, maka Imam Abu Hanifah khusyuk menghadap Allah SWT. Ketika malam mulai tiba, beliau bangkit mengenakan pakaian yang indah, merapikan jenggot dan memakai wewangian. Kemudian mengisi malamnya untuk ketaatan kepada Allah SWT.
Terkadang beliau mengkhatamkan Al-Quran dalam satu rakaat. Terkadang menghabiskan solat semalam dengan satu ayat saja. Konon Imam Abu Hanifah adalah orang yang lebih dari empat puluh tahun melakukan solat malam dengan wudhu solat Isya'. Selama hidupnya, Imam Abu Hanifah pernah mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 7000 kali.
Meskipun Imam Abu Hanifah merahasiakan aktivitas qiyamul-lail, namun tetaplah sebagian orang mengetahuinya. Salah satunya adalah Imam Ibnu Mubarak. Suatu saat Ibnu Mubarak kedatangan seorang lelaki dari Kufah. Akan tetapi lelaki itu mencela Abu Hanifah. Seketika itu Ibnu Mubarak mengatakan, “Celakalah engkau! Apakah engkau mencela seorang yang melaksanakan solat lima waktu dengan satu wudhu selama empat puluh tahun?”
Abu Hanifah, yang bernama asli Nu’man bin Tsabit bin Zutha adalah seorang ulama besar pendiri mazhab Hanafi. Ia termasuk imam mazhab kawakan di antara tiga mazhab muktabar lainnya (mazhab Maliki, mazhab Syafi’i, dan Hanbali). Lahir di kota Kufah, Irak pada tahun 80 H bertepatan dengan tahun 699 M, dan wafat di Baghdad pada 150 H atau tahun 767 M. Menurut Ibnu Katsir ada enam kelompok besar penduduk Baghdad mensolatkan jenazahnya secara bergantian. Hal itu dikarenakan banyaknya orang yang hendak mensolatkan jenazahnya.
Advertisement