Gus Ipul : Ultra Trail Bromo tak Sekadar Ajang Lari
Surabaya : Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) berharap Event ultra trail atau lari lintas alam ultra Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra 3-5 November 2017 mampu meningkatkan minat sport turism di Jawa Timur.
"Saya sangat mengapresiasi, Makanya begitu saya tahu ada event ini, kami memberikan dukungan penuh,’’ kata Gus Ipul ketika menerima panitia Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra di ruang kerja Wagub, Jumat (22/9/2017).
Gus Ipul berharap, event tersebut bisa terus diselenggarakan setiap tahunnya dan akan menjadi kalender pariwisata di Jawa Timur. Event seperti ini cukup dasyat apalagi mereka menggelar Event secara mandiri tanpa mengandalkan bantuan dari Pemerintah.
"Ini ada seribu peserta dan mayoritas mereka mengajak keluarga sehingga Event ini tentu meningkatkan kunjungan wisata serta okupansi hotel di Bromo juga penuh," ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Gus Ipul juga berharap para trail runners Jatim bisa merebut minimal salah satu tempat di podium. ‘’Saya tahu Jatim juga punya banyak pelari trail yang hebat,’’ katanya.
Sekadar diketahui, ribuan pelari ultra trail atau pelari lintas alam ultra ambil bagian dalam even Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra 3-5 November 2017. Mereka berasal dari 34 negara. Mereka berasal dari Prancis, Jerman, Swiss, Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Hongkong, dan sebagainya. Dari Indonesia terdapat 742 peserta. Jawa Timur sebagai tuan rumah menyumbang peserta terbanyak, 196 pelari.
Jumlah ribuan peserta ini tak lepas dari tren positif perkembangan ultra trail, baik di dunia, dan khususnya di tanah air. Sebuah lomba lari lintas alam disebut ultra bila memperlombakan jarak lari di atas jarak lari marathon atau di atas 42 km.
BTS Ultra kali ini digelar untuk kali kelima. Saat lomba BTS ini digelar pertama kali pada 2013 lalu oleh Hendra Wijaya, pesertanya hanya 107 orang. Pada 2016 ada 545 pelari. Dan tahun ini membeludak menjadi 1000 pelari yang lolos kualifikasi.
Jumlah yang mendaftar sebenarnya ada 1303 pelari. Namun banyak dari mereka yang belum memenuhi kualifikasi untuk ikut turun berlari di nomor yang mereka kehendaki. ”Pada saat 2013 itu peserta 170 km hanya 5 orang, itu pun persyaratan kualifikasinya diperlonggar. Tapi sekarang pesertanya menunjukkan pertambahan yang signifikan. Alam kita indah dan cuaca kita mendukung untuk lari sepanjang tahun,” kata Hendra Wijaya, founder BTS Ultra.
Ada empat nomor yang dilombakan dalam BTS Ultra 2017. Jarak yang terjauh 170 km atau 100 mil, yang diikuti 42 pelari laki-perempuan. Peserta untuk nomor ini kualifikasinya harus sudah pernah finis lari ultra trail 100 km dalam lomba sebelumnya. Hampir seluruh pelari elit ultra trail Indonesia turun di nomor ini.
Berikutnya jarak 102 km ada 143 pelari (syaratnya harus sudah finis lomba lari ultra trail 50 km). Nomor berikutnya 70 km ada 338 pelari (syaratnya harus pernah finis lomba lari ultra trail 21 km atau full maraton 42 km). Dan nomor terpendek 30 km ada 454 pelari. ‘’Khusus 30K tidak ada kualifikasi khusus,” kata Race Director BTS Ultra Rudi Rochmansyah.
Setiap nomor tersebut ada cut-off time (CoT) atau batas waktu maksimal bagi pelari untuk bisa disebut finisher atau penamat. CoT untuk masing-masing nomor adalah: 46 jam untuk 170 km, 32 jam untuk 102 km, 18 jam untuk 70 km, dan 7 jam untuk 30 km. Semuanya start dan finis di Lava View Hotel, Desa Wonokitri, Cemoro Lawang, Tosari, Pasuruan, Jawa Timur.
Sebagai contoh untuk rute 170 km start di Lava View Cemoro Lawang lalu turun ke lautan pasir Bromo dan naik ke bukit B29. Selanjutnya menuju Ranu Pane, dan masuk ke jalur pendakian Gunung Semeru mulai Ranu Kumbolo hingga Kalimati.
Kemudian peserta turun menuju ke jalur Ayak-Ayak, Ngadas. Jalak Ijo, Kandangan, Pananjakan, Jetak, B29, Jemplang, Bromo. Batok, dan finish di Cemoro Lawang. Jalur tersebut diberi pertanda (marking) dan ada marshall (penjaga) di beberapa titik demi keamanan peserta.
"Lomba ultra trail tentu lebih berat dibanding lari di jalanan datar atau road makanya kualifikasi dilakukan dengan ketat mengingat keselamatan bersama. Untuk jarak 170 km gainnya (tanjakan) 10000 m, 102 km gain 5265 m, 70 km gain 3000 m, dan 30 km gain 1332 m,” urai Rudi yang juga race director Rinjani100 ini.
Pelari yang berhasil menamatkan lomba ini, khusus untuk nomor 170 km, 102 km, dan 70 km, akan mendapatkan poin. Di mana poin itu dapat digunakan sebagai salah syarat untuk ikut lomba lari serupa yaitu di UTMB (Ultra-Trail du Mont Blanc). UTMB adalah lomba impian bagi pelari trail yang dilangsungkan di Prancis, Swiss, dan Italia.
"Itali adalah hajinya para trail. Mereka sangat merindukan bisa berkumpul dengan ribuan pelari di Itali yang mengharuskan mereka mendapatkan poin dulu. Jadi manasiknya di Bromo, hajinya di Italia," ujarnya.
Salah satu peserta yang akan turun di nomor 170 km adalah Fandi Ahmad alias Agi. Dia adalah langganan podium 1 lari ultra trail di Indonesia belakangan ini dan terakhir dia juara 1 lari ultra trail Bandung 100 km.
Agi yang baru saja pulang dari lomba PTL sejauh 320 km (Petite Trotte à Léon, salah satu race di UTMB) ini mengaku jika dirinya tertantang untuk turun di nomor 170 km karena sebagai anak bangsa dia harus bisa bersaing dengan pelari negeri lain. ”Saya akan berusaha untuk menjuarai lomba ini. Even ultra trail dalam negeri seharusnya dijuarai anak bangsa,” kata Agi bertekad.
Lomba ini selenggarakan oleh F-One Sport dan didukung oleh Kementerian Pariwisata, Kepolisian Republik Indonesia, Taman Nasional BTS, Pemprov Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang. (wah)