Dibantu Siswa SMK Pelabuhan Bajo NTT, Primarasa Tetap Buka di Hari Lebaran dengan Menu Rumahan
Selama bulan Ramadan 1447 H, omzet penjualan restoran di Surabaya naik cukup signifikan. Setiap hari, hampir tak pernah sepi dari pengunjung yang akan buka puasa bersama keluarga dan relasi. Tradisi di bulan puasa untuk mempererat silaturahim.
Puncaknya, pada sepekan menjelang lebaran, jumlah pengunjung restoran melimpah, tak meyisakan tempat bagi yang terlambat datang untuk berbuka. Berbuka puasa bersama di restoran seakan menjadi fenomena dan gaya hidup sebagian masyarakat.
Syarat supaya mendapat tempat, pengunjung harus booking dulu beberapa jam sebelum waktu berbuka. Kalau terlambat harus sabar menunggu di luar, sampai pengunjung di dalam selesai berbuka. Bisa satu jam atau lebih lamanya.
"Bapak sudah booking, Kalau belum mohon maaf di dalam tempatnya sudah penuh," sapa seorang karyawan Restoran Primarasa Jalan Jemur Sari, pada pengunjung yang baru tiba.
"Belum," jawab seorang pengunjung sambil membuka kaca mobilnya.
"Maaf Pak di dalam sudah tidak ada tempat. Kalau Bapak mau menunggu yang di dalam selesai, monggo, tapi mobilnya diparkir di jalan ya, di dalam sudah penuh," ujarnya
Pengunjung itu terlihat kecewa langsung pergi mengarahkan mobilnya ke tempat lain.
Beberapa restoran juga mengalami hal yang sama. Selain penuh, sudah banyak restoran yang tutup sehubungan dengan libur Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Seorang pengunjung menuturkan pengalamannya berbuka di restoran. Idealnya harus booking dulu.
"Niat awal memang ke Primarasa, karena penuh mencoba ke Rumah Makan Kapao yang masih di kawasan Jalan Jemursari, ternyata sudah tutup," ujar pengunjung bernama Aswin.
Waktu itu adzan magrib sudah terdengar. Aswin langsung mengarahkan mobilnya ke sebuah Masjid di daerah Sidoresmo Indah.
"Daripada waktunya habis untuk mutar-mutar lebih baik salat dulu, nanti makannya supaya tenang," ujarnya.
Kekecewaan pengunjung yang satu ini terobati, setelah melihat Restoran Primarasa yang menjadi tujuannya terlihat mulai longgar.
"Alhamdulillah akhirnya dapat satu meja untuk 10 orang, rezekinya memang di sini,” ujar istrinya, yang dipanggil Bu Haji.
Keluarga Aswin dengan pengelola restoran Primarasa Edwin ternyata sudah saling mengenal.
"Saya suka makan di Primarasa, meskipun menu rumahan, tetapi masakannya dan cara menyajikan pada tamu, cukup ramah dan menyenangkan, tamu merasa dilayani dengan baik,” kata Bu Haji.
Di restoran ini ada beberapa menu yang membuat ketagihan. Paling banyak diminati pengunjung adalah menu ayam bakarnya. Sebab, menu itu memiliki cita rasa dan kelezatan yang khas.
“Ayam bakar Primarasa memiliki rasa yang berbeda dengan ayam bakar di rumah makan lain. Memiliki tekstur daging yang empuk seperti dikukus tetapi masih dengan rasa bakarnya,” ungkapnya.
Walaupun begitu, menu lainnya juga tidak kalah enak. Ada gurami bakar, gurami asam manis dan bandeng bakar. Menu minuman yang disajikan juga bernuansa kampung dan punya daya tarik tersendiri. Dari wedang jahe, soda gembira dan aneka juice dari buah segar. Selain aneka macam menu juga menyediakan aneka kue. Salah satu yang terbaru adalah kue Labu Madu, dengan bahan dasar labu kuning.
Di Surabaya, Primarasa ada di beberapa tempat, di samping Jemursari, salah satunya di Jalan Ahmad Yani yang pernah dikunjungi Presiden ke-7 RI Jokowi. Semua di bawah satu manajemen, menu maupun citarasa.
Berbuka di Primarasa Jemursari kali ini terasa berbeda, ditemani langsung pengelolanya, Edwin. Dengan ramah pengusaha muda ini bercerita, sengaja memilih menu rumahan, menu ndeso. Alasannya, disesuaikan dengan selera orang tuanya.
“Buat apa saya membuat masakan Cina, Jepang dan Korea kalau Papa Mama saya tidak bisa makan," kata Edwin.
Masakan yang ia sajikan tersebut dikatakan sebagai penghormatan kepada orangtuanya selaku pendiri Primarasa. Edwin menjelaskan menu di restorannya semua disukai pengunjung. Sulit bagi dirinya menyebut menu terfavorit.
"Ratingnya hampir sama," katanya.
Di Hari Raya Idul Fitri, Restoran Primarasa tetap buka seperti biasa. Baru libur pada 27 Maret 2026. Karyawan yang pulang kampung digantikan siswa SMK Tata Boga Pelabuhan Bajo NTT yang sedang magang.
Untuk melayani buka puasa ia membutuhkan karyawan lebih banyak. Mengingat jumlah pengunjung sangat ramai. Edwin menyampaikan permintaan maaf kalau pelayanannya terlambat. Ada bonus berupa ice cream sekiranya menunggu lama.
"Saya merasa terbantu, oleh Siswa SMK Pelabuhan Bajo ini, maka kami bisa melayani pelanggan seperti bisa meskipun hari raya," kata Edwin kepada Ngopibareng.id.