Di Balik Senyum Hari Guru, Ada Ketimpangan yang Menyakitkan
Setiap 20 November, para guru di seluruh pelosok negeri merayakan Hari Guru dengan penuh suka cita. Upacara, apel, dan berbagai kegiatan penghormatan dilakukan tanpa membedakan status, baik guru ASN maupun guru swasta, termasuk mereka yang mengajar di madrasah swasta. Namun, di balik kebersamaan itu, ada kegelisahan yang dirasakan sebagian guru madrasah swasta.
Mereka ikut merayakan hari besar ini dengan penuh semangat, tetapi tidak bisa menutup mata bahwa dalam keseharian, mereka kerap merasa berada dalam posisi yang kurang diutamakan. Banyak di antara mereka merasakan adanya ketidaksetaraan dalam akses terhadap peluang peningkatan status, kesejahteraan, dan dukungan kebijakan jika dibandingkan dengan guru di lembaga lain.
Perasaan "diskriminasi" inilah yang sering terpendam, sebuah ironi di tengah perayaan profesi mulia yang seharusnya mengangkat harkat seluruh guru tanpa terkecuali. Hari Guru pada akhirnya menjadi ajakan bagi kita semua untuk tidak hanya berterima kasih kepada para pendidik, tetapi juga memastikan bahwa penghormatan itu diwujudkan dalam kebijakan yang adil dan merata.
Hari Guru adalah momentum untuk kembali merenungkan betapa besar peran para pendidik dalam membentuk arah masa depan bangsa. Di tangan merekalah karakter, akhlak, dan kecerdasan anak-anak Indonesia ditempa dengan kesabaran, ketulusan, dan pengabdian yang sering kali tak terlihat. Hari Guru bukan hanya tentang seremoni atau ucapan terima kasih, tetapi juga tentang menyadarkan kita bahwa kualitas pendidikan tidak akan pernah melampaui kualitas guru yang mengajarkannya. Karena itu, peringatan ini seharusnya menjadi ajakan bagi seluruh elemen bangsa untuk lebih menghargai, mendukung, dan memperjuangkan kesejahteraan guru agar mereka dapat terus menyalakan cahaya ilmu tanpa dibebani ketimpangan dan ketidakpastian. Selamat Hari Guru, hari untuk mengapresiasi para pahlawan yang mendidik dengan hati.
Di Hari Guru ini, kami menghormati setiap pendidik yang telah mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan negeri. Namun kenyataannya, kesenjangan perlakuan antara guru di sekolah di bawah Kemendikdasmen dan guru madrasah swasta di bawah Kemenag masih begitu terasa. Guru sekolah memiliki jalur lebih mudah menuju P3K atau ASN, sementara guru madrasah sering menunggu seperti mengharap hujan di musim kemarau. Padahal amanah kami sama: mendidik generasi bangsa. Semoga Hari Guru ini menjadi momentum untuk menghadirkan keadilan bagi semua guru.
Efek Domino Ketidakadilan
Perbedaan sikap dan perlakuan yang dirasakan antara guru madrasah swasta dan guru di lembaga lain menimbulkan kekhawatiran yang semakin nyata. Ketidaksetaraan ini dikhawatirkan memengaruhi motivasi para guru dalam menjalankan tugasnya, karena rasa dihargai menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga semangat pengabdian. Ketika guru merasa kurang diperhatikan atau tidak mendapatkan kesempatan yang setara, keikhlasan yang selama ini mereka jaga bisa terkikis sedikit demi sedikit. Lebih jauh lagi, kondisi ini berpotensi memengaruhi keberlangsungan pendidikan di madrasah. Jika ketimpangan ini tidak segera diatasi, maka bukan hanya guru yang terdampak, tetapi juga peserta didik dan masa depan pendidikan madrasah itu sendiri.
Pengakuan kontribusi guru madrasah
Guru madrasah adalah bagian tak terpisahkan dari pilar pendidikan bangsa. Setiap hari mereka berdiri di depan kelas, mendidik, membimbing, dan menanamkan nilai-nilai moral serta kecerdasan dengan dedikasi yang tidak kalah besar dari guru mana pun. Yang membedakan hanyalah kondisi kerja yang sering kali penuh keterbatasan, baik dalam sarana, dukungan, maupun kepastian kesejahteraan. Namun keterbatasan itu tidak pernah menghalangi komitmen mereka untuk mencerdaskan generasi muda.
Justru di tengah serba kurang itulah ketulusan mereka semakin tampak: bekerja dengan hati, berkorban tanpa banyak terlihat, dan tetap berpegang pada keyakinan bahwa pendidikan adalah ibadah dan amanah. Narasi ini menegaskan bahwa guru madrasah layak mendapatkan penghargaan dan perhatian yang sama, karena kontribusi mereka terhadap bangsa tidak dapat diukur dari fasilitas yang mereka miliki, melainkan dari besarnya dampak yang mereka berikan bagi masa depan anak-anak Indonesia.
Tuntutan dan Impian
Di seluruh pelosok negeri, para pendidik menyimpan harapan besar akan kebijakan yang benar-benar memanusiakan profesi guru. Saat pemerintah mampu menyelaraskan langkah sehingga setiap guru, tanpa memandang latar, wilayah, atau jenis Lembaga, mendapat kesempatan yang setara, harapan itu akan berubah menjadi denyut kehidupan baru. Wajah-wajah yang selama ini menahan letih akan kembali bersinar oleh rasa keadilan yang sudah lama dinanti. Dari ruang-ruang kelas sederhana hingga pelosok terpencil, gema syukur akan terdengar, menegaskan betapa besar makna sebuah kebijakan yang berpihak pada martabat pendidik.
Apabila kesetaraan itu benar-benar terwujud, kebijakan tersebut akan menjulang seperti monumen tak kasatmata: tinggi, kokoh, dan mengayomi. Lebih dari sekadar pencapaian administratif, ia akan menjadi warisan emosional yang menggerakkan hati banyak orang, mengikat generasi demi generasi dalam rasa hormat dan penghargaan atas langkah besar yang pernah diambil untuk masa depan pendidikan bangsa.
Refleksi Akhir
Keadilan bagi semua guru bukan hanya tuntutan moral, tetapi kebutuhan mendesak untuk memastikan pendidikan Indonesia tumbuh di atas fondasi yang kokoh. Selama ini, para guru kerap diminta untuk selalu ikhlas, seolah-olah pengabdian mereka cukup dibayar dengan kesabaran dan ketulusan. Padahal, profesi guru juga membutuhkan kepastian-kepastian bahwa kesejahteraan mereka terjamin, bahwa api dapur tetap mengepul, dan bahwa anak-anak mereka dapat mengenyam pendidikan yang layak tanpa kekhawatiran. Ketika keadilan dan kepastian itu hadir, insya Allah guru mampu memberikan yang terbaik untuk murid dan bangsa.
Di momen penuh makna ini, selamat Hari Guru kepada seluruh pendidik di penjuru tanah air. Terima kasih atas pengorbanan yang sering tak terlihat, atas ilmu yang ditanam tanpa pamrih, dan atas keteguhan membimbing generasi muda meski tantangan tak pernah surut. Semoga penghargaan, kepastian kesejahteraan, dan keberpihakan kebijakan semakin nyata dirasakan, sambil melihat anak-anak juga tumbuh dan belajar dengan aman, nyaman, dan penuh harapan. Selamat Hari Guru, karena di balik setiap masa depan yang terang, selalu ada guru yang berdiri teguh di belakangnya.
Penulis: Suprapto, Kepala Sekolah MIM Kenep, Balen, Bojonegoro