Desa Pampang (1): Muara Kisah Pengembaraan Dayak Kenyah
Oleh:
Himawan Bayu Patriadi, PhD.,
Dosen Hubungan Internasional,
Universitas Jember.
Siang itu, di hari Minggu, sengatan matahari di Samarinda terasa begitu tajam. Dari pagi, suhu bersemangat untuk merambat naik. Saat siang hari ia telah mencapai 36 derajat. Tapi, hasrat untuk pergi tetap tinggi. Apalagi, sekian kolega dari FISIP – Universitas Mulawarman, Samarinda; seperti biasa, selalu siap menemani. Walhasil, perjalanan itu, yang diselingi obrolan ringan, tetap terasa syahdu.
Desa Pampang, merupakan salah satu desa budaya etnik di Kalimantan Timur; selain Desa Lung Anai, yang terletak di kecamatan Loa Kulu. Meski keduanya sama-sama didiami suku Dayak Kenyah, tapi sebagai Desa Budaya, Pampang usianya lebih tua. Pampang ditetapkan sebagai Desa Budaya sejak tahun 1991, semasa kepemimpinan Gubernur Muhammad Ardans; sedangkan Desa Lung Anai baru menyandang predikat semacam pada tahun 2007.
Dengan lokasinya yang tak jauh dari pusat kota, hanya 23km dari Samarinda; Desa Pampang relatif mudah untuk dijangkau. Induk kelurahannya, Sungai Siring, masih termasuk wilayah Kecamatan Samarinda Barat. Untuk mencapainya, dari jalan raya poros Samarinda-Bontang, sebelum Bandara APT Pranoto, berbelok ke kiri memasuki jalan beton yang mulus. Kala menapaki jalan yang menurun, di sebelah kanan jalan nampak berdiri papan nama Pondok Pesantren “Bilal”; seakan melambaikan tangan seraya mengucapkan selamat jalan. Setelah menempuh jarak sekitar 5 km ke arah pedalaman, perjalanan mendapati Desa Pampang di kanan jalan, bersimpuh takzim menyambut kedatangan.
Memasuki jalan Desa Pampang yang datar, di bawah buaian kibaran merah putih di kanan-kiri jalan yang sedang bersemangat menyambut hari kemerdekaan, angan mulai bergerak perlahan. Meski didera terik matahari, angan merasakan jeda ketenangan kalbu, sebuah kelangkaan di tengah hiruk pikuk kehidupan yang selalu memburu. Tiada kebisingan, apalagi riak kegaduhan. Ritme keseharian mencerminkan kedamaian, bergerak tanpa ketergesaan. Bahkan, angan seakan menemukan kembali detak nadi kehidupan yang selama ini hilang. Sesaat mobil berjalan pelan, dari sebelah kiri sebuah bangunan menyapa kami. Bermodel rumah panggung yang tinggi dan berukuran besar, terbuat dari kayu ulin berwarna gelap, serta dipercantik dengan ukiran tradisional Dayak; menjadikannya sosok nan anggun. Setelah saya cermati, bangunan tersebut ternyata sebuah gereja. Ketinggiannya bak sebuah tonggak kokoh penopang keteduhan nan kudus, yang menaungi ketenteraman warga desa.
Tak jauh dari gereja, bersemayam sebuah Lamin, rumah adat Dayak Kenyah. Secara literal, Lamin bermakna ‘rumah panjang’. Memang, bangunan Lamin Adat “Pemung Tawai” di Desa Pampang ini relatif panjang, berukuran kurang lebih mencapai 60 meter, dengan lebar sekitar 20 meter. Dari sang empunya hikayat, panjangnya rumah adat Dayak Kenyah memuat kisah sosiologis. Dahulu, Lamin Adat merupakan tempat tinggal komunal keluarga. Jika ada pernambahan jumlah keluarga, maka rumah akan diperpanjang. Namun, dengan bertambahnya warga tapi semakin terbatasnya lahan, tradisi semacam itu dikawatirkan akan berpotensi menabrak properti tetangga. Walhasil, ada pembatasan pembangunan rumah panjang. Sebuah keputusan yang bukan hanya rasional, tapi juga sarat dengan kearifan; karena mencerminkan hasrat pengendalian diri demi menjaga kebersamaan. Kini, Lamin Adat Pemung Tawai lebih merupakan Balai Adat, dengan fungsi serba guna, termasuk untuk pagelaran budaya Dayak Kenyah di desa Pampang.
Memasuki halaman Lamin Adat Pemung Tawai, yang luasnya sekitar tiga kali ukuran bangunan Lamin-nya, angan terhenyak sejenak. Pasalnya, motif dan warna ukiran di dinding Lamin Adat ini telah membangunkan sepotong memori. Tahun 2019, ketika diundang untuk presentasi dalam seminar internasional “The Journey of Asian Coffee”, oleh Centre for Southeast Asian Studies, National Sun Yat-sen University, di Kaohsiung, Taiwan; saya sempat diajak sites visit ke daerah produsen kopi di kawasan Alishan mountains, wilayah Taiwan tengah. Kawasan ini banyak dihuni oleh suku asli (indigeneous people) Taiwan, di antaranya adalah suku Tsou yang mendiami Desa Leye. Suku ini mayoritas bekerja sebagai petani kopi. Kala menyusuri jalan raya di punggung gunung yang menanjak, angan mendadak dihentak oleh komposisi warna yang rancak. Tubuh bangunan café kopi yang berjejer rapi di sisi tebing, banyak dihiasi taburan warna yang mencolok: merah, hitam, kuning, putih; kombinasi yang serasi ini, mirip seperti yang saya dapati dalam ornamen pada Lamin Adat Pemung Tawai di Desa Pampang. Apalagi, setelah bertemu dengan petani kopi dari suku Tsou; angan sontak memberontak menuntut segera untuk menanyakan teka-teki yang terserak. Pasalnya, dari segi fisiologi, mereka berbeda dari orang China; tetapi lebih mirip dengan postur suku Dayak.
Tak pelak, angan-pun tergerak untuk segera menguak. Melalui penterjemah, saya bertanya ke seorang petani kopi, dari suku Tsou ini: “Saya mendapati warna dominan di sebagian besar café kopi di kawasan ini yang mirip dengan ornamen suku Dayak di Borneo, Indonesia. Apakah kemiripan ini hanya kebetulan saja?”. Sambil tersenyum kecil, ia memandang saya. Sesaat kemudian, ia menjawab dengan ramah: “Dari cerita leluhur, komunitas kami, suku Tsou, yang mendiami wilayah ini, punya ikatan historis dengan komunitas suku-suku di Filipina dan Borne; karena kami dan mereka menganggap diri kita semuanya sebagai sesama ‘Pacific Islanders’ (penghuni pulai-pulau Pasifik Barat). Dan, dari cerita yang turun-termurun itu, leluhur kami dahulu memang punya hubungan dengan [berbagai komunitas suku yang tinggal di] Filipina dan Borneo!”. Penjelasan ini seakan sebuah sihir yang meyingkap tabir.
Mendengar penjelasan petani dari suku Tsou di atas, saya sesaat terdiam. Angan mencoba mengendapkan kalam, berupaya merangkai imajinasi yang terpendam. Dalam jeda yang senyap, angan mendadak teringat akan teori migrasi kuno, yakni teori “Out of Taiwan”. Postulatnya, dalam kurun waktu satu setengah millennium, antara 3.500–2000 SM, telah terjadi gelombang migrasi bahari komunitas Astronesia dari Taiwan ke arah selatan, menuju Filipina dan Borneo. Masih menurut teori ini, karena mereka bermigrasi dengan membawa serta budaya mereka; maka, beberapa kesamaan ciri budaya masih bisa diidentifikasi hingga kini. Salah satunya, adalah bahasa. Komunitas suku-suku di ketiga tempat ini mempunyai akar bahasa yang sama, yakni Astronesia. Selain itu, ada juga kemiripan budaya arsitektur, seperti rumah panjang yang terbuat dari kayu; dan tradisi tattooing yang menghiasi tubuh beserta motif design kerajinan tangan mereka. Tentang keakuratan dan details teori ini, khususnya kaitan antara indigenous people Taiwan dengan suku Dayak di Kalimantan; para historian, antropolog, dan arkeolog-lah yang lebih berkompeten untuk meneliti dan menjelaskan secara rinci.
Dalam sejarah kontemporer, suku Dayak Kenyah–termasuk yang kini mendiami Desa Pampang–terus merajut detak kehidupannya sendiri. Dayak Kenyah, sejatinya, merupakan sub-etnik dari rumpun suku Dayak Apokayan yang besar. Nama Apokayan (Apau Kayan), merujuk pada tempat asal-muasal mereka bermukim sebelum berpindah, yakni dataran tinggi Apokayan; wilayah yang terletak dekat perbatasan dengan Serawak, Malaysia. Berkat pemekaran daerah, kini wilayah tersebut secara administratif masuk Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Berbeda dengan teori Out of Taiwan, yang menjelaskan migrasi dengan mengarungi bahari; kali ini lebih merupakan migrasi melalui darat, baik dengan cara menapaki hutan dengan jalan kaki ataupun berkayak menyusuri sungai.
Awal tahun 1960-an, mulai terjadi migrasi dari dataran tinggi Apokayan. Alkisah diawali dengan situasi perang di kawasan perbatasan, menyusul langkah Presiden Soekarno untuk “Ganyang Malaysia”. Di tengah situasi perang, yang membuat daerah perbatasan–termasuk wilayah Apokayan–menjadi tidak aman; suku Dayak Kenyah memutuskan untuk berpindah. Arahnya ke selatan dan timur, menyisir tubir berbagai sungai, seperti sungai Iwan, Kayan, Pujungan, dan Mahakam; menuju hilir mendekati wilayah pesisir. Suku Dayak Kenyah yang kini bermukim di Desa Budaya Pampang, merupakan bagian dari kelompok yang menyusuri alur sungai Mahakam.
Pada titik sejarah di atas, terdapat silang pendapat menyangkut faktor pendorong suku Dayak Kenyah untuk berpindah. Di satu sisi, ada pendapat bahwa migrasi mereka dipicu oleh semangat nasionalisme; karena mereka lebih memilih Indonesia daripada Malaysia (Kompas, 14/12/2023). Pasalnya, ketika ABRI menghimbau mereka untuk berpindah ke daerah perkotaan, sebagai bagian dari strategi perang untuk lebih mudah mengawasi pergerakan manusia semasa konflik di daerah perbatasan; suku Dayak Kenyah mentaatinya. Namun, di sisi lain, terdapat pula pendapat bahwa pemicu utama kepindahan mereka semata-mata guna mendapatkan kehidupan yang lebih baik (CNN Indonesia, 31/05/2016). Hasrat ini, berkaitan dengan karakter mereka sebagai suku nomaden. Tradisi untuk membuat ladang berpindah, juga menyebabkan mereka tidak pernah tinggal menetap. Dua pendapat tak sama, dengan argumentasi yang berbeda, adalah biasa; karena masing-masing berangkat dari interpretasi terhadap infomasi yang diterima. Pandangan saya, mungkin keduanya sama-sama merupakan bagian dari faktor pemicu migrasi suku Dayak Kenyah; karena motif seseorang, atau kelompok sosial, untuk berpindah tak selalu tunggal. Hikmahnya, perbedaan argumen ini membuka ruang bagi siapapun yang tertarik melakukan penelitian lanjutan.
Yang jelas, berkat tekadnya untuk berpindah, secara umum, kualitas hidup suku Dayak Kenyah memang meningkat. Misalnya, Ketua Adat Suku Kenyah di Long Anai–Islamil Lahang–menegaskan: “Dulu waktu kami di [daerah] perbatasan segala keperluan sangat sulit, pengobatan-pun sangat susah. Begitu kami pindah ada perubahan yang sangat luar biasa, anak bisa sekolah, hasil tani bisa dipasarkan, [dan] ada hubungan dengan pemerintah, [semua] itu [adalah] suatu perubahan [kehidupan]”. Perbaikan kehidupan serupa nampaknya juga dirasakan suku Dayak Kenyah di Desa Pampang. Observasi sekilas memperkuat kesan ini. Meski diselingi rumah tradisional yang terbuat dari kayu, sebagian besar rumah warga sudah merupakan bangunan permanen, terbuat dari batu-bata berlapis semen. Dalam diam, rumah-rumah itu seolah bergumam tentang keyakinan suku Dayak Kenyah di Desa Pampang untuk menyongsong masa depan. Meski samar, dalam pikiran mereka telah tergambar; bahwa selalu ada cahaya yang menjanjikan di setiap ujung lorong penggal kehidupan. Wallahua’alam … (bersambung)