Darul Ulum, Pesantren dengan Tata Kelola Serasa Korporasi
Saya kagum dengan perkembangan Pondok Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang, Jawa Timur. Ini bisa menjadi contoh tata kelola pesantren dengan cara modern tanpa meninggalkan tradisionalitasnya. Berkembang pesat sampai generasi keempat.
Usai melayat KH Abdul Halim Mahfudz alias Gus Iim di Seblak, Tebuireng, saya menyempatkan mampir ke pondok pesantren (ponpes) ini. Kebetulan, saya melayat kakak Ketua PWNU Jatim yang juga pimpinan Ponpes Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) itu ditemani Gus Zulfikar As’ad. Ia salah satu pimpinan Ponpes Darul Ulum.
Kali pertama saya berkunjung ke Ponpes ini saat masih mahasiswa. Ketika masih kecil. Belum ada SMA unggulannya. Belum ada perguruan tinggi. Masih ke ndalem Kiai As’ad Umar, ayah KH Zaimudin Wijaya As’ad. Gus Zuem –demikian saya biasa memanggil– senior dan sesama aktivis di Fisipol UGM.
Kini, ponpes ini besar sekali. Menempati lahan 50 hektar. Seperempat luas Kampus UGM. Santrinya hampir 10 ribu orang. Berada dalam satu kawasan. Di dalam kompleks pesantren ada warga kampung. Tapi sudah seperti bagian yang menyatu dengan tempat belajar para santri.
Sama Gus Fik –panggilan akrab gus Zulfikar– saya diajak keliling kampus. Ke berbagai sekolah unggulannya. Ada SMA yang berafiliasi dengan Cambridge. Dengan fasilitas kampus yang lengkap. Ada lapangan bola, basket dan taman. Ada universitasnya. Asrama santri tersebar di beberapa penjuru.
Kampus, …eh pesantren ini nyambung dengan Stasiun KA Peterongan. Hanya dipisahkan pagar. Serasa seperti ke Kampus Oxford di Inggris yang juga tak jauh dari stasiun KA. Baru setelah keliling, sowan ke Gus Zuem. Bertemu juga dengan Bu Nyai dan putrinya yang baru selesai kuliah di Leed University.
Kampus Universitas Darul Ulum (Unipdu) sebagian besar dicat warna terakota. Suasananya seperti kampus kuno di Inggris. Untuk kampus universitasnya di bangun di sisi kiri pintu masuk area pondok pesantren. Di seberangnya baru area sekolah. Selain SMA Unggulan ada Madrasah Aliyah. Juga unggulan.
Asrama santri dan mahasiswa tersebar di beberapa area pondok. Semua asrama dikelola keluarga ponpes. Dengan standar yang hampir sama. Ada yang satu kamar untuk 4 orang santri. “Ini untuk mengakomodasi permintaan orang tua santri juga,” kata Gus Fik menjelaskan.
Gus Zuem dan Gus Fik termasuk putra kiai pesantren yang belajar di perguruan tinggi umum. Kalau Gus Zuem kuliah di Fisipol UGM, sementara Gus Fik di Fakultas Kedokteran. Di UGM, ia seangkatan dengan Prof Dr M Ali Gufron, mantan Wamenkes dan Dirut BPJS Kesehatan. Juga dr Terawan yang terkenal itu.
Apakah sentuhan pendidikan umum generasi baru ini yang membuat Ponpes Darul Ulum berkembang pesat hingga generasi keempat ini? Bisa jadi demikian. Sebab, tata kelola ponpes ini berbeda dengan sebagian besar ponpes di Jawa Timur. Memadukan pendidikan umum dan pesantren dengan tata kelola organisasi modern.
“Ponpes ini tidak dipimpin seorang kiai tunggal yang kharismatis. Tapi oleh majelis pimpinan Ponpes Darul Ulum. Sedangkan operasionalnya dikelola oleh para profesional. Kepala sekolah semuanya dari luar. Tidak ada dari keluarga,” kata Gus Zuem.
Majelis pimpinan ini diisi para dzuriyah alias pewaris para pendiri ponpes. Mereka berperan seperti Dewan Komisaris dalam sebuah korporasi. Mereka bukan sekadar simbol. Tapi penjaga arah.
Di sisi lain, ada dewan profesional yang menjalankan manajemen harian: sekolah, unit usaha, ekspansi, sampai tata kelola keuangan. Ada pembagian peran yang jelas: siapa menjaga nilai, siapa mengeksekusi.
Sekilas, ini memang tampak seperti korporatisasi pesantren. Tapi menyamakan dengan korporasi pada umumnya, jelas terlalu dangkal. Karena yang terjadi bukan sekadar pesantren berubah jadi “perusahaan pendidikan”. Tapi justru lebih menarik: pesantren sedang belajar menggunakan alat-alat korporasi tanpa kehilangan ruhnya.
Di dunia korporasi, kita mengenal pemisahan antara komisaris dan direksi. Yang satu menjaga arah dan kontrol, yang lain menjalankan operasional. Darul Ulum menerjemahkan logika itu ke dalam bahasa pesantren: dzuriyah sebagai penjaga nilai, profesional sebagai pengelola sistem.
“Kami punya pengalaman ketika belum ada pemisahan ini. Saat itu, kami kesulitan memberhentikan kepala sekolah yang masih keluarga meski kinerjanya tidak bagus. Sejak saat itu, kami selalu merekrut orang luar untuk memimpin operasional lembaga-lembaga di ponpes,” tambah Gus Fik.
Kita semua tahu, banyak lembaga gagal bukan karena tidak punya nilai. Tapi karena nilai itu tidak punya sistem. Sebaliknya, banyak juga yang punya sistem canggih tapi kehilangan arah karena nilai ditinggalkan. Darul Ulum mencoba berdiri di tengah. Nilai tetap di tangan keluarga pendiri. Tapi sistem dipercayakan kepada mereka yang punya kompetensi.
Ini bukan hal sederhana. Dalam bahasa sosiologi ekonomi –meminjam Karl Polanyi– ekonomi itu tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia selalu “tertanam” dalam relasi sosial. Problem modernitas adalah ketika pasar merasa bisa berdiri sendiri, lepas dari nilai dan komunitas.
Yang dilakukan Darul Ulum justru sebaliknya. Mereka tidak membiarkan logika efisiensi dan profesionalisme berdiri liar. Logika itu “ditanamkan kembali” ke dalam tradisi pesantren. Manajemen modern dipakai, tapi tidak dibiarkan mengendalikan arah.
Jadi, kalau tetap menggunakan istilah korporatisasi pesantren, itu bukan dalam arti komersialisasi. Tapi lebih tepat disebut institusionalisasi pesantren dengan instrumen korporasi. Pelembagaan tata kelola pesantren dengan mengadopsi tata kelola korporasi. Cara cerdas untuk merespon perkembangan zaman.
Sampeyan juga tahu, sampai kini masih banyak pesantren yang tumbuh secara organik. Tanpa desain besar. Berkembang secara alamiah. Bergantung kepada kepemimpinan kharismatik para kiai dan pimpinanya. Dengan cara ini, ada pesantren yang bertumbuh besar, tapi ada juga yang mengecil ketika kehilangan figur sentralnya.
Padahal, pesantren hari ini bukan lagi sekadar tempat ngaji. Ia adalah ekosistem: pendidikan formal, ekonomi, bahkan jaringan sosial-politik. Mengelola semua itu dengan cara lama –yang serba informal dan berbasis figur– punya batasnya sendiri.
Tentu, menggunakan instrumen korporasi dalam mengelola pesantren bukan tanpa resiko. Ketika dzuriyah terlalu dominan, ia bisa berubah menjadi oligarki keluarga. Ketika profesional terlalu kuat, pesantren bisa kehilangan ruhnya dan tergelincir menjadi sekadar “industri pendidikan”. Ketegangan antara nilai dan manajemen akan selalu ada.
Masalahnya bukan bagaimana menghilangkan ketegangan itu. Tapi bagaimana menjaganya tetap produktif. Darul Ulum, tampak berhasil merawat keseimbangan itu. Nilai tidak ditinggalkan, tapi juga tak menjadi alasan menolak perubahan. Sistem dibangun, tapi tidak menggusur otoritas moral kiai.
Di tengah banyaknya lembaga yang terjebak antara tradisi dan modernitas, Darul Ulum menunjukkan satu kemungkinan lain: keduanya bisa berjalan bersama. Bahwa menjadi modern tidak harus kehilangan akar.
Di sinilah pelajaran paling penting dari pesantren hari ini. Bukan soal menjadi korporasi atau tidak. Tapi bagaimana memastikan bahwa ketika kita tumbuh besar, kita tidak lupa siapa diri kita sejak awal. Merespon modernitas tanpa kehilangan akar tradisionalnya.
Ini seperti mewujudkan paradigma di kalangan pesantren: melestarikan hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Ponpes Darul Ulum Peterongan tak hanya berkembang dengan tata kelola modern. Tapi menjadikan nyata paradigma itu.
Advertisement