Bocoran Joko Anwar Tentang Film Terbarunya Ghost in the Cell
Gost in the Cell merupakan film terbaru dari sutradara Joko Anwar. Baru-baru ini membagikan rekam jejak para pemain film terbarunya itu melalui unggahan Instagram bertajuk “Napipedia”. Sutradara yang melejit lewat film Pengabdi Setan ini memperkenalkan latar belakang para aktor yang berperan sebagai narapidana dalam film tersebut.
Edisi perdana instagram yang diunggah pada Kamis, 29 Januari lalu ini secara khusus menyoroti perjalanan karier aktor dan komedian Aming Sugandhi. Seperti diketahui Amin berperan menjadi tokoh narapidana bernama Tokek dalam film Ghost in the Cell, Aming. arakter yang digambarkan berbahaya sekaligus unik. Joko Anwar menyebut Aming sebagai satu-satunya aktor yang mampu menghidupkan karakter tersebut, sebuah pernyataan yang langsung memicu antusiasme warganet.
Tak hanya menarik perhatian lewat jajaran pemainnya, Ghost in the Cell juga mencetak prestasi dalam internasional. Film ini resmi terpilih section Forum Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Menurut Joko Anwar, Forum Berlinale dikenal sebagai section yang tidak hanya menilai kekuatan cerita, tetapi juga relevansi sosial dan politik dari negara asal film. Terpilihnya Ghost in the Cell adalah kebanggaan besar karena film ini berbicara tentang realitas sistemik yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Produser film, Tia Hasibuan, menyebut terpilihnya Ghost in the Cell di Berlinale Forum sebagai sinyal kuat bahwa film ini menawarkan kombinasi cerita, gagasan, dan bahasa sinema yang solid. Film ini dijadwalkan diputar tiga kali selama rangkaian Berlinale pada 12–22 Februari 2026. Film ini merupakan produksi dari Come and See Pictures bersama RAPI Films dan Legacy Pictures. Selain itu mendapatkan dukungan dari Barunson E&A sebagai sales agent internasional.
Ghost in the Cell berlatar penjara pria di Indonesia yang dikuasai kekerasan dan ketidakadilan. Film ini memadukan horor dengan kritik sosial. Selain itu menggambarkan bagaimana sebuah sistem dapat melindungi kekuasaan bahkan di ruang yang seharusnya menjadi tempat hukuman. Kisahnya berfokus pada sekelompok narapidana yang menyadari bahwa mereka tidak hanya terkurung secara fisik, tetapi juga diteror oleh kekuatan gaib yang tak kasat mata. Dalam kondisi tanpa jalan keluar, para narapidana yang awalnya saling bermusuhan terpaksa bekerja sama demi bertahan hidup. Di tengah ketegangan, humor gelap muncul sebagai refleksi kepanikan dan ketakutan manusia.
Tokek, Karakter Gelap di Balik Jeruji
Dalam Ghost in the Cell yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026, Aming memerankan Tokek, seorang narapidana berbahaya dengan karakter yang kompleks. Joko Anwar menyebut Tokek sebagai figur yang tidak bisa diperankan sembarang aktor karena memiliki lapisan psikologis yang rumit. Melalui kolom komentar unggahan Napipedia, Aming menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada Joko Anwar atas kepercayaan yang diberikan. Ia mengaku peran tersebut menjadi salah satu pengalaman paling menantang dalam perjalanan kariernya.
Sekedar informasi Selama ini kita mengenal Aming sebagai komedian dan aktor. Sebelum tenar, Aming mengawali kariernya di balik layar. Pada rentang tahun 2000 hingga 2003, alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung ini merintis jalan sebagai kru produksi sekaligus konsultan busana untuk berbagai proyek komersial, mulai dari video klip, film, hingga sinetron. Nama Aming mulai melejit ketika ia tampil dalam program televisi Extravaganza yang tayang pada 2004 hingga 2009. Gaya komedinya yang khas dan keberaniannya tampil berbeda membuat Aming cepat dikenal publik sebagai figur hiburan yang unik dan berani menabrak pakem.
Langkah Aming ke layar lebar dimulai pada 2005 melalui film Janji Joni, di mana ia berperan sebagai pengantre tiket bioskop. Film ini juga menjadi titik awal kolaborasinya dengan Joko Anwar. Setelah itu, Aming terus mengembangkan karier aktingnya lewat film Get Married dan Quickie Express yang sama-sama dirilis pada 2007. Salah satu fase penting dalam perjalanan kariernya terjadi pada 2010 melalui film Madame X. Peran tersebut kerap disebut sebagai salah satu penampilan paling berani Aming, karena menantang batas ekspresi dan identitas karakter yang jarang diambil aktor arus utama.
Tak berhenti sebagai aktor, Aming juga aktif mengeksplorasi dunia seni pertunjukan. Pada 2013, ia menggarap proyek seni bertajuk Psycho Diva, yang menggabungkan hiburan dengan pesan artistik yang lebih dalam. Dua tahun berselang, Aming menyutradarai film antologi berjudul Gila Jiwa, menandai keseriusannya di balik layar sebagai kreator. Semua rekam jejak tersebut menjadi landasan kuat bagi keterlibatannya dalam Ghost in the Cell, film yang menuntut pendalaman karakter ekstrem dan intensitas emosional tinggi.
Penulis: Nurul Huda