Bisnis Ritel Lesu, Hypermart PHK Ribuan Karyawannya
Jakarta: Belakangan isu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang dilakukan oleh perusahaan besar mencuat. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh MNC Group, 7-Eleven dan kini berkembang kabar hal itu juga dilakukan oleh Hypermart.
Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Roy Mande, membenarkan bahwa Hypermat sudah melakukan PHK terhadap pekerjanya di seluruh Indonesia. Memang jumlahnya belum pasti, namun diperkirkakan jumlahnya ribuan.
"Jumlahnya memang perlu dihitung, tapi sudah melakukan PHK memang. Jumlahnya masih dalam perhitungan, karena ada yang di daerah untuk Hypermartnya, bukan hanya di Jakarta. Jadi belum masuk semua datanya. Ini akibat penurunan di industri ritel," kata Ro, Jumat (7/7).
Industri ritel dihempas kabar kurang sedap lagi dengan pemberitaan bahwa Hypermart sudah mulai melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran di seluruh gerainya di Indonesia.
Pengusaha ritel mengeluhkan omzet mereka yang turun dan berimbas pada pengurangan jam kerja hingga PHK. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kegiatan industri ritel memang jauh dari stabil dan underperform.
Bahkan, pengusaha pun pesimis, industri ritel bisa tumbuh positif dan double digit untuk tahun ini lantaran daya beli di sektor mereka belum membaik dan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun.
Menanggapi hal ini, Menko Perekonomian Darmin Nasution menilai, jangan terlalu melihat fenomena tersebut sebagai gejala ekobomi keseluruhan. Banyak hal lain yang memang menjadi sebuah gejala. Ia beranggapan bahwa bisnis supermarket besar itu tergerus karena adanya minimarket-minimarket. Meskipun jumlahnya belum pasti, namun Darmin memperkirakan salah satu alasannya karena orang-orang tak banyak lagi yang berbelanja di Hypermart.
"Bisa saja (lalukan PHK) karena Indomaret, Alfamart itu perkembangannya bukan main," katanya di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (7/7).
Menanggapi pernyataan Menko Perekonomian Darmin Nasution bahwa Hypermart kalah bersaing dengan Alfamart dan Indomart, Roy menganggap saat ini situasinya memang sulit, pemerintah bisa berkata apapun, namun tanpa adanya stimulus, industri ritel tidak akan ada perbaikan.
"Pemerintah bisa menyatakan berbagai kondisi dan situasi, semua bisa bergeser, tidak akurat, dan tidak sesuai dengan pribadi bersangkutan. Masing-masing bisnis punya pola bisnis sendiri. Tapi kenyatannya, industri ritel makin meredup, pencapaian target di Idul Fitri turun, dan sulit meneruskan bisnisnya, karena juga sewa mal mahal," pungkasnya. (kuy)