BEM UNAIR Gelar Kidung Duka Airlangga: Aksi Duka Simbolik atas Korban Demonstrasi
Halaman depan Gedung Rektorat Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berubah menjadi ruang perenungan pada Sabtu malam, 6 September 2025. Ratusan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan hadir dalam sebuah acara simbolik bertajuk “Kidung Duka Airlangga”. Dalam balutan suasana khidmat, tabur bunga, doa, orasi, hingga pembacaan puisi bergema. Acara itu menyatukan rasa duka dan perlawanan terhadap represivitas aparat serta keresahan atas arah bangsa.
Acara ini diinisiasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unair bersama aliansi BEM fakultas se-Unair. Mereka mengundang seluruh sivitas akademika untuk hadir, tidak sekadar sebagai bentuk solidaritas, tetapi juga penegasan sikap moral kampus terhadap kondisi sosial politik tanah air yang kian memanas.
Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat Rizal, mahasiswa Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) berorasi di tengah halaman Rektorat. Ia menceritakan pengalamannya ketika ditangkap polisi dalam aksi unjuk rasa di depan Gedung Negara Grahadi, Jumat, 29 Agustus 2025.
Rizal menuturkan, dirinya ditangkap hanya karena membawa pengeras suara dan menjadi koordinator lapangan aksi.
“Saya dituduh provokator, dipukuli lebih dari 10 orang, sampai kelopak mata saya robek,” ujarnya.
Suasana hening menyelimuti peserta ketika Rizal melanjutkan kesaksiannya. Hal yang lebih mengejutkan, ia mendengar salah seorang polisi berkata, “bunuh saja anak itu.” Kalimat tersebut sontak memantik emosi hadirin.
Beberapa peserta menundukkan kepala, sebagian lainnya menggenggam tangan satu sama lain sebagai bentuk dukungan. Kesaksian Rizal menjadi pengingat bahwa perjuangan mahasiswa tidak lepas dari risiko kekerasan yang mengancam nyawa.
Dalam kesempatan itu, hadir pula Direktur Kemahasiswaan Unair, Prof. Dr. M. Hadi Subhan, SH, MH, CN. Mewakili rektorat, ia menegaskan bahwa Unair selalu berdiri bersama mahasiswa.
“Mahasiswa merupakan simbol moralitas. Sejarah membuktikan, pada Orde Lama maupun Orde Baru, mahasiswa selalu berada di garda depan untuk meluruskan jalannya negara. Jika ke depan ada kepemimpinan yang tidak sesuai dengan konstitusi, tentu mahasiswa akan menjadi lawannya,” ujar Hadi.
Namun, ia menyayangkan gerakan mahasiswa justru dinodai dengan kekerasan aparat. Bahkan, nyawa harus melayang dalam perjuangan ini.
“Unair sangat berduka, mendoakan mereka yang gugur atas nama rakyat Indonesia menjadi pahlawan kita semua,” imbuhnya.
Hadi menegaskan, dukungan penuh diberikan kepada aksi refleksi Kidung Duka Airlangga. Menurutnya, acara ini merupakan rangkaian dari sikap resmi Unair yang sebelumnya juga telah dideklarasikan oleh rektor bersama seluruh elemen kampus.
Surat Terbuka: Suara Unair untuk Negara
Dalam acara tersebut juga dilakukan pembacaan surat terbuka oleh Presiden BEM Unair, Anggun Zifa. Surat itu ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam surat tersebut, sivitas akademika Unair menyoroti kekacauan yang terjadi di Indonesia tak lepas dari kebijakan penguasa yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
“Banyak di antara kami yang ditangkap, dipukuli, diintimidasi, dibatasi akses informasinya, hingga diadu domba secara horizontal,” demikian isi surat tersebut.
Sebagai tanggung jawab moral, sivitas akademika Unair mengajukan delapan tuntutan yang dikenal sebagai Tuntutan Kidung Duka Airlangga. Di antaranya:
1. Menuntut negara untuk mengembalikan kedaulatannya kepada rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam setiap pengambilan keputusan serta bertanggung jawab penuh atas kerusuhan yang terjadi dalam waktu sesingkat-singkatnya.
2. Mendesak adanya evaluasi menyeluruh dan reformasi total institusi, DPR, Polri, dan TNI.
3. Menuntut negara untuk terus menjamin kebebasan berpendapat dan berekspresi di tengah menyempitnya ruang demokrasi serta maraknya pembungkaman dan kriminalisasi terhadap suara-suara kritis rakyat.
4. Menghentikan segala bentuk represifitas aparat terhadap massa aksi, tenaga medis, dan jurnalis serta menuntut pembebasan segera terhadap kawan-kawan kami yang masih ditahan.
5. Mengusut tentas seluruh pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia termasuk dalam aksi beberapa waktu terakhir serta menuntut seluruh pelaku untuk diadili di meja pengadilan dengan seadil-adilnya.
6. Mengembalikan marwah kampus sebagai ruang netral ilmu pengetahuan dengan menolak segala bentuk intervensi dan masuknya aparat ke dalam kampus.
7. Menuntut Presiden Prabowo Subianto untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada rakyat atas seluruh kekacauan dan ketidakmampuannya dalam menyelesaikan masalah.
8. Mengajak seluruh elemen untuk saling menjaga serta melakukan pengawalan terhadap seluruh kebicaraan hari ini dan hari esok agar aspirasi rakyat benar-benar tersampaikan dan negara tidak mengulang pola kesalahan yang sama.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pergerakan BEM Unair sekaligus koordinator acara Kidung Duka Airlangga, M. Rizky Senja Firawan, menjelaskan, kegiatan ini lahir dari kekecewaan mendalam.
“Aspirasi masyarakat direpresi. Banyak kawan seperjuangan dipukuli, ditangkap. Kami melihat langsung bagaimana aparat memperlakukan mahasiswa. Maka kami hadir dengan cara berbeda: kidung, bukan teriakan, untuk meredam gejolak,” jelas Rizky.
Sekitar 300 peserta hadir, terdiri dari mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan. Mereka semua hadir sebagai satu keluarga besar Unair.
“Pesan kami sederhana yakni pejabat harus sadar bahwa mereka pelayan rakyat, bukan penguasa. Itu yang harus dicamkan,” tegasnya.
Pemilihan kata Kidung sendiri tidak lepas dari keinginan untuk menyampaikan pesan secara reflektif.
“Kalau kemarin semua vibes-nya perlawanan, aksi, dan demonstrasi, kali ini kami ingin lebih halus, meredam, agar masyarakat juga merasakan duka itu,” tambah Rizky.
Meski rektorat telah menyatakan sikap sebelumnya, aliansi BEM se-Unair menilai pernyataan itu kurang tegas. Rizky Senja menuturkan, mahasiswa bahkan tidak dilibatkan dalam penyusunan draf pernyataan sikap rektorat.
“Terlihat mengambang dan cari aman. Karena itu kami menyusun surat terbuka sendiri, agar sikap sivitas akademika lebih jelas,” ungkap Rizky.
Surat terbuka itu rencananya juga akan dikirim langsung ke Istana sebagai bentuk penegasan posisi Unair.
Di antara kerumunan, hadir Fuad, mahasiswa Ilmu Sejarah. Ia datang bukan hanya sebagai peserta semata, tetapi sebagai mantan pengemudi ojek online. Kehilangan Affan Kurniawan seorang ojol sekaligus mahasiswa yang meninggal akibat represivitas aparat menjadi luka personal baginya.
“Sebagai orang yang pernah bekerja ojol, saya turut berduka. Semoga kebaikan mereka diterima Tuhan. Saya datang untuk berduka bersama teman-teman,” ujarnya.
Fuad hanyalah satu dari ratusan wajah yang menyimpan cerita masing-masing. Mereka datang dengan alasan berbeda, tetapi disatukan oleh rasa kehilangan yang sama.
Kidung Duka Airlangga bukan sekadar acara simbolik. Ia adalah perlawanan dengan cara lain yakni melawan lupa. Dengan doa, puisi, dan tabur bunga, mahasiswa Unair berupaya menjaga ingatan kolektif bahwa di balik data dan angka korban, ada manusia yang benar-benar hilang.
Acara ini juga menjadi penanda bahwa kampus bukan sekadar ruang akademik, tetapi ruang moral. Ketika negara dinilai gagal melindungi rakyatnya, kampus hadir sebagai suara nurani.
Selain delapan tuntutan, BEM Unair juga mengaitkan Kidung Duka dengan agenda besar yakni tuntutan 17+8. Menurut Rizky, Unair akan terus mengawal isu tersebut, baik melalui aksi lanjutan maupun jalur resmi pengiriman surat ke pemerintah.
Malam semakin larut, lilin-lilin kecil menyala di sekitar halaman rektorat. Doa bersama dipanjatkan untuk para korban. Suasana syahdu membungkus massa, menyisakan keheningan yang justru lebih lantang dari teriakan.
Kidung Duka Airlangga menegaskan bahwa mahasiswa Unair tidak tinggal diam. Mereka merespons luka dengan refleksi, merespons kematian dengan kehidupan, dan merespons represivitas dengan solidaritas.
Meski jalan keadilan masih panjang, malam itu menjadi saksi bahwa harapan tidak pernah benar-benar padam. Dari Surabaya, suara kampus kembali menyapa negara dengan suara yang mengingatkan, menggugat, sekaligus merawat ingatan bahwa demokrasi hanya hidup ketika rakyat benar-benar didengar.
Advertisement