Ayah dan Anak Pameran Bersama di Galeri Merah Putih
Dua generasi seniman yakni I Ketut Gede Susila Widiastra dan putranya, I Made Daniswara Kenzie Satwika menampilkan karya mereka berupa lukisan di Galeri Merah Merah Putih, komplek Balai Pemuda Surabaya.
Sang ayah, Ketut (46 tahun), memamerkan lima lukisan bertema kehangatan sosial dan nostalgia budaya Bali dengan sentuhan realisme. Sementara, Kenzie (13 tahun) menghadirkan tujuh karya bernuansa seni tradisi dan identitas budaya Nusantara, khususnya Bali.
Dua belas lukisan itu mereka pajang di dinding Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda Surabaya, pada 6–11 Desember 2025.
Bagi Ketut, melukis pada awalnya hanyalah hobi sejak masa kecil ketika ia tinggal di Negara, Bali. Kegemarannya menggoreskan kuas terus bertahan hingga dewasa, menjadi pelarian di tengah kesibukannya di bidang teknik konstruksi. Ia menemukan ketenangan di saat setiap goresan garis dan warna yang ditorehkan, perlahan membentuk gambar yang bercerita di kanvas.
Segalanya berubah ketika ia melihat Kenzie kecil duduk di sampingnya, memperhatikan setiap gerakan kuas dengan mata berbinar. Sejak saat itu, Kenzie kecil mulai meniru aktivitas sang ayah. Ruang tamu keluarga pun resmi beralih fungsi menjadi studio kecil mereka.
Ketut biasanya larut menyempurnakan detail pemandangan, sementara Kenzie gemar bereksplorasi dengan bentuk-bentuk tradisi dan aneka warna cerah. Meski gaya keduanya berbeda, suasana yang tercipta tetap sama, nuansa kehangatan budaya.
Ayah dan anak ini saling belajar untuk spontanitas berkarya, berani mencoba, dan menciptakan seni dapat menjadi ruang bermain mereka tanpa batasan kaku. Bagi Kenzie, momen melukis bersama ayah adalah saat ia merasa paling diperhatikan dan paling didengarkan.
Dinding ruang keluarga pun dipenuhi karya lukis mereka yang menyimpan potongan cerita kehidupan. Setiap lukisan menjadi arsip emosi, setiap warna menyimpan percakapan visual yang tak pernah mereka ucapkan secara langsung.
Akhirnya, melukis tak lagi sekadar hobi bagi mereka. Ia adalah jembatan yang menghubungkan hati ayah dan anak sebagai bahasa tanpa kata yang terus hidup melalui warna yang tak pernah berhenti bercerita.(nto)
Advertisement