Artchemist Hadirkan Pameran Seni Virtual Dalam Game Roblox
Dunia seni di Surabaya tengah memasuki babak baru dengan hadirnya pameran seni virtual dalam platform game Roblox. Gagasan ini lahir dari komunitas seni Artchemist. Komunitas ini dikenal aktif menyelenggarakan pameran, diskusi, hingga berbagai acara lintas disiplin seni di ruang-ruang fisik.
Namun, kali ini mereka mencoba keluar dari pakem konvensional dengan meluncurkan Cenvio City. Sebuah ruang virtual yang menghadirkan galeri seni, ruang komunal, hingga hiburan interaktif berbasis gim.
Ide tersebut digagas oleh Habib Alamsyah, program manager Artchemist sekaligus penggerak utama Cenvio City. Ia mengaku perjalanan menuju kehadiran pameran seni di Roblox berawal dari pertemuan dengan teman-teman dekat dan keinginannya untuk mencoba medium yang berbeda.
“Aku awalnya memang pegiat teater. Tapi, aku suka merambah ke hal-hal seni lain. Nah, pas kenal teman-teman yang main Roblox, aku jadi kepikiran, kenapa nggak coba bikin ruang seni di sana? Apalagi Artchemist kan memang sering bikin acara. Jadi ini cuma mengalihkan medium saja,” katanya.
Habib, sapaan akrabnya, tidak berasal dari latar belakang dunia teknologi. Ia lebih dulu dikenal di lingkaran seni sebagai pegiat teater. Namun, kecintaannya terhadap seni lintas medium membuatnya tertarik menjajal ruang baru. Terutama ketika pandemi memaksa banyak kegiatan dialihkan ke ranah daring.
“Awalnya sih karena diajakin pacarku main Roblox. Aku kira Roblox itu cuma game. Tapi, setelah aku dalami, ternyata dia lebih mirip platform, semacam media sosial. Orang bisa bikin ruang, bisa bikin event, bisa bikin apapun di sana,” terangnya.
Pengalaman itu menumbuhkan ide bahwa Roblox bisa dijadikan medium alternatif untuk pameran seni. Terlebih, Habib melihat ada keterbatasan akses bagi sebagian orang untuk datang langsung ke pameran konvensional. Baik karena faktor jarak, waktu, maupun rasa enggan masuk ke ruang seni yang dianggap eksklusif.
“Banyak orang yang sebenarnya pengen lihat pameran, tapi merasa terasing,” jelasnya.
Ia menuturkan, ketika ada pameran seni, beberapa orang malu untuk datang sendirian, ada yang tidak pede, dan ada juga yang merasa acara seni yang ramai itu bukan untuk mereka.
Habib menjelaskan bahwa di Roblox semua orang bisa masuk dengan avatar, dapat juga dengan anonim, dan lebih nyaman. Disitu ide Habib untuk memfasilitasi orang-orang tersebut.
Membangun Dunia Virtual Cenvio City
Dari ide itulah lahir Cenvio City, proyek eksperimental Artchemist yang kini bisa diakses melalui pencarian langsung di Roblox. Habib bersama tim kecil yang terdiri dari lima orang membangun kota virtual ini sejak beberapa bulan lalu. Mereka merancang galeri seni, ruang komunal, hingga fitur hiburan sederhana seperti fitur memancing.
Meski masih dalam tahap alpha, pengunjung sudah bisa menjelajahi galeri dan ruang komunal yang ada. Pameran sementara menampilkan karya dari satu seniman, yaitu Deden. Ke depan, tim merencanakan open call agar seniman lain, baik yang sudah mapan maupun pendatang baru, dapat memamerkan karyanya di Cenvio City.
“Tapi nanti di tahap beta, kita akan open call. Layaknya pameran Artchemist biasanya, tapi kali ini lewat Roblox. Kita pengen ajak banyak seniman, bahkan yang rising star, supaya bisa tampil di sini,” imbuhnya.
Membangun dunia virtual di Roblox ternyata bukan perkara mudah. Selain membutuhkan kemampuan scripting dan desain 3D, ada pula biaya produksi yang harus ditanggung. Setiap publikasi ruang atau item di Roblox membutuhkan Robux, mata uang khusus dalam platform tersebut.
“Yang paling susah itu nyari orang yang jago 3D dan script,” kata Habib.
Selain itu, ternyata juga memerlukan biaya untuk produksi. Baik untuk membayar orang yang bikin maupun beli kebutuhan in-game. Untungnya, biaya itu dapat ditutup secara kolektif oleh Habib dan rekan-rekannya.
Habib menjelaskan, tim inti produksi sebenarnya hanya berjumlah tiga orang. Sisanya membantu dari sisi komunitas maupun pembiayaan. Semangat kolektif inilah yang membuat proyek Cenvio City bisa berjalan meski dengan keterbatasan.
Menarik Publik Lewat Roblox
Cenvio City dirancang bukan sekadar ruang pameran. Melainkan juga tempat nongkrong digital. Target audiensnya tidak terbatas pada seniman. Tetapi, juga komunitas pemain Roblox, khususnya dari Surabaya.
“Ada banyak teman yang main Roblox tapi sekadar share aja. Aku kepikiran, kenapa nggak bikin tempat nongkrong baru di sini? Jadi selain untuk pameran, bisa juga buat teman-teman kumpul walau terhalang jarak. Ada yang udah berkeluarga, ada yang di luar kota, jadi ini bisa jadi alternative,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa pendekatan lewat Roblox diharapkan mampu menjangkau mereka yang merasa asing dengan dunia seni. Melalui avatar, pengunjung bisa hadir tanpa khawatir soal identitas atau penampilan.
“Game itu kan memberi ruang untuk jadi siapa aja. Jadi bisa lebih nyaman,” ujarnya.
Habib mengakui, pameran seni di Roblox tentu berbeda dengan pameran konvensional. Salah satu keunggulan utamanya adalah soal akses. Siapapun bisa masuk hanya dengan membuat akun Roblox, tanpa perlu datang langsung ke galeri.
“Kalau di pameran fisik, ada yang malu datang sendiri. Di Roblox, lebih gampang karena cukup login,” jelasnya.
Kemudian pameran seni virtual seperti ini menurutnya memiliki biaya produksinya yang lebih ringan.
“Kalau instalasi di ruang nyata kan perlu tenaga, butuh biaya besar. Sedangkan di Roblox, cukup lewat script dan desain,” terang Habib.
Namun demikian, ia tidak menampik bahwa tantangan baru tetap muncul. Mulai dari teknis coding, kurasi konten, hingga penyesuaian dengan kebijakan Roblox yang cukup ketat dalam mengatur ruang-ruang yang dibuat penggunanya.
Menuju Beta Test
Cenvio City saat ini sudah dapat diakses publik dalam versi alpha test. Meski masih dalam tahap awal, tim Artchemist optimistis mengembangkan proyek tersebut ke tahap berikutnya. Direncanakan, versi beta akan diluncurkan dalam waktu dua minggu ke depan.
Pada fase itu, fitur-fitur baru akan ditambahkan. Mulai dari sistem ekonomi dalam permainan, pergantian siang dan malam, perluasan peta, hingga penyelenggaraan event seni dan musik yang lebih terstruktur.
“Kemarin kita alpha test tanggal 10, sekarang kita lagi ngebut untuk beta,” ujar Habib.
Ia menjelaskan bahwa tahap beta akan menjadi momentum penting karena bersamaan dengan open call pameran yang memungkinkan seniman lain turut serta.
“Kita rencana open call pameran di dua minggu dari sekarang. Jadi nanti selain karya rupa, juga ada musik. Kita pengen nuansanya Surabaya banget,” tambahnya.
Untuk menuju tahap beta, tim kecil yang menggarap Cenvio City masih terus melakukan produksi intensif. Salah satu fokus mereka saat ini adalah memperbaiki sistem pencahayaan agar pemain bisa merasakan siklus siang dan malam secara lebih realistis. Selain itu, ukuran peta juga akan diperluas sehingga pengunjung memiliki ruang eksplorasi yang lebih besar.
“Kita publish dulu biar traffic-nya kerekam dari awal, sayang kalau udah rilis tapi disembunyikan,” ujarnya.
Di balik keseriusan dan kerja keras tersebut, Habib menekankan bahwa proyek ini tetap lahir dari semangat bersenang-senang. Sama seperti kegiatan Artchemist sebelumnya, Cenvio City dibangun untuk menghadirkan ruang kreatif yang menyenangkan bagi publik.
“Kita cuma having fun aja, seperti artis-artis biasanya. Tujuannya cuma seneng-seneng. Filosofinya nggak muluk-muluk. Artchemist itu memang suka bikin sesuatu bareng-bareng, kumpul, ketawa, dan akhirnya jadi karya,” katanya.
Lebih jauh, ia berharap kehadiran Cenvio City dapat memberikan pengalaman baru dalam menikmati seni. Tidak hanya bagi mereka yang telah akrab dengan dunia seni. Tetapi, juga bagi masyarakat yang selama ini mungkin merasa asing dengan pameran konvensional. Melalui dunia virtual, publik bisa lebih mudah menjelajah, berinteraksi, sekaligus bersantai.
“Kami ingin semua orang bisa menikmati seni dengan cara yang lebih inklusif,” tutur Habib.
Ke depan, Habib dan Artchemist berencana memperluas cakupan Cenvio City dengan melibatkan lebih banyak seniman. Baik dari Surabaya maupun daerah lain. Mereka juga ingin menjadikan platform ini sebagai ruang kolaborasi lintas disiplin, termasuk musik dan seni digital.
“Harapannya semoga teman-teman bisa seneng nongkrong di Cenvio City. Semoga waktu beta nanti, disambut sama seniman rupa dan musik di Surabaya. Kita akan evaluasi pameran pertama ini, baik dari sisi server Roblox maupun programnya. Mudah-mudahan banyak yang kunjungi,” pungkasnya.
Dengan semangat itu, Cenvio City diharapkan menjadi alternatif baru dalam menikmati seni. Sekaligus, memperluas akses bagi masyarakat yang selama ini merasa terbatasi. Pameran seni di Roblox mungkin terdengar asing. Tetapi bagi Artchemist, inilah cara untuk menjembatani seni dan publik dengan cara yang lebih segar dan relevan di era digital.
Advertisement