Lebih Dekat dengan Mantan Pendeta Agustinus Christover Kainama

Feature

Rabu, 21 Maret 2018 15:08 WIB

Pendeta Agustinus Christovel Kainama, masuk Islam tahun 2009, bersamaan dengan  bulan suci Ramadhan. Keputusannya menjadi muslim, bukan karena mendengarkan lantunan dan mempelajari  Al-Quran, melainkan karena ia memperdalam Injil sebagai kecintaannya kepada Yesus.

Nyong Ambon ini  pernah belajar  Al-kitab di Sekolah Tinggi Theologi di menteng jakarta pusat, TNKH (tanakh, torah nevi'im ketubh'vim) biblical study di Haifa Palestina, Leiden Universitaat negeri Belanda (Theology Liturgy), dan kembali lagi ke TNKH (tanakh, torah nevi'im ketubh'vim) biblical study di Haifa, Palestina.

Semuanya atas biaya  Gereja Zebaot, Bogor, gereja di mana ia bertugas menjadi pendeta sejak tahun 2005  sampai menjadi orang sukses.

Apa yang membuat ia berubah?  Rupanya setelah ia mempelajari Injil. Dari situ ia memahami Nabi Isa ternyata juga menjalankan puasa, shalat, disunat, wudhu, tahajud dan bersedekah. “Semua itu dilakukan pula oleh umat Islam,” ujarnya. Saat sudah begitu dalam mengkaji Injil, ia malah memutuskan menjadi muslim karena apa yang dilakukan oleh Yesus.

Baginya itu adalah keputusan yang tepat. Apalagi sejak tahun 2000 pondasi keimanannya sebenarnya mulai runtuh lantaran ia memahami surat Yohanes 21 ayat 15 yang menjelaskan "sesudah sarapan, Yesus berkata kepada Petrus. Petrus apakah engkau mengasihi aku".

Pertanyaannya, apabila Yesus adalah Tuhan seharusnya Dia tidak makan, karena ia bukan manusia. Tapi dalam ayat tadi disebutkan Yesus makan. Akhirnya Kainama mengambil kesimpulan bahwa Yesus bukan Tuhan.

Tahun 2000 sampai 2010 ialah masa tersulit bagi Kainama. Ia mengalami tekanan batin karena harus menceritakan kebohongan kepada orang-orang ketika masih menjadi sorang pendeta.

Namun sejak keimanan goyah pada tahun 2000, ia belum berani menyatakan masuk  agama Islam. Ia merasa nyalinya masih kecil, ia tidak tahu harus berbuat apa karena selama ini kehidupannya dibiayai oleh Gereja.

Tapi penolakan batinnya begitu kuat.  "Pernah pada suatu kali, ketika saya ada perjalanan pekabaran Injil di Orchad, Singapura. Saat saya mau khotbah, tiba-tiba saya ketakutan, berkeringat dan gemetar dan kemudian saya memegang pinggir mimbar, sampai-sampai orang-orang yang menyaksikan mengatakan saya disentuh Roh Kudus," kenang Kainama. Padahal, sama sekali bukan. Ia ketakutan lantaran tak sanggup lagi melakukan kebohongan, sesuatu yang bertentangan dengan batinnya.

Atas petunjuk Allah, akhirnya keputusannya untuk memeluk Islam kian bulat. Ia mendatangi Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng Jakarta Pusat,  untuk membaca Syahadat dan menjadi mualaf.

Dalam buku hariannya tertulis  dia  masuk Islam  dan pertama kali membaca kalimat Syahadat pada tanggal 26 Agustus 2009, bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, bertempat di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng Jakarta Pusat.

Setelah menjadi muslim, kehidupannya berubah. Ia merasa keyakinannya diuji karena tidak ada satu orang pun keluarganya yang menerima ia menjadi sorang muslim. Ia hidup sendiri, lontang lantung  tanpa pekerjaan, tanpa uang, dan tanpa fasilitas yang selama ini  ia miliki seperti mobil, dan baju-baju.

Sampai ia harus tinggal menumpang di Sekolah Legenda Wisata (Global Mandiri), Cibubur, dan ia tidur di studio musik. Namun ia tetap pada pendiriannya. Kemampuannya bermusik pun akhirnya malah membuat ia diterima menjadi pengajar di studio musik sekolah tersebut.

Meski keluarga semuanya memusuhi, dan fasilitas yang ia miliki hilang, tapi ia merasa bersyukur karena Allah telah memberikan hidayah dan kedamaian batin kepadanya. Ia beryukur telah terlahir kembali menjadi seorang muslim dan meyakini telah berada di jalan yang benar.

Berjalan dari titik nol, setelah   menjadi seorang mualaf, tidak membuat Kainama menderita. Karena ada kekayaan lain yang luar biasa besarnya,  yakni dua  kalimat  Syahadat, pembuka jalan menuju kebenaran.

Christover Kainama saat memberi tausiyah pada para remaja di Kemang, Jakarta. (foto: anggie ps)
Christover Kainama saat memberi tausiyah pada para remaja di Kemang, Jakarta. (foto: anggie ps)

Tim Editor

M. Anis

Reporter

Publisher belum ada

Berita Terkait

Kamis, 10 November 2022 21:38

Ikhtiar Pemkot Surabaya Perangi Kemiskinan Lewat Padat Karya

Senin, 24 Oktober 2022 07:57

“Saya Mengawal 5.000 Bal Tembakau ke Jerman Naik Kapal”

Minggu, 23 Oktober 2022 16:30

Tragedi Kanjuruhan, Babak Baru Sepak Bola Nasional

Jumat, 21 Oktober 2022 10:05

Diperlukan Rasa Cinta untuk Mengolah Tembakau Besuki

Bagikan Berita :